Krisis Air Mengancam Dunia, Siapkah Kita Menghadapainya ?

krisis air - banjir ilustrasi

Tabloid-DESA.com. JAKARTA -Krisis air global mengancam sebagian besar negara di dunia. Tidak semunaya siap menghadapi krisis air seperti banjir dan kekeringan yang diperkirakan akan semakin parah dengan adanya perubahan iklim.

Menurut laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih diperkirakan akan melebihi 5 miliar pada tahun 2050. Perlambatan pasokan air dan ancaman kekeringan tentunya juga akan mempengaruhi ketahanan pangan global.

Di sisi lain, kebutuhan pangan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia akhir-akhir ini. Karena itu, di tengah krisis air global, Indonesia terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara kegiatan World Water Forum (WWF) ke-10 pada 3–9 Juni 2024 mengangkat tema “Water for Shared Prosperity”. Tema ini sangat penting dalam situasi saat ini, dimana akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan bagi banyak negara.

Selain memperkuat posisi Indonesia dalam pengelolaan sumber daya air, WWF merupakan konferensi air internasional terbesar dimana pengelolaan sumber daya air didiskusikan dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, swasta, peneliti dan masyarakat.

“Forum ini inklusif dan semua pemangku kepentingan di komunitas air berpartisipasi. Melalui WWF kami ingin menekankan bahwa air adalah politik. Air bukan hanya masalah teknis tetapi juga masalah politik. Ini bisa menjadi platform penentu yang mengutamakan air,” ujar Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Endra S. Atmawidjaja.

Forum yang diinisiasi oleh World Water Council (WWC) ini berlangsung setiap tiga tahun sekali dan diselenggarakan secara rutin sejak tahun 1997. Melalui forum tersebut, Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kerjasama multi pihak untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu hak atas air bersih dan sehat.

Tanggal dimulainya acara WWF 2024 diadakan di Jakarta pada 15-16 Februari 2023. Indonesia membawa enam topik pembahasan dalam organisasi WWF. Hasil diskusi harus menjadi dasar untuk kebijakan penyediaan air. Baik di tingkat nasional maupun internasional dengan negara-negara anggota.

Sebagai subjek hubungan antara manusia dan lingkungan. Mendorong perilaku masyarakat untuk tetap hijau tanpa merusak lingkungan dan memperkuat tindakan perlindungan di area kritis.

Endra mencontohkan, bencana banjir yang terjadi di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo beberapa bulan lalu merupakan akibat dari ketidakharmonisan hubungan antara manusia dan alam. Urbanisasi yang berkembang telah menyusutkan area tanah yang seharusnya menjadi badan air.

Terkait dengan keamanan pasokan air bersih (water security), Indonesia ingin mendorong negara-negara anggota WWF untuk bekerja sama menjamin ketahanan air, ketahanan pangan, kecukupan pasokan air bersih dan sanitasi yang layak.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air juga merupakan bagian dari pengurangan risiko bencana dan pengurangan konflik di tingkat regional, nasional, dan global. Karena itu, diperlukan kerjasama untuk mengelolanya.

Endra Atmawidjaja mencontohkan Sungai Rhein di Eropa. Kepalanya berasal dari Pegunungan Alpen di wilayah Grisons di Swiss. Sungai mengalir dari Republik Ceko ke Jerman. Begitu juga banyak sungai besar yang melintasi China hingga Vietnam. Kondisi serupa juga ada di benua Afrika. Topik diskusi lain di WWF adalah masalah pembiayaan air bersih ini dan memaksimalkan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. (*)