Hadapi Krisis Pangan Tahun 2023, Pemkab Pali Tanam Singkong

Tabloid-DESA.com, PALEMBANG – Kondisi Dunia akan mengalami krisis pangan. Diperkirakan dalam 8-12 bulan ke depan krisis ini melanda beberapa negara termasuk Indonesia. Selain karena gangguan rantai pasok, krisis ini diperparah dengan persediaan pupuk dunia.

Ketidakpastian kondisi ekonomi global membuat krisis pangan di tahun depan akan semakin berat dibanding sekarang. Masyarakat kalangan bawah pernah mengalami krisis itu, salah satunya adalah kekurangan pasokan minyak sayur di pasaran yang mengakibatkan antian panjang untuk mendapakan kebutuhan pokok ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan, “Dalam pertemuan G20 diprediksikan krisis pangan tahun depan mungkin akan jauh lebih berat,” ujarnya dalam Seminar Nasional Badan Keahlian DPR RI, Kamis (20/10) pekan lalu.

Menurutnya, perang Rusia dan Ukraina yang masih terus terjadi menjadi salah satu penyebab krisis pangan di 2023 kemungkinan akan lebih berat dibandingkan tahun ini.

Sri Mulyani bilang, Ukraina sebagai pemasok terbesar kebutuhan pangan dan pupuk untuk dunia, membuat saat ini harga pangan juga sudah melambung tinggi.

“Karena akses terhadap pupuk yang sekarang ini sangat-sangat terkendala akan mempengaruhi jumlah dari bahan pangan, tidak hanya tahun ini tapi justru tahun depan. Ini yang perlu kita waspadai,” kata Sri Mulyani.

Hadapi Krisis Pangan

Pemerintah dipastikan akan tetap fokus pada upaya menciptakan ketahanan pangan, baik dari ketersediaan, akses, dan kualitas konsumsi dari hulu sampai hilir. Salah satunya food estate yang tengah dikembangkan dengan memadukan potensi yang dimiliki lahan dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Di sini yang penting kami kembangkan adalah petani tergabung di korporasi supaya lebih produktif dari sisi lahan, tenaga kerja, dan hilirisasinya. Jadi kita bekerja bersama menghadapi ancaman krisis pangan setelah pandemi ini,” ujar Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Arifin Rudiyanto.

Untuk meningkatkan produktivitas lahan, dia juga memastikan melakukan evaluasi pada penyaluran subsidi pupuk agar tepat sasaran. Meski banyak kritikan perihal penyaluran subsidi pupuk yang tidak tepat sasaran pihaknya melakukan evaluasi setiap tahunya.

“Yang dilakukan seperti transformasi adalah mengubah sistem, dari subsidi ke komoditi, masalahnya pada akurasi dari data itu. Kita harus lihat betul berapa lahan yang harus diberikan subsidi dan jumlah petaninya. Saat ini kami sudah update data dan tidak hanya data numerik statistik, dan juga data spasial. Sehingga akurasinya lebih tepat,” jelasnya.

Selanjutnya pemerintah akan menghitung jumlah pupuk yang harus tersedia dan berapa yang tersubsidi dan berapa yang tidak disubsidi. Dia menyebutkan permasalahannya selama ini adalah akurasi pendataan.

“Kami juga mengembangkan pupuk yang organik di beberapa kabupaten yang sudah jalan seperti di Bali, dimana pemerintah daerah setempat memberikan insentif buat pupuk organik,” pungkas Arifin.

Kab. PALI Siapkan Lahan, Tanam Ubi

 

Sebagai bentuk persiapan menjelang isu krisis pangan global yang diprediksi bakal melanda sejumlah negara di dunia tahun 2023 mendatang, Pemerintah kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mulai mempersiapkan lahan untuk menanam ubi.

Pemkab PALI juga mendorong masyarakat agar menanam ubi kayu atau singkong jenis konsumsi, agar rakyat di Bumi Serepat Serasan bisa memakannya.

Pengembangan tanaman ubi ini mulai digerakkan Pemkab PALI dan mengajak masyarakat untuk menanam ubi kayu jenis konsumsi minimal memanfaatkan pekarangan rumah.

Bahkan bentuk keseriusan Pemkab PALI, Bupati PALI Dr Ir H Heri Amalindo MM pun mulai membuka lahan di sekitar kantor bupati untuk ditanami ubi kayu.

“Tujuan kami menggerakkan masyarakat untuk menanam ubi kayu di pekarangan rumah atau lahan tidur supaya ada nilai tambah bagi masyarakat selain mengandalkan tanaman karet,” tutur Bupati di suatu kesempatan.

Selain itu, Bupati juga mengajak seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar menanam ubi di sekitar kantornya.

“Masyarakat perlu ada contoh, untuk itu dari pegawai Pemkab PALI diajak tanam ubi di sekitar perkantoran supaya bisa menarik minat masyarakat,” imbuhnya.

Ahmad Jhoni Plt Kepala Dinas Pertanian kabupaten PALI menyatakan pihaknya menyiapkan lahan seluas satu hektar di sekitar kantor bupati yang saat ini digarap dan rencananya akan ditanami ubi kayu pada akhir pekan ini.

“Seusai arahan pak bupati untuk meningkatkan hasil pangan dalam mengantisipasi krisis pangan dunia, kita genjot produksi ubi kayu jenis konsumsi. Sebab peluang menanam ubi selain bisa dikonsumsi langsung, juga bisa diolah dengan berbagai macam olahan pangan,” terang Ahmad Jhoni. *