Palembang Tetapkan 21 Agustus Sebagai Hari Buku, Pekan Pustaka IV Gelar Sarasehan

Bagikan:

Tabloid-Desa.com Palembang— Bertempat di Kompleks Gedung Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Ahad (21/8/2022) hingga Sabtu, (27/8/2022) mendatang. Pekan Pustaka Palembang IV akan menggelar sarasehan bertema “ Pustaka Islam” dengan menghadirkan beberapa narasumber berkompeten dibidangnya. Acara akan digelar secara luring maupun daring via zoom.Hal ini disampikan langsung Panitia Pekan Pustaka Palembang IV melalui siaran pers yang diteirma Assajidin Grup, Senin (9/8/2022).

Ahmad Subhan salah seorang panitia pelaksana mengatakan, kegiatan ini sebagai wujud apresiasi pihaknya atas animo masyarakat yang sangat baik dalam mendukung pelaksanaan pagelaran sarasehan sebelumnya.

Ia menjelaskan, jika kegiatan ini adalah yang empat kali setelah sebelumnya digelar di Perpustakaan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo. Pada 21 hingga 28 April 2019, dan di tahun yang sama, Pekan Pustaka Palembang II berlangsung selama tanggal 1 hingga 8 September 2019.

“ Sementara untuk Pekan Pustaka Palembang III berlangsung selama tanggal 21 hingga 28 Agustus 2021 secara daring melalui forum Zoom. Dan kali ini Insya Allah akan kembali digelar baik luring maupun daring,” katanya.

Diawal sambutan, panitia pelaksana pun tak lupa menyematkan perkenankan menguraikan makna pekan pustaka Palembang. Dalam bahasa Melayu, “pekan” bersinonim dengan istilah “pasar” yang bermakna sebagai ruang atau ajang transaksi. Selain itu, “pekan” juga berarti rangkaian hari dalam seminggu. Pustaka Palembang bermakna: Bahan-bahan bacaan yang memuat kajian sejarah, sosial, budaya, politik, sastra, serta religi di Palembang.

“ Pekan Pustaka Palembang berarti ajang berbagi pengetahuan perihal beragam bahan bacaan mengenai Kota Palembang yang berlangsung selama sepekan. Rangkain kegiatan ini sekaligus mengkampanyekan hari buku Palembang yang jatuh pada tanggal 21 Agustus 2022,” ujarnya.

Untuk diketahui, hari buku Palembang adalah momentum memperingati selesainya proses pencetakan Al Quran yang pertama di Kota Palembang pada tanggal 21 Agustus 1848.  Al-Qur’an ini bukan hanya menjadi Al Quran cetak pertama di Indonesia, namun sekaligus Al Quran cetak pertama di Asia Tenggara.

Al-Qur’an secara harfiah berarti “bacaan sempurna”. Secara kebendaan, Al-Qur’an merupakan kitab. “Kitab” adalah kata serapan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “kitab” bermakna sama dengan “buku”. Sedangkan istilah “buku” diserap dari kata “boek” dalam bahasa Belanda dan “book” dalam bahasa Inggris. Namun perlu diketahui bahwa masyarakat Indonesia sejak awal mengenal “buku” sebagai produk cetak. Itulah mengapa ada pembedaan antara buku cetak dengan naskah/manuskrip yang memuat teks tulisan tangan. Dengan kata lain, naskah/manuskrip yang merupakan hasil kerja manual tulis tangan berbeda dengan buku sebagai produk teknologi cetak.

“ Dengan demikian, tanggal selesainya pencetakan Al-Qur’an di Palembang pada 21 Agustus dapat dianggap sebagai momentum Hari Buku Palembang,” tuturnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Kemas Muhammad Azhari yang bertanggung jawab atas penyalinan serta pencetakan Al-Qur’an yang hingga kini menurut para peneliti Al-Qur’an, merupakan tonggak awal pencetakan Al-Qur’an di Nusantara. Kemas Muhammad Azhari lahir di Kampung Pedatuan, 12 Ulu Palembang, pada 27 Jumadil Akhir 1226 H atau 19 Juli 1811. Ketika berusia 15 tahun, Azhari berlayar menuju Mekkah untuk menuntut ilmu. Setelah menamatkan pendidikan jenjang madrasah aliyah di Mekkah, ia berkelana menimba ilmu di Madinah hingga Mesir. Selama berkelana menuntut ilmu atau rihlah inilah Azhari belajar menjadi penyalin Al-Qur’an. Usai rihlah, ia kembali ke Mekkah dan menjadi guru madrasah di sana.

Dalam pelayaran pulang ke Palembang yang menyusuri pelabuhan-pelabuhan India, Kemas Muhammad Azhari singgah untuk belajar ilmu falak dan menyaksikan perkembangan percetakan muslim India. Azhari kemudian singgah di Singapura dan membeli alat cetak batu (litografi). Dari Singapura ia berlayar ke Palembang bersama Ibrahim bin Husain yang akan membantunya mencetak Al-Qur’an. Perlu ditambahkan keterangan bahwa Ibrahim bin Husain adalah murid dari Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi yang dikenal sebagai Bapak Sastra Melayu Modern.

Kemas Muhammad Azhari wafat di Mekkah pada 18 Rabiul Akhir 1291 atau 4 Juni 1874 dan dikebumikan di pemakaman al-Ma’la dekat Kota Mekkah. Dalam kolofon Al-Qur’an hasil cetakannya, Kemas Muhammad Azhari mencantumkan keterangan bahwa proses pencetakan berlangsung selama 50 hari dan menghasilkan Al-Qur’an sebanyak 105 eksemplar. Mencermati waktu pencetakan yang selesai pada hari Senin, 21 Agustus 1848, jika dihitung mundur 50 hari, maka akan bertemu dengan hari Senin, 3 Juli 1848.Kemas Muhammad Azhari wafat di Mekkah pada 18 Rabiul Akhir 1291 atau 4 Juni 1874 dan dikebumikan di pemakaman al-Ma’la dekat Kota Mekkah.

Hingga saat ini belum ada satupun kota maupun provinsi di Indonesia yang memiliki hari buku tersendiri. Seandainya ada, momentum itu merupakan peluang bagi pemerintah maupun masyarakat umum merayakannya dengan beragam aktivitas untuk menanamkan kecintaan pada buku serta menumbuhkan budaya baca. Masyarakat internasional merayakan Hari Buku Sedunia setiap tanggal 23 April. Bangsa Indonesia merayakan Hari Buku Nasional pada tanggal 17 Mei.

“ Wong Kito Galo dapat merayakan Hari Buku Palembang setiap tanggal 21 Agustus, Karena Palembang punya landasan historis untuk menetapkan tanggal itu sebagai hari buku,” tuturnya.

Sumber : AsSajidin Grup

Bagikan: