POLITIK UANG

Tabloid-DESA.com – Tahun 2018 yang masih beberapa bulan lagi menjelang, mulai memanaskan perpolitikan di Sumatera Selatan. Masyarakat di kota dan didesa mulai dimanjakan dengan kehadiran para tokoh-tokoh politik, yang meminta masyarakat untuk mengundangnya diberbagai acara pernikahan, sunatan, bahkan keluarga yang meninggal dunia.

Ada kebanggaan terselip, kala acara persedekahan berlangsung tampak karangan bunga yang besar tertulis nama pejabat dan tokoh terkenal di Provinsi. Sebagian para tamu dan undangan   berdecak kagum, sebagian keluarga bertanya-tanya adakah tuan rumah juga seorang tokoh politik yang menjadi pendukung?

Sebenarnya, sebagian kita warga desa merasa sangat bangga meski dalam hati bertanya-tanya, kok bisa ya pejabat publik yang terkenal ini memberi penghormatan khusus dengan karangan bunga. Bahkan,sebelum acara berlangsung ada utusan pejabat yang datang untuk meminta agar seorang tokoh terkenal memberi kata sambutan mewakili tamu. Tidak lupa, amplop berisi uang juga diterima tuan rumah sebagai tanda penghormatan.

Inilah salah satu strategi dari para bakal calon bupati, wali kota bahkan Gubernur yang akan maju dan hendak merayu hati masyarakat pemilih. Kita warga desa hampir tidak terfikir, bahwa hal itu merupakan cara untuk memikat hati keluarga agar memilihnya pada pemilu. Tanpa sadar hati tuan rumah kemudian terikat dan berjanji dalam hati untuk memilih calon pemimpin pada pemilu serentak akan datang.

Kita warga desa hampir tidak memahami, bagaimana nantinya calon tersebut akan memimpin. Harapan dan cita-cita terbangunnya jalan desa yang selama ini penuh lubang dan becek, seakan sudah menjadi hal biasa. Hampir pula tidak terfikirkan, bagaimana caranya membawa hasil panen gara-gara jembatan desa yang sudah tua dan rapuh.

“Kita yakin nantinya  Bupati kita  akan segera membangun jalan ini. Terus terang kita kecewa dengan partai anu yang sampai sekarang tidak menepati janjinya,”kata itu sering dan selalu didengarkan. Padahal, saat warga desa mendapatkan uang Rp70ribu dan sembako senilai Rp50ribu saat pemilu tahun kemarin cukup membuat kita yakin bahwa akan ada pembangunan yang membawa dampak kesejahteraan bagi seluruh warga desa. Pak kades yang sangat dipercaya juga dengan ketulusannya terus bersosialisasi dari rumah kerumah warga. “Ayo pilihlah dia ini, yakinlah desa kita akan lebih baik lagi. Akan ada bantuan bibit, pupuk untuk tanaman, bahkan akan ada bantuan lainnya,”ujar sang kades.

Pernahkah kita diajari dengan mempelajari visi dan misi calon tersebut? Jawabannya nyaris tidak pernah. Sebab, semua calon memiliki visi dan misi yang sama untuk mensejahterakan masyarakat. Namun, mereka yang pernah memerintah dan memimpin telah meninggalkan jejak selama lima tahun. Mari kita koreksi, apa pencapaian para pemimpin tersebut saat dia pernah memerintah? Adakah calon pemimpin baru kabupaten/kota dan Provinsi Sumsel ini telah menunaikan janjinya? Jangan mudah tertipu lagi. (*)

Comments

By admin

Leave a Reply