PASAR CINDE

Tabloid-DESA.com JAKARTA – Pasar Cinde yang berada di pusat kota Palembang, Sumatera Selatan, dinilai memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pun sempat melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika mendengar kabar pasar tersebut hendak direnovasi, tahun lalu.

Tak hanya dari kalangan arsitek, masyarakat Palembang juga menggalang dukungan penolakan renovasi pasar tersebut.

Salah diantaranya yaitu dengan melayangkan petisi dan membentuk komunitas #SavePasarCinde.

“IAI sempat surati Jokowi agar mengingatkan Gubernur Sumatera Selatan untuk tidak melupakan sejarah kotanya. Karena kelihatannya yang ngotot ini kan gubernur,” kata Ketua Badan Pelestarian IAI Aditya W Fitrianto kepada KompasProperti, Kamis (20/7) seperti dikutip property.kompas.com.

Di dalam surat tersebut, ada tiga hal yang mereka sampaikan. Pertama, berharap agar Presiden Jokowi meminta Gubernur Sumatera Selatan menghentikan rencana pembongkaran Pasar Cinde.

Kedua, mengubah strategi pengembangan pasar dan fasilitas baru dalam kerangka revitalisasi Pasar Cinde Terpadu.

Terakhir, revitalisasi dimaksud adalah bangunan utama dengan bentuk khas serta kolom cendawan dapat dipertahankan.

Selain itu Pasar Cinde dapat menjadi ikon dari pengembangan kawasan tersebut dengan penambahan fasilitas baru di bagian luar bangunan.

Pasar Cinde sendiri telah dinyatakan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Palembang, melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota Palembang Nomor 179a/KPTS/DISBUD/2017 yang ditandatangani pada 31 Maret lalu.

“Ini kontradiktif, artinya dia melawan SK yang dia terbitkan sendiri,” ujarnya.

Adaptive Use

Dari informasi yang diperoleh, Aditya menuturkan, renovasi Pasar Cinde akan menggunakan skema adaptive use.

Pasar Cinde direnovasi dan diubah menjadi lebih modern, serta tidak hanya sebatas difungsikan sebagai pasar.

“Kabarnya mau dibongkar dan dibikin seperti ITC semacam itu-lah. Di atasnya ada hotel, dan itu build operate transfer (BOT) karena itu pasar lahannya milik pemkot,” ujarnya.

Bila hal itu dilakukan, dikhawatirkan renovasi tersebut akan menghilangkan unsur sejarah dari pasar yang dirancang menyerupai Pasar Johar di Semarang itu.

Ia menyebut, desain interior Pasar Cinde cukup khas, yaitu memiliki pilar yang puncaknya berbentuk cendawan dengan atap dak cor semen. Desain tersebut layaknya desain interior yang mahfum dibangun pada saat zaman Belanda.

“Itu yang dipermasalahkan, karena saya rasa ada bagian yang dipertahankan, bukan dibongkar bangun lagi. Karena kalau gitu nilai historisnya ilang. Kalau mau restorasi, sebaiknya memang ada yang dipertahankan,” tuntasnya.

Comments

By admin

Leave a Reply