Jokowi Geram lantaran kinerja ekspor aluminium serta panel surya

ilustrasi Presiden Jokowi dan energi terbarukan Panel Surya _ sumber foto sekertariat kabinet

Tabloid-Desa.com – Presiden Jokowi mengaku geram lantaran kinerja ekspor aluminium serta panel surya domestik berada di urutan masing-masing ke-33 dan 31 dunia. Malahan sebagian besar bahan baku pembentuk dua produk itu dijual ke Tiongkok.

Di sisi lain, Presiden Jokowi menyayangkan, justru ekspor bijih bauksit domestik berada di posisi ke-3 dunia. Artinya, sebagian besar bahan mentah itu belum terhilirisasi dengan optimal di dalam negeri.

“Indonesia ini ekspor bahan mentah bauksit nomor tiga di dunia, tetapi ekspor aluminium kita nomor 33. Mentahannya nomor tiga, barang jadinya 33,” kata Presiden Jokowi saat membuka Mandiri Investment Forum, Jakarta, awal tahun ini.

Presiden Jokowi menambahkan, potensi nilai tambah yang bisa diambil Indonesia lewat industrialisasi panel surya dapat mencapai 194 kali dari nilai ekspor bahan mentah.

“Kalau ini kita kerjakan, panel surya itu nilai tambahnya sampai 194 kali. Perkaliannya coba nikel sudah 33 kali, yang ini 194 kali,” tuturnya.

Seperti diketahui, Kementerian Perdagangan mencatat ekspor pasir silika ke Tiongkok sempat menyentuh di angka 1,39 juta ton pada 2021. Saat itu, nilai ekspor ditaksir mencapai di angka USD23,18 juta.

Terkait pengembangan energi surya, Dewan Energi Nasional telah mendorong pembangunan pabrik panel surya pertama di Indonesia, lewat kerja sama BUMN dengan swasta. DEN sudah memegang komitmen PT Len Industri (Persero), PT PLN Indonesia Power, dan PT Agra Surya Energy untuk berinvestasi pada pembangunan pabrik panel surya tahun ini.

“Kita sudah lakukan feasibility study, kita butuh dana Rp4 triliun untuk membangun pabrik untuk modul surya itu,” kata Sekretaris Jenderal DEN Djoko Siswanto di Jakarta, beberap waktu lalu.

Djoko mengatakan, inisiasi pembentukan pabrik panel surya menjadi krusial di tengah impor komponen bahan baku yang terbilang tinggi dari Tiongkok. Indonesia justru melakukan ekspor pasir silika sebagai salah satu bahan dasar pembentuk komponen panel surya yang relatif besar ke Tiongkok.

“Selama ini kita hanya instalasi begitu, perakitan saja, kalau sekarang masih impor kita belum punya pabrik itu, kita akan bangun pabrik itu,” tuturnya.

Komitmen Indonesia

Komitmen Indonesia untuk mengembangkan energi bersih, salah satunya dengan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS. Pasalnya sebagai negara yang berada tepat di garis khatulistiwa, Indonesia kaya dengan sumber energi itu.

Sebagai informasi, sumber listrik nasional masih didominasi oleh pembangkit berbasis batu bara. Dari berbagai potensi energi terbarukan, potensi tenaga surya menjadi yang terbesar, yakni mencapai 3.294 megawatt (MW).

Meski begitu, pemanfaatan tenaga surya untuk listrik tercatat baru 0,01 persen. Sementara itu, panas bumi potensinya 23,9 gigawatt (GW) telah dimanfaatkan 9,6 persen. Sedangkan energi hidro dengan potensi 95 GW telah dimanfaatkan 7 persen.  (*)

 

* Tulisan ini dilansir dari indonesia.go,id dengan judul “Potensi Raksasa Industri Panel Surya”