Mendidik Generasi Tangguh Melalui AI dan Pertanian Presisi

 

Oleh: Dr. Apit Fathurohman, S. Pd., M. Si
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya

TABLOID-DESA.COM—Krisis pangan global menjadi tantangan serius di tengah perubahan iklim dan ketimpangan teknologi. Namun di balik ancaman itu, tersimpan peluang baru bagi dunia pendidikan untuk berperan aktif menanamkan kesadaran pangan dan sains sejak dini.
Pendidikan dasar bukan hanya tempat anak belajar membaca dan berhitung, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan cara pandang ilmiah, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

Langkah konkret ini tengah dimulai di SD Negeri 27 Palembang, di mana guru dan siswa bersama-sama merancang alat peraga pertanian presisi sederhana berbasis sensor dan mikrokontroler Arduino. Di sekolah tersebut, kecerdasan buatan (AI) juga digunakan untuk membuat LKPD adaptif yang menyesuaikan soal dengan kemampuan masing-masing siswa.

Anak-anak belajar memantau kadar air tanah, memahami siklus pertumbuhan tanaman, dan menautkannya dengan data digital yang mereka hasilkan sendiri. Hasilnya bukan sekadar peningkatan pemahaman sains, tetapi juga tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap alam dan pangan.

Pendidikan yang Relevan dengan Zaman

Salah satu masalah terbesar pendidikan Indonesia adalah jarak antara dunia belajar dan dunia nyata.
Selama ini, pembelajaran sains sering berhenti pada teori, tanpa memberi ruang bagi siswa untuk melihat relevansinya dalam kehidupan. Padahal, kurikulum Merdeka Belajar sudah memberi peluang besar untuk menjembatani hal itu melalui pembelajaran kontekstual dan proyek.

Ketika AI dan pertanian presisi masuk ke kelas dasar, maka jembatan itu mulai terbentuk. Anak-anak bukan hanya membaca buku IPA, tetapi memegang sensor tanah, melihat data kelembapan melalui layar, dan memahami bagaimana logika otomatisasi bekerja.

Mereka belajar berpikir seperti ilmuwan, bertindak seperti petani, dan berdiskusi seperti warga yang bertanggung jawab atas bumi. Inilah pendidikan abad ke-21 yang sesungguhnya: pendidikan yang mengajarkan sains sekaligus makna kehidupan.

Guru sebagai Inovator, Bukan Sekadar Pengajar

Transformasi pendidikan tidak bisa terjadi tanpa guru yang berani berinovasi.
Program di SD Negeri 27 Palembang menunjukkan bahwa ketika guru diberi ruang bereksperimen, hasilnya menakjubkan. Dengan bimbingan dosen dan mahasiswa Universitas Sriwijaya, guru berhasil membuat alat irigasi otomatis, media belajar digital, hingga LKPD berbasis AI yang bisa digunakan tanpa harus bergantung pada jaringan internet mahal.

Penting disadari bahwa inovasi pendidikan tidak harus berawal dari teknologi canggih. Ia lahir dari rasa ingin tahu dan keberanian mencoba.
Guru yang berani mencoba akan melahirkan pembelajaran yang hidup, sedangkan guru yang hanya menunggu pelatihan akan terus tertinggal.

Kebijakan pendidikan seharusnya memberi insentif bagi guru yang berinovasi — bukan hanya yang mengikuti aturan. Program Merdeka Belajar sebaiknya tidak berhenti pada slogan, tapi memberi dukungan konkret berupa sarana, pelatihan berkelanjutan, dan jaringan kolaborasi.

AI untuk Pendidikan yang Adaptif

Kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar tren global, melainkan kenyataan yang membentuk masa depan pembelajaran.
Di Indonesia, AI berpotensi besar membantu guru memahami kebutuhan siswa. Dengan sistem adaptif, AI bisa menyesuaikan soal dan materi sesuai kemampuan masing-masing anak. Guru dapat memetakan potensi dan kesulitan siswa tanpa harus mengorbankan waktu tatap muka.

Namun penting ditekankan: AI bukan pengganti guru.
AI hanya alat bantu yang mempercepat, sedangkan nilai kemanusiaan tetap berada di tangan pendidik.
Guru-lah yang menanamkan empati, karakter, dan makna — hal-hal yang tidak mungkin dilakukan mesin.

Penggunaan AI di sekolah dasar seperti di Palembang membuktikan bahwa teknologi bisa berjalan seiring dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Anak-anak tidak kehilangan sentuhan kemanusiaan, justru semakin menghargai proses belajar sebagai pengalaman hidup yang menyenangkan.

Membangun Ketahanan Bangsa dari Sekolah

Ketahanan pangan nasional sejatinya berakar pada kesadaran warga akan pentingnya pangan dan lingkungan.
Jika kesadaran itu sudah tumbuh sejak SD, maka dalam dua dekade ke depan Indonesia akan memiliki generasi yang tidak hanya cerdas digital, tetapi juga tangguh dan mandiri.

Program pembelajaran berbasis pertanian presisi dan AI di Palembang adalah contoh kecil dari revolusi pendidikan yang dimulai dari bawah.
Kita tidak perlu menunggu perubahan besar dari pusat, karena inovasi bisa tumbuh di ruang-ruang kelas yang sederhana.

Tugas pemerintah adalah memastikan setiap sekolah memiliki akses terhadap pelatihan, dukungan teknis, dan ruang kolaborasi agar inovasi serupa dapat menyebar ke seluruh Indonesia.
Jika sekolah dasar sudah mampu menanamkan logika berpikir ilmiah, nilai tanggung jawab, dan keterampilan digital, maka krisis pangan di masa depan bisa dihadapi dengan lebih percaya diri.

Dari Ruang Kelas Menuju Masa Depan

Pendidikan yang relevan dengan zaman adalah pendidikan yang menumbuhkan harapan.
Anak-anak di SD Negeri 27 Palembang bukan hanya belajar sains, tapi juga belajar menjadi manusia yang mencintai alam dan menghargai pengetahuan.

Ketika mereka menanam sayuran, mengukur kelembapan tanah, atau melihat lampu sensor menyala, mereka sesungguhnya sedang menanam masa depan bangsa: masa depan yang tangguh, berdaya, dan berpengetahuan.

Jika setiap guru di Indonesia diberi ruang yang sama untuk berinovasi, maka pendidikan kita tidak lagi tertinggal, tetapi menjadi pilar ketahanan bangsa.
Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya menyiapkan anak untuk ujian — tetapi untuk kehidupan. (Editor: Sarono P Sasmito)

🖋️ Penulis adalah Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya serta penggiat inovasi pembelajaran berbasis teknologi dan nilai kemanusiaan.

📜 Biodata Singkat:
Dr. Apit Fathurohman adalah dosen senior di bidang pendidikan fisika dengan pengalaman lebih dari dua dekade dalam pengajaran dan riset inovasi pembelajaran. Aktif mengembangkan pendekatan kontekstual berbasis AI, STEM, dan kewirausahaan bagi guru dan siswa sekolah dasar dan menengah.