Category Archives: EDITORIAL

Omong Pintar Bicara Cerdas 

CORONG

Tabloid-DESA.com – Berbagai peristiwa politik yang semakin hangat menjelang pilkada serentak, kian memanaskan iklim politik di Palembang. Perbincangan seputar dukungan kemenangan pada calon Bupati-Wakil Bupati, Wali Kota-Wakil Walikota, Gubernur-Wakil Gubernur memanaskan atmosfer hati. Bagaimana tidak, mesin politik seakan menjadi kompor yang memang memicu panasnya para pendukung-atau kontra pendukung calon satu dengan lainnya. Aksi demonstrasi yang “sengaja” atau “tanpa sadar”, menyindir atau tidak berniat menyindir terus berkecamuk. Continue reading Omong Pintar Bicara Cerdas 

Ramadhan, Luruskan Tauhid Berjihad Meraih Ketakwaan

SUJUD

Tabloid-DESA.com – Bulan Ramadhan tidak akan lepas dari Ibadah puasa, sholat tarawih, dan berbagai hal yang berhubungan dengan Ramadhan. Ditengah masyarakat yang ramai berburu makanan dan minuman berbuka, khidmatnya Ramadhan seharusnya tidak hanya sebatas ritual, namun dapat menjadi momen penting menjaga persatuan dan persaudaraan bangsa.  Continue reading Ramadhan, Luruskan Tauhid Berjihad Meraih Ketakwaan

Harga Sebuah Kepatuhan

PATUH

Patuh artinya mengikuti, turut perintah, bahkan menjauhi segala apa yang dilarang.  Kata patuh sering di dengar, ketika orang tua memerintahkan kita untuk mendengarkan nasihatnya, memerintahkan sesuatu pada anaknya, bahkan melarang anaknya pada satu perbuatan. 

Demikian juga dalam suatu lingkungan sekolah, sering kali terdapat peraturan-peraturan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh para siswa. Misalnya para siswa harus masuk kelas pada pukul 07.00 WIB, dan jika telat akan dikenakan hukuman. Berpakaian harus rapi, rambut tidak boleh gondrong, bahkan harus menggunakan sepatu berwarna hitam penuh.

Dalam kehidupan bermasyarakat, masing-masing rukun tetangga (RT) yang rata-rata hidup  sekitar 200 kepala keluarga dengan jumlah total 700 sampai 1000 orang lebih. Ada peraturan yang berlaku bagi tamu yang menginap wajib lapor 1×24 jam pada ketua RT setempat.

Banyak lagi peraturan lainnya, secara luas seperti peraturan kelurahan, peraturan kecamatan, peraturan daerah (perda) oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, bahkan peraturan daerah oleh Pemerintah Provinsi. Lebih jauh lagi,  peraturan presiden, dan undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Semua adalah aturan yang harus di patuhi, di taati, dan dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat secara luas. Selama orang tersebut terdaftar sebagai warga negara Indonesia, atau tamu asing yang sementara waktu hidup di Indonesia. Seharusnya, tidak ada tawar-menawar dalam mengikuti aturan, peraturan, dan hukum yang berlaku.

Konsekuensinya, jika melanggar maka ada hukuman yang harus di berikan dan diterima oleh mereka yang tidak mau mengikuti peraturan. Contohnya, seorang anak akan di marahi dan di jewer oleh orang tuanya gara-gara melanggar perintah dan larangan. Seorang tamu diusir dari rumah seseorang gara-gara tidak lapor pada ketua RT setempat, bahkan seorang pengusaha harus kena denda karena tidak mengikuti aturan pemerintah yang mengeluarkan perda.

Aturan keluarga, sekolah, dan pemerintah merupakan aturan yang dibuat oleh manusia. Menyesuaikan dengan keadaan, adat-istiadat, bahkan mengikuti bentang alam tempat tinggalnya. Namun, secara keseluruhan, masyarakat memiliki aturan dasar yang dibuat Tuhan, yakni aturan agama.

Kita masyarakat muslim, tidak mengenal istilah pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Sebab Islam memiliki peraturan secara penuh dan universal, bagaimana membentuk tatanan kehidupan yang berbudi luhur, berakhak mulia, dan sejahtera. Islam memiliki contoh kongkret cara bernegara dalam negara Madinah. Contoh undang-undang pertama dunia yang tertulis, yakni piagam Madinah. Bahkan Islam tidak hanya mengajarkan cara beribadah saja, tetapi mengajarkan menjadi manusia sempurna.

Rasulullah mengajarkan cara mandi, makan, minum, berpergian, cara berbicara yang baik dan sopan. Cara berpakaian, cara menggunakan perhiasan, cara berdagang, cara bermusyawarah, bahkan cara berpolitik.

Sayangnya, kita masyarakat awam terkadang lupa. Bahwa landasan dasar ideologi Pancasila murni berazazkan Islam. Mungkin, kata Pancasila dari sanksekerta yang berarti lima sila. Tapi kandungan isi Pancasila dan UUD 1945, bahkan sejarah piagam Jakarta merupakan contoh copy-paste dari sejarah Negara Madinah.

Kini saatnya bagi kita sebagai umat Islam, dam sebagai rakyat Indonesia, untuk patuh dan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh para pemimpin yang kita beri amanah. Patuh mengikuti aturan yang telah di keluarkan dan prosesnya juga di biayai melalui pajak yang kita bayarkan.

Patuh karena kita hidup di negara yang kita cintai. Yang melindungi setiap warga negaranya, dalam hak dan kewajibannya. Kita patuh, karena tidak ada aturan tersebut yang menyalahi pada keyakinan kita, untuk beriman dan mencapai derajat takwa, sesuai aturan agama Islam. Kita jadi patuh, karena para pemimpin kita mengikuti landasan dasar dan aturan main sesuai dengan ajaran dan akidah yang benar dan selaras.

Apa yang terjadi jika pemimpin kita melenceng? Wajib bagi kita menegur para pemimpin tersebut. Memberi tahu, memberi komentar, bahkan sedikit memarahi jika ada aturan yang dilanggar. Harganya? Sangat mahal. Aksi 212 dengan jutaan muslim yang tumpah ruah, tanpa dibiayai seorang pun merupakan protes atas ketidak patuhan pemimpin negeri.

Namun, di bulan Ramadhan ini kita semua harus merefleksi diri. Sudah patuhkan kita pada perintah dan larangan Allah SWT? Sudah sesuaikah langkah dan upaya yang dilakukan selama 11 bulan terakhir, untuk mencapai tujuan demi mencapai cita-cita lurus pada sebuah kepatuhan? Semoga kita semua menjadi umat yang lurus, patuh pada perintah Allah SWT, mengikuti sunnah dan pesan dari nabi SAW, dan patuh pada para pemimpin yang kita beri amanah. Wallahu’ alam.

 

Berburu Lailatul Qodar

SUJUD

Takbir, tahlil, dan tahmid, segera menjelang. Alam raya menyambut datangnya Idhul Fitri, hari kemenangan yang besar bagi kita seluruh umat muslim. Didesa tempat kita berdomisili, terlihat cerah. Para tetangga sebagian sudah membersihkan rumah, menyambut datangnya hari raya.  Meski masih berpuasa, bau menyengat kue, makanan khas, dan berbagai kuliner lainnya seakan menggoncangkan perut. “Terserahlah, saat ini kita juga masih berpuasa,” ujar fikirkan yang mulai sadar dengan kondisi.  Continue reading Berburu Lailatul Qodar

Kita dan Pancasila

GARUDA1

Pada 1 Juni 2017 adalah hari pancasila dan libur nasional. Persoalan bangsa yang kini semakin akut, sepertinya harus segera dibenahi. Perpolitikan Indonesia yang kemudian menimbulkan berbagai konflik yang dimulai dari penistaan agama oleh Ahok, persoalan perdebatan keberadaan Pancasila yang sistemnya kini mengarah pada konflik bernegara. Berbagai wacana  para intelektual yang mengundang semangat persatuan hingga mengarah pada rencana makar? Terus terang membingungkan kita masyarakat desa.

Ditengah hiruk pikuknya drama televisi yang menghadirkan kesaksian para tokoh elite politik, atau sekedar pengamat yang mewacanakan agar bangsa tetap utuh dalam kesatuan NKRI. Justru tidak mengajak kita menjadi “pintar” untuk membangun negeri kita, membangun desa kita yang terus rapuh.

Padahal, pendahulu kita Soekarno pernah menyampaikan amanatnya, yakni tujuan dan maksud pembangunan semesta adalah membangun masyarakat adil dan makmur; adil dan makmur yaktu menurut tinjauan ajaran pancasila.

Namun, sebenarnya selama 72 tahun merasakan kemerdekaan, sudah banyak pencapaian yang didapatkan. Desa sebagai struktur paling bawah dalam pemerintahan, mungkin sudah merasakan berbagai pembangunan dan pengembangan yang modern.Apalagi ketika desa tersebut berada di ibukota yang pembangunannya sangat pesat.

Dimulai dari sila ketuhanan yang maha Esa. Keberagaman agama dan kepercayaan masing-masing tidak saling mendiskriminasi. Masyarakat desa menjalankan ibadahnya, dan ketika terjadi perbedaan pemahaman akan diselesaikan dalam musyawarah. Namun yang paling penting, masyarakat desa menjadikan agama dan nilai spiritual sebagai kekuatan utama. Modal kekuatan inilah yang kuat melandasi gaya hidup masyarakat desa yang non materialis dan sikap mereka terjaga dalam moralitas agama.

Rangkaian kehidupan manusia yang adil dan beradab, terefleksi dalam kehidupan masyarakat desa yang mendahulukan adab atau tata kesopanan. Jangan heran, jika orang desa akan lebih mudah tersinggung jika sopan santun dan tata krama tidak diindahkan. Nilai persatuan dan kesatuan juga, menjadi hal penting dalam semangat gotong royong yang hingga kini tetap lestari didesa.

Sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan terangkum dalam kuatnya musyawarah desa. Hal yang klasik dan mudah dijumpai didesa-desa kita, semudah mengajak masyarakatnya untuk berkumpul dan bermufaka untuk mewujudkan kehendak dan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukankah hal ini sudah menjadi kebiasaan kita bagi warga desa, yang secara sadar atau tidak menjalankan penuh semangat dan cita-cita Pancasila?

Malah kita rakyat desa ini bertanya-tanya, kenapa hal klasik yang biasa kita lakukan dalam berkehidupan kini diprotes oleh para elite negeri? Ada apa dengan para pimpinan negeri kita? Ada persoalan apa dengan Pancasila yang selama ini sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari, yang terefleksi dalam semangat membangun desa?

Ataukah para pimpinan dan elite negeri kita harus belajar kembali bagaimana bertata krama dan bersopan santun yang baik pada kita? Tidakkah elite negeri ini belajar kembali bagaimana cara bermusyarawah dan mufakat lewat tanggungjawab moral bertetangga, menghormati tetua desa, dan belajar untuk mendengarkan orang lain karena nasihatnya rasional dan masuk diakal. Mungkinkah sudah terlalu banyak orang pintar di negeri ini, hingga meracuni orang lain tanpa menyadari pentingnya menjaga persaudaraan. NKRI tetap utuh, semangat membangun desa kita tecermin dari menguningnya padi, derasnya getah karet yang mengalir dari pohon-pohon balam yang kini harganya masih murah. Pancasila adalah semangat kita warga desa, bersatu dalam negeri Indonesia. (*)

 

Undangan Proposal Restorasi Gambut

Tabloid-DESA.com – Wetlands International Indonesia meluncurkan inisiatif baru “Dana Mitra Gambut Indonesia (Indonesian Peatland Partnership Fund)”, yaitu sebuah wadah pendanaan untuk mendukung kegiatan restorasi gambut berbasis masyarakat, yang dilaksanakan melalui “Panggilan Proposal” kepada organisasi berbasis komunitas atau Lembaga Masyarakat Sipil yang bermitra dengan masyarakat setempat. Continue reading Undangan Proposal Restorasi Gambut