FULL

Tabloid-DESA.com BATURAJA – Beberapa sekolah di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) telah menerapkan Full Day School (FDS). Ketua Komisi I DPRD OKU, Yudi Purna Nugraha, mempertanyakan kebijakan FDS yang katanya bakal mewujudkan pendidikan karakter siswa itu.

“Apakah sebelumnya ada kajian kajian sehingga perlu diterapkan FDS?” ujar Yudi balik bertanya kepada para wartawan

Kajian kajian yang dimaksud politisi PKB ini, apakah sebelumnya ada kegagalan sistem pendidikan di Indonesia sehingga perlu diterapkan FDS.

“Yang paling penting adalah penguatan kurikulum pendidikan. Karena, berganti menteri pendidikan, kurikulum selalu berubah,” ucap Yudi.

Menurut Yudi, penerapan FDS tidak efektif untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi siswa tersebut. Pasalnya, siswa mesti belajar mulai pukul 07.00 WIB-16.00 WIB atau belajar selama 8 jam.

“Di Negara maju, mereka berlomba-lomba siswanya belajar dalam waktu singkat sementara kita (pemerintah) berfikir siswa sekolah dalam waktu yang lama. Kan, itu sangat lucu,” ujar Yudi.

Yudi mengambil contoh seperti di Finlandia waktu belajar hanya 4 jam, belum lagi di Negara maju seperti Jepang, Amerika dan Inggris yang waktu belajarnya kurang dari 8 jam. Namun demikian, siswa-siswa di negara maju itu sangat disiplin.

“Apa yang menjadi landasan pemerintah untuk menerapkan FDS,” imbuh Yudi.

Dikatakan Yudi, selain pelajaran di sekolah, siswa perlu berinteraksi dengan lingkungan sosial dan berkomunikasi dengan keluarga. Kalau belajar 8 jam, kapan lagi siswa perlu interaksi dengan lingkungan sosial dan keluarganya.

“Apalagi, daya serap pelajaran siswa setelah pukul 13.00 WIB tidak maksimal sehingga kalau kegiatan belajar mengajar sampai 16.00 WIB, maka keterserapan pendidikan tidak tercapai,” terang Yudi.

Terkait dengan aspek ekonomi, lanjut Yudi, beban orang tua untuk uang saku akan bertambah, bahkan bisa dua kali lipat dari hari biasanya. Yudi juga menjelaskan bahwa FDS ini tidak akan bisa diterapkan serentak di seluruh sekolah, karena tentu saja kondisi sekolah di setiap tempat berbeda-beda.

“Berkaitan dengan aspek geografis, untuk sekolah di desa, desa sulit terakses angkutan umum. Hal ini banyak yang dikeluhkan masyarakat, terlebih untuk anak perempuan di malam hari,” tandas Yudi.

FDS tidak memberi ruang kepada anak didik untuk mengembangkan diri melalui pendidikan non formal diluar sekolah. Padahal, inilah hasil nyata dari pendidikan dapat terlihat.

“FDS terlalu dipaksakan dan dapat mengganggu tradisi pendidikan kita,” pungkas Yudi. (Kadin Kum,ala)

Comments

By admin

Leave a Reply