DAERAH  

Petani di Kawasan Hutan Kembangkan Wisata Agroforestry di Dempo, Kok Bisa ?

wisata agroforestry hkm kibuk

Tabloid-Desa.com, LAHAT – Gunung Dempo telah menjadi tempat wisata yang terkenal dengan keindahan alam pegunungannya. Wisata Agroforestry jadi solusi dimana aktivitas pertanian masyarakat berpadu berdampingan dengan tetap menjaga kelestarian dan keindahan alam.

Pengembangan Wisata Agroforestry mulai dikembangkan di Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan. Tepatnya di Hutan Kemasyarakatan (HKM) Kibuk yang telah mendapat hak kelola Perhutanan Sosial. Para petani memanfaatkan lahan dengan menanam sayur, kopi, dan tanaman hutan bukan kayu dengan konsep Agroforestry.

Rusi Siruadi (48), Sekertaris HKM Kibuk mengatakan, potensi pengembangan wisata sangat besar. Selain keindahan alamnya, wisatawan dapat terlibat dengan aktifitas petani kopi dan sayuran. Bertani mungkin menjadi hal yang biasa bagi kami, namun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Rencana pengembangan wisata Agroforestry telah tertuang dalam Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) HKM Kibuk. Bersama dengan Hutan Kita Institute (HaKI), kini Kibuk telah memiliki camping ground dan fasilitas pendukung wisata Agroforestry lainnya.

Desa Wisata Agroforestry
Kebun Kopi Agroforestry di HKM Kibuk, Agung Lawangan, Pagaralam, Sumatera Selatan.

Direktur Program dan Jaringan HaKI Deddy Permana mengatakan, Perhutanan Sosial telah menjadi solusi bagi petani yang sudah terlanjut berkebun di kawasan hutan. Perizinan hak kelola yang diberikan kepada masyarakat semestinay ditindaklanjuti dengan pengelolaan yang memberi dampak positif untuk kesejahteraan, ekologi, dan sosial budaya.

“Pengembangan jasa lingkungan menjadi salah satu pilihan pengembangan perhutanan sosial pasca izin. Seperti di HKM Kibuk, pengelolaan Kopi Agroforestry petani dengan keindahan alam gunung dempo tentu menjadi potensi wisata yang patut dikembangkan,” katanya.

Semangat petani HKM Kibuk membuat heran petani sekitarnya. Bagaimana petani di kawasan hutan yang biasanya berkonflik, kini bisa bertani dengan tenang, bahkan mengembangkan wisata pula?

Rasa iri dan tanda tanya itu setidaknya menjadi pertanyaan petani Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Mereka tidak malu mengatakan iri, dan belajar kepada pengurus HKM Kibuk. Walaupun berbeda kabupaten-kota, lahan garapan petani Tanjung Sakti Lahat dan Agung Lawangan Pagaralam bersebelahan.

Aditya Nugroho dan kawan petani lainnya dari Tanjung Sakti mengikuti jejak petani Kibuk. Mereka membuat kelompok tani dan mengajukan Perhutanan Sosial kepada Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Bagaimana bisa maju pertanian di sini kalau tidak ada pengakuan dari pemerintah. Karena itu, kami belajar dari tetangga kami, HKM Kibuk yang lebih dahulu mendapat SK Perhutanan Sosial,” kenang Aditya.

Air Terjun di Lokasi HKM Ayek Bahu, Tanjung Sakti, Lahat, Sumatera Selatan.
Air Terjun di Lokasi HKM Ayek Bahu, Tanjung Sakti, Lahat, Sumatera Selatan.

Kini, mereka bersyukur telah mendapat SK Perhutanan Sosial dari Menteri LHK seluas 267 hektar pada Juni 2021 lalu. Mereka menamakannya HKM Ayek Bahu. sebagian besar lahan garapan tersebut telah ditanami kopi dan sayuran.

Koordinator Program Perhutanan Sosial HaKI Bejo Dewangga mengatakan, HKM Ayek Bahu sedang proses menyusun Rencana Kerja Perhutanan Sosial. Dalam perencanaannya akan dilakukan juga pengembangan kebun Agroforestri dan wisata.

Menurut Bejo, HKM Ayek Bahu tidak jauh berbeda dengan HKM Kibuk. Memiliki tanah yang subur dan cocok untuk pengembangan kopi dan sayuran. Serta keindahan alamnya yang mendukung untuk pengembangan wisata. Terdapat beberapa air terjun dan salah satunya cukup tinggi.

“Potnesi-potensi pengembangan Perhutanan Sosial yang ada dimasukkan dalam draf rencana kerja perhutanan sosial, dan dimusyawarahkan dengan anggota HKMnya,” ujar Bejo saat memfasilitasi penyusunan RKPS HKM Ayek Bahu, beberapa waktu lalu. (*)