Oleh: Dr.Idmar Wijaya,S.Ag.,M.Hum
Dosen Prodi KPI FAI UM Palembang , Wk.Ketua PDM Palembang,
Wk Sekretaris MUI Palembang
A. Pengantar
TABLOID-DESA.COM–Kisah Nabi Musa AS melawan tukang-tukang sihir Fir’aun adalah salah satu peristiwa monumental yang diceritakan dalam Al-Qur’an (terutama dalam Surah Al-A’raf ayat 115-122, Thaha ayat 65-69-, dan Asy-Syu’ara ayat 36-38). Peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT dan perbedaan antara mukjizat Ilahi dengan tipu daya sihir.
B. Tantangan dari Fir’aun
Fir’aun, raja Mesir yang sombong dan mengaku sebagai tuhan, menolak ajakan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menyembah Allah. Ketika Nabi Musa menunjukkan mukjizatnya (tongkat menjadi ular dan tangannya memancarkan cahaya), Fir’aun dan para pembesar kerajaannya menganggapnya sebagai sihir yang hebat.
Fir’aun kemudian menantang Nabi Musa untuk beradu kehebatan dengan mengumpulkan seluruh ahli sihir terbaik dari seluruh negerinya
C. Hari Pertandingan
Waktu dan Tempat: Nabi Musa memilih hari raya (hari di mana orang banyak berkumpul) dan waktu Duha (pagi hari yang terang benderang) agar semua orang dapat menyaksikan dengan jelas dan tidak ada keraguan.
Persiapan Tukang Sihir: Para tukang sihir berdatangan dalam jumlah besar. Mereka meminta imbalan yang besar dari Fir’aun jika berhasil mengalahkan Musa dan Fir’aun memperkenankan permintaan para tukang sihir.
D. Adu Kekuatan
Aksi Tukang Sihir: Nabi Musa mempersilakan para tukang sihir untuk memulai lebih dulu. Mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ke arena. Dengan sihir mereka, benda-benda itu terlihat oleh mata orang banyak (termasuk Nabi Musa pada awalnya) seolah-olah bergerak cepat dan merayap seperti ular-ular yang banyak.
Mukjizat Nabi Musa: Atas perintah Allah SWT, Nabi Musa melemparkan tongkatnya. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular besar yang nyata (tsu’banun mubin) yang kemudian melahap habis semua ular-ular palsu hasil sihir para tukang sihir tersebut
E. Dampak dan Keimanan
Kekalahan dan Kesadaran: Para tukang sihir, sebagai orang yang paling mengerti tentang batas-batas sihir, segera menyadari bahwa apa yang dilakukan Musa bukanlah sihir manusia, melainkan suatu kekuatan luar biasa (mukjizat) dari Tuhan semesta alam. Sihir hanya mampu menyulap mata, namun mukjizat Musa mengubah benda itu menjadi ular sungguhan yang menelan tipuan mereka.
Bersujud dan Beriman: Tanpa ragu, para tukang sihir itu serentak bersujud dan menyatakan keimanan mereka kepada Allah, Tuhannya Musa dan Harun. Mereka memilih kebenaran meskipun harus menghadapi murka Fir’aun.
F. Reaksi Fir’aun
Fir’aun sangat marah dan merasa terhina. Ia mengancam para tukang sihir yang telah beriman itu dengan siksaan yang kejam, yaitu memotong tangan dan kaki mereka secara bersilangan, lalu menyalib mereka. Namun, keimanan yang baru saja merasuki hati para tukang sihir itu membuat mereka teguh dan tidak takut pada ancaman Fir’aun. Mereka berkata, bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, dan balasan Allah jauh lebih baik dan kekal daripada siksaan Fir’aun
G. Pelajaran yang diambil
1. Nabi Musa As berjuang sendirian untuk menghancurkan kemungkaran, tapi Musa hanya memohon pertolongan Allah SWT dan Allah Swt menurunkan bala bantuannya untuk menghancurkan kemungkaran Fir’aun.
2. Fir’aun memiliki kekuasaan yang sangat besar, semua ia miliki, saking besar kekuasaannya Fir’aun mengaku menjadi Tuhan minta untuk disembah.
3. Sihir yang diperankan oleh para tukang sihir Fir’aun itu hanyalah permainan mata saja. Di era sekarang bukan adu sihir lagi tapi orang adu gagasan dan keahlian.
4. Sehebat apapun kemungkaran serta permainan yang dimainkan Fir’aun pasti hancur jika sudah saatnya dan pasti ada orang yang datang menghancurkannya.
5. Sebagai insan kamil berbuat baiklah, jauhi buruk sangka karena Fir’aun juga berburuk sangka kepada Nabi Musa AS, akhirnya buruk sangka juga pasti hancur dan binasa.
Editor: Sarono P Sasmito










