Dicari, Kepala Daerah Yang Mampu Sejahterakan Rakyat Desa

Tabloid DESA 352

Tabloid-DESA.com – Pilkada serentak Wali Kota-Wakil Wali Kota, Bupati-Wakil Bupati, di sembilan kabupaten/kota serta Pilkada Gubernur-Wakil Gubernur Sumsel yang akan dilaksanakan pada 2018 nanti, menjadi penantian rakyat di Provinsi Sumsel. Lowongan kepala daerah yang disayembarakan dalam pilkada serentak tersebut diharapkan diisi oleh pemimpin yang memiliki visi dan misi utama untuk mensejahterakan rakyat.

Memimpikan “Raja” yang Membawa Kesejahteraan

Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara serentak yang bakan berlangsung pada 2018 akan datang, sangat di nantikan seluruh masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan. Masyarakat terutama di desa-desa sangat memimpikan pemimpin baru yang menduduki kursi “raja” selama lima tahun kedepan, adalah kepala daerah yang benar-benar mampu membawa kabupaten/kota menjadi lebih maju dan sejahtera. Kesejahteraan itu sendiri diartikan sebagai, terpenuhinya kebutuhan masyarakat secara adil, makmur, dan merata.

Ketua DPRD Provinsi Sumsel, Giri Ramanda N Kiemas dalam diskusi yang digelar di DPRD Sumsel beberapa waktu lalu mengatakan, kepala daerah khususnya Gubernur Sumsel mendatang, harus memiliki visi dan misi utama untuk mensejahterakan rakyat. “Yang diutamakan itu memiliki visi dan misi untuk mengusung bagaimana mensejahterakan rakyat, dalam segala aspeknya,” tegas Giri.

Dia menjelaskan, untuk dapat mengusung pemimpin Sumsel yang baru yang dapat merealisasikan kesejahteraan rakyat tersebut, harus terlebih dahulu membukakan fikiran masyarakatnya. Artinya, untuk dapat memilih pemimpin yang tepat rakyat harus cermat dan memahami politik. “Ya, agar semua bisa sadar kalau memilih calon gubernur berdasarkan uang sangat tidak baik. Selama kepala daerah tidak mendidik masyarakatnya dengan pendidikan dan kesejahteraan, maka masyarakat berkutat dalam lingkaran setan dan berpikir kepada orientasi yang dalam pilihannya,” kata dia.

Dia mengungkapkan, tidak mudah memberikan kesadaran politik pada masyarakat, tanpa melalui pendidikan politik yang mumpuni. Sebab, tugas berat pemimpin Sumsel tidak hanya mengandalkan sektor-sektor yang sudah ada saja, seperti sumber daya alam Sumsel. Tetapi juga dapat membangun peluang yang baru yang selama ini tersimpan di Sumsel. “Agar kita tidak tergantung lagi pada sektor komoditas, bagaiamana menurunkan biaya petani agar komoditasnya bisa memiliki nilai tambah seperti jalan diperbaiki, bagaimana mengembangkan produk mentah menjadi produk jadi, hal ini harus dipecahkan bersama,” jelasnya

Giri menambahkan, kepala daerah yang terpilih nantinya, harus bisa menggerakkan dan mengkoordinir selurh elemen di pemerintahannya. Jika Gubernur, harus mengkoodinir bupati dan walikotanya guna merealisasikan bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat. ini. “Pilih pemimpin yang ada keinginan dan ada kemampuan, jangan sekadar pilih pemimpin yang hanya cita cita jadi pemimpin saja. Selain itu kecenderungan primordial di Sumsel sangat besar termasuk primordial kepada partai politik. Tidak ada parpol bisa mencalonkan dalam pemilihan  Gubernur Sumsel tanpa adanya koalisi,” jelas dia.

Pengamat Politik Universitas Sriwijaya Dr. Andreas Leonardo mengatakan, untuk bisa menjadi kepala daerah yang mampu mensejahterakan rakyatnya tidak gampang. Selain harus dipahami oleh masyarakat pemilih, juga kepala daerah yang terpilih nantinya harus benar-benar berjuang untuk merealisasikan hal tersebut. “Ketika bicara publik, kedepan pemimpin bisa memimpin Sumsel yang memiliki kemampuan dalam bekerja, menggerakkan birokrasi semaksimal mungkin, memiliki popularitas, memiliki alasan tertentu pencalonan terutama visi dan misi yang ditawarkan,” terangnya.

Selain memiliki integritas , dan memiliki elektibilitas yang tinggi, Andreas mengatakan, kepala daerah harus bisa menggabungkan potensi masyarakat dan potensi ekonomi maka politik bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya. “Peran media juga harus menjadi fasilitator, sebagai penjelas kegiatan atau kebijaan apa yang dibuat pemerintah, lebih baik memberitakan kebijakan publik ketimbang hal yang negatif,” katanya.

Bakal Calon Gubernur Sumsel Susun Kekuatan

Meski pilkada masih cukup lama, namun bakal calon Gubernur-Wakil Gubernur, Wali Kota-Wakil Wali Kota, dan Bupati-Wakil Bupati kini mulai “unjuk gigi”. Beberapa nama yang santer di media massa yang dinyatakan akan maju diantaranya, Herman Deru (Mantan Bupati OKU Timur), Giri Ramanda N Kiemas (Ketua DPRD Sumsel), Aswari Rivai (Bupati Lahat), Ishak Mekki (Wagub Sumsel), Syahrial Oesman (Mantan Gubernur Sumsel), dan Dodi Reza Alex (Bupati Muba). Meski nama-nama tersebut belum dapat dipastikan akan benar-benar maju, tetapi keberadaan para tokoh tersebut akan memberi pengaruh besar bagi peta perpolitikan pilkada Gubernur-Wakil Gubernur Sumsel nantinya.

Kenyataannya, untuk dapat diterima sebagai kandidat gubernur-wakil gubernur terdapat syarat utama yakni minimal 15 kursi di DPRD Provinsi Sumsel. Atau lewat jalur independen non partai. Keberadaan partai besar yang saat ini dapat menentukan bakal calon sendiri yakni, PDI Perjuangan memiliki 13 kursi, Partai Demokrat 11 kursi, Partai Golkar 10 kursi, dan Partai Gerindra 10 kursi. PAN 6 kursi, PKB 6 kursi, Hanura 5 kursi, Nasdem 5 kursi, PKS 5 kursi, PPP dan PBB masing masing 2 kursi.

Artinya, untuk bisa mencalonkan diri partai politik harus melakukan koalisi setidaknya dua partai hingga mencukupi syarat sebanyak 15 kursi. Dari beberapa nama balon Gubernur, terdapat empat tokoh yang menjadi pemimpin dipartainya yakni Giri Ramanda Kiemas yang juga ketua DPD PDIP Sumsel, Syahrial Oesman ketua DPW Partai Nasdem, dan Aswari Rivai ketua DPD Partai Gerindra Sumsel dan Ishak Mekki Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel. Herman Deru sendiri belum memiliki perahu partai, sementara Dodi Reza Alex, adalah putra dari ketua DPD I Partai Golkar Sumsel, Alex Noerdin.

Ketua Bapilu DPD PDI Perjuangan Sumsel Robby B Puruhita mengatakan,  partainya menginginkan Giri maju pada Pilgub Sumsel  merupakan hasil Rakerda DPD PDI Perjuangan Sumsel beberapa bulan lalu di Musi Banyuasin. “Ini sesuai hasil Rakerda sebelumnya. Partai membuka diri bagi kader- kader yang berkompeten dan terbaik untuk melakukan sosialisasi terlebih dahulu, nanti ditentukan DPP,” jelasnya.

Dia menjelaskan, dalam mengusung seorang balon gubernur, partai tidak mengenal sosok muda dan tua melainkan, bagaimana kader terbaik partai yang akan diusung bisa menang.”Kami tidak ingin nantinya calon yang diuaung tidak ada apa-apanya (kualitas), melainkan memiliki kompetensi dan berpengalaman. Sosok Giri, selain muda juga memiliki kompetensi serta pengalaman yang banyak di legislatif ini terlihat dari jabatannya yang diemban di DPRD sudah 3 periode,” ucapnya.

Partai Demokrat bakal Sumsel sendiri, mengusung Ishak Mekki, yang saat ini menjabat Wakil Gubernur Sumsel.  Demokrat juga butuh minimal tambahan empat kursi parpol di DPRD Sumsel untuk dapat mengantarkan Ishak Mekki maju pilkada.  Bakal calon Gubernur Sumsel Ishak Mekki, mengaku sudah siap menghadapi Pemilihan Gubernur Sumsel 2018 mendatang. Mesin partai hingga tingkat bawah terus berjalan melakukan sosialisasi dan sangat solid. “Pada prinsipnya pak Ishak Mekki sudah siap, dan partai Demokrat sudah mendeklarasikan beliau sebagak calon Gubenur. Tinggal menunggu tahapan saja,” kata Wakil Ketua I DPD Demokrat Sumsel Chairul S Matdiah.

Dia mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan siapa saja nantinya yang akan jadi rival untuk memperebutkan orang nomor satu di Bumi Sriwijaya itu, termasuk Bupati Muba yang baru dilantik Dodi Reza Alex. “Siapa pun kandidat lain yang maju, pak Ishak tetap maju sebagai Calon Gubernur. Saya secara pribadi yakin, Dodi tidak akan maju Pilgub, karena baru dilantik dan belum berbuat banyak untuk masyarakat Muba,” tegasnya.

Disinggung soal pendamping Ishak Mekki nanti, mantan pengacara ini memastikan, meski sudah ada beberapa kandidat yang mulai merapat, pihaknya tetap masih menunggu hasil survey di lapangan siapa sosok yang layak dan bisa ikut membantu meraih suara maksimal saat pemilihan nanti. “Kami lihat survey, dan sudah ada beberapa nama yang mendekat, tapi kita tunggu waktu yang tepat. Apalagi pak Ishak juga selain 100 persen didukung Demokrat, juga ada beberapa partai lainnya yang telah menyatakan sikap yang sama, tinggal secara resmi saja,” kata dia.

Sementara Golkar dan Gerindra masing-masing butuh dukungan minimal lima kursi parpol. Balon Gubernur Sumsel Saefuddin Aswari, mengatakan, sosialisasi terus dilakukan ke masyarakat melalui jaringan partai hingga ke pelosok daerah.

Sudah menjadi kepatutan untuk bisa menang pilkada, kandidat harus mampu “membeli” hampir 100 persen kursi partai politik yang ada di parlemen. Ini mengindikasikan bahwa kandidat tersebut memiliki modal ekonomi dan politik yang kuat, sehingga dapat menutup peluang kandidat lain untuk menang. Paling tidak, telah menutup jalan untuk menggunakan kendaraan partai politik. Meskipun undang undang membolehkan seseorang maju dalam pemilukada melalui jalur independen, tapi hampir seluruh pemilukada selalu dimenangi oleh kandidat dari partai politik. Gubernur Sumsel ke depan, adalah harapan masyarakat Sumsel setelah habisnya masa jabatan Alex Nurdin yang akan habis masa jabatannya karena sudah periode.

Palembang Memanas

Partai politik di Palembang sebagian besar telah membuka penjaringan bakal calon Wali Kota-Wakil Wali Kota Palembang. Puluhan orang tokoh masyarkat, tokoh politik, bahkan tokoh pemuda yang menyatakan diri maju bertarung pada pilkada memperebutkan mahkota tertinggi Wali Kota Palembang.

Banyak yang menilai, moment pilkada ini adalah balas dendam politik para tokoh lama yang mengincar kursi tersebut. Sebut saja Sarimuda, tokoh Palembang ini sudah tiga kali mencalonkan diri, namun selalu kandas. Bahkan pada pilkada kota Palembang 2013, pasangan Sarimuda-Nelly sempat dinyatakan menang dan unggul delapan suara dari pasangan Romi Herton-Harnojoyo. Meski kemudian kalah saat sidang di MK, dan kemenangan berbalik ke pasangan Romi Herton-Harnojoyo.

Harnojoyo sendiri yang masih menjabat sebagai Wali Kota Palembang, dipastikan akan maju pilkada. Ketua DPC Partai Demokrat Sumsel itu optimis akan kembali menduduki jabatan Wali Kota Palembang. Diperkirakan kombinasi Demokrat-PDIP akan berlangsung, hingga Harnojoyo-Finda akan tetap menjadi pasangan yang memerintah Palembang berikutnya.

Mularis Djahri, mantan polisi yang juga pengusaha sukses perkebunan di Sumsel harus juga diperhitungkan. Pengalamananya kalah pada pilkada 2013 lalu, memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya melakukan akseslerasi kekuatan secara kelembagaan. Ketua DPD Partai HANURA Sumsel itu, optimisi dirinya akan menang.

Diluar dugaan, putri Gubernur Sumsel, Alex Noerdin juga akan maju pada pilkada kota Palembang. Lury Elza Alex dinilai menjadi kuda hitam dan memiliki peluang cukup besar dan diperhitungkan. Keberadaannya di Partai Golkar Sumsel, justru dapat meningkatkan suara di pilkada Palembang jika disandingkan dengan salah satu dari tiga tokoh diatas.

Hernoe Ruspandjaji, tokoh NU Sumsel ini mendapat dukungan dari PKB. Meski terbilang baru masuk kancah perpolikan di kota Palembang, namun kekuatan massa NU harus juga diperhitungkan para bakal calon. Dan masih banyak lagi balon yang telah menyatakan maju pilkada lewat jalur parpol dan independen.

Kota Prabumulih Menyelaraskan Kekuatan

Para tokoh politik yang maju pada pilkada Kota Prabumulih cukup banyak, diantaranya Ridho Yahya (Walikota Prabumulih), DR Drs H Rachman Djalili MM (mantan Walikota Prabumulih), Ir Hanan Zulkarnain (mantan Wakil Bupati Muara Enim), Adi Susanto (Anggota DPRD Prabumulih), Robby Kurniawan SSTp MSi (Plt Sekda PALI), Ahmad Palo (Ketua DPRD Prabumulih), H Adriansyah Fikri SH (Wakil Walikota Prabumulih), TR Hulu (mantan Anggota DPRD Prabumulih), dan Rizal Kennedi (Anggota DPRD Provinsi Sumsel).

Prediksi pertarungan keras dalam mendapat dukungan partai politik, diperkirakan akan terjadi dan ikut memanas. Diperkirakan akan terjadi perang politik antara Partai Golkar dan PDI Perjuangan dalam mendapat dukungan masyarakat. Sebab, Rachman Djalil mantan Wali Kota Prabumulih, yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Sumsel dari PDIP pun telah membuat berbagai persiapan untuk menang pilkada. Namun keberadaan incumbent yang baru satu kali menjabat, diprediksi akan sulit dikalahkan.  Meski beberapa waktu lalu, Walikota Prabumulih Ridho Yahya sempat menyatakan akan mengambil jalur independen jika tidak mendapat dukungan partai Golkar dalam pencalonan Walikota Prabumulih mendatang. Ridho mengungkapkan, dirinya mempersilakan jika ada calon lain yang bisa mengangkat citra Partai Golkar. Mengingat dalam pilkada bukan hanya partai yang jadi patokan, tapi dari calon itu sendiri. “Kalau ada yang lebih hebat dari saya ya silakan, tapi kalau masih di bawah kita, ya sayang saja. Sebab, membuat partai jadi wibawa itu bukan sembarangan. Kalau cuma maju-maju saja, semua juga bisa. Jadi saya masih menunggu keputusan partai Golkar saja untuk pencalonan diri,” tegas Ridho beberapa waktu lalu.

Pilkada Kota Lubuk Linggau

Sementara untuk Lubuk Linggau sendiri, diprediksi pilkada akan didominasi oleh balon incumbent pasangan Prana Putra Sohe-Sulaiman Kohar. Hasil survey LKPI, yang digelar di sejumlah wilayah di Kota Lubuk linggau pasangan Nan suko dinilai masih lebih unggul. Direktur Eksekutif  LKPI Sumsel Ha riyanto beberapa waktu lalu menyebutkan, pa sa – ngan Nansuko memiliki tingkat keterpilihan (elektabilitas) yang cukup tinggi dibandingkan de ngan sejumlah kandidat lainnya. Hariyanto memaparkan ting kat elektabilitas Prana Sohe mencapai angka 58%.

Kekuatan Politik Kota Pagaralam

Untuk kota Pagaralam, kemenangan Ida Fitrianti dan Novirza Djazuli pada pilkada 2013 lalu kemungkinan untuk duduk kembali di jabatan Wali Kota dan Wakil Wali kota berpeluang sangat besar. Meski belum bisa diprediksi akan berpasangan kembali, namun kekuatan petahana khususnya Ida Fitrianti dinilai sangat kuat.

Saat ini terjaring sebanyak 13 tokoh yang akan maju pada pilkada 2018 di Pagaralam. Yakni Ida Fitriati (Walikota Pagaralam), Novirza Djazuli (Wakil Walikota Pagaralam), Ruslan Abdul Gani (Ketua DPRD Kota Pagaralam), H. Safrudin MSi (Sekda Kota Pagaralam), Ir Gunawan MT (Pejabat di Kementrian PU PR), H. Haryanto MM MBA (Kepala DPPKAD Lahat), Agus Effendi (pengusaha di Jakarta), Ir Armansyah (anggota DPRD Pagaralam), Alfian (anggota DPRD Kota Pagaralam), Halipan Matsohan, SSi (Ketua DPD PAN Kota Pagaralam), Fadli SE (Wakil Ketua DPRD Kota Pagaralam), Hj. Septiana Zuraida (isteri mantan Walikota Linggau Riduan Effendi) dan Yumisa (Ketua DPD PDIP Kota Pagaralam)

Peluang Merebut Banyuasin 

Pasca Bupati Banyuasin Yan Anton yang tertangkap KPK, paluang untuk merebut Banyuasin terbuka lebar. Nyaris belum satupun tokoh yang diprediksi memiliki tingkat elektabilitas tertinggi hingga kini. Beberapa pejabat birokrat bakal maju diantaranya Parigan, mantan Sekda Banyuasin, Syaiful Bakhri Mantan Dinas Pertanian Banyuasin, dan Hazuar Bidui Mantan Birokrat. Terdapat beberapa politisi yakni, Wakil Ketua DPRD Banyuasin, Askolani dari PDI Perjuangan, Ketua DPW PPPSUmsel, Agus Sutikno, Supriono, dan dari Partai Bulan Bintang Karyono.  Banyak yang memprediksi peta politik di kabupaten Banyuasin akan sangat cair dan tidak ada satupun tokoh yang dinilai sangat dominan pasca kasus OTT KPK terhadap Bupati non aktif Yan Anton Ferdian.

Muara Enim Memanas

Di Kabupaten Muara Enim, perebutan kursi Bupati akan didominasi oleh beberapa wajah lama yang kini tengah melakukan konsolidasi politik dalam merebut hati warganya. Beberapa tokoh Muara Enim diantaranya Nurul Aman yang juga ketua DPC PPP Muara Enim, dipastikan akan maju. Disebut-sebut juga, isteri bupati Muara Enim, Shinta Paramitha akan maju namun lewat jalur independen atau perseorangan. Belum dapat dipastikan, peluangnya untuk mendapatkan dukungan dari Partai Golkar, dan beberapa partai yang selama ini menjadi pengusung Muzakkir Sai Sohar.

Ketua DPC Partai Demokrat Muara Enim, Ahmad Yani dipastikan maju dan ikut bertarung berebut tahta Muara Enim. Anggota DPRD Sumsel itu, kini juga telah melakukan komunikasi politik dengan partai-partai pemenang pemilu di Muara Enim.

Muara Enim dikenal sebagai kantung suara PDI Perjuangan, dan beberapa nama tokoh PDIP juga dipastikan maju seperti Thamrin dan Aries HB. Terdapat juga birokrat Sumsel yang akan turut mewarnai pilkada Muara Enim yakni Syamsul, kepala PU pengairan Sumsel.

OKI dan Petahana

Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Iskandar SE, juga dipastikan akan maju pada pilkada OKI 2018. Ketua DPW PAN Sumsel ini, diprediksi masih kuat dan mendapat dukungan dari warga OKI untuk memerintah selama lima tahun kedepan.

OKI sendiri sangat identik dengan dua nama tokoh yang selama ini menjadi “penguasa” yakni Mawardi dan Ishak Mekki. Tidak heran, jika Muchendi, putra Wagub Sumsel dipastikan akan maju dan ikut bertarung pada pilkada OKI dengan bendera Partai Demokrat. Diprediksi, dua pasangan akan bertarung habis-habisan antara Iskandar SE versus Muchendi dengan kekuatan dan dukungan masing-masing.  Selain kemungkinan bertarung, namun diprediksi ada kemungkinan keduanya bersinergi. Dengan menggabungkan kekuatan dua partai PAN-Demokrat. Hingga bisa lebih mulus membangun kabupaten OKI.

Pilkada Lahat

Setelah dua kali menjabat sebagai Bupati, Aswari Rivai akan mangkat dan maju sebagai Gubernur Sumsel. Peluang untuk mendapatkan tahta Bupati Lahat didominasi oleh tokoh-tokoh politik yang sebagian menjadi tokoh nasional.

Sebut saja Bursa Zarnubi, mantan Anggota DPR RI ini secara serius menyatakan diri untuk maju dan bertarung pada pilkada Lahat. Mantan ketua umum Partai Bintang Reformasi (PBR) ini, terus melakukan konsolidasi untuk mendapat dukungan partai politik hingga meloloskannya maju sebagai bakal calon Bupati Lahat.

Sejumlah kandidat yang mulai muncul, seperti Niko Fraksisko dari PAN, Yudha Hermawan Gumay dari DPC PDIP dan Brigjen Purn Zulkarnaen mantan Wakapolda Sumsel, Marwan Mansyur Wakil Bupati Lahat, Ir,Sri Meliana Anggota DPR RI, Amrozi Minha kadis Peternakan Provinsi Sumsel, Nopran Marjani wakil ketua DPRD Provinsi Sumsel ia juga sebagai sekretaris DPD Partai Geridra Sumsel, Hudson Arpan anggota DPRD Lahat dan menjabat Ketua DPC PPP versi Jan Farid, Farhan Berza ketua Partai Golkar Kabupaten Lahat, Burza Sarnubi mantan Ketum PBR, sementara dari jalur independen Rozi dan Eenk mereka semuanya akan meramaikan pilkada 2018 Lahat mendatang.

Empat Lawang Lebih Baik 

Ketua DPW PAN Sumsel, Iskandar SE beberapa waktu lalu menyatakan bahwa PAN telah sepakat untuk mengusung Joncik Muhammad untuk maju sebagai bakal calon bupati pada pilkada Empat Lawang.“Kita telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi pilkada serentak 2017 maupun 2018 mendatang,”kata Iskandar.

Menurut dia, pihaknya telah mempersiapkan berbagai perangkat untuk memenangkan pilakda tersebut. Selain telah memberikan pelatihan menjadi juru kampanye, dan  kepada seluruh pengurus partai dan anggota dewan dari fraksi PAN se Sumsel. “kami juga telah menyiapkan kader terbaik partai untuk maju dalam pesta demokrasi tersebut. Terutama untuk beberapa kabupetan/kota di Sumsel, salah satunya di Empat lawang kami akan majukan Joncik Muhammad,”  jelasnya.

Joncik Muhammad mengaku bersyukur atas kepercayaan yang diberikan DPW PAN Sumsel tersebut. Untuk  diketahui, sejak tiga periode terakhir suara PAN di Kabupaten Empat Lawang cukup memuaskan, bahkan PAN menjadi partai dengan suara terbanyak kedua setelah Partai Golkar.  Selain itu, lanjutnya, secara pribadi dirinya telah siap untuk maju, bahkan keluarga maupun struktur partai dari tingkat kabupataen hingga ranting telah siap untuk memberikan dukungan. “Alhamdulillah, seluruh pengurus, kader maupun simpatisan PAN memberikan respon positi terhadap rencana saya untuk kembali maju pada pilkada serentak 2018 mendatang,” katanya.

Disinggung soal pasangan, Joncik mengatakan, akan berpasagan dengan Wakil Ketua DPD PDI P Sumsel, Julius Maulana. “Saya sangaja pilih Julius, karena secara pribadi saya sudah kenal baik dengan beliau. Selain itu, Julius berasal dari Tebing Tinggi sedangkan saya berasal dari Lintang, jadi kami sudah mewakili semua daerah dan insyakallah mendapat dukungan adri seluruh warga Empat lawang,” jelasnya.

Terkait pencalonannya dengan Julius, Jonbcik mengaku telah menemui Ketua DPD PDIP Sumsel, Giri Ramandha, serta pengurus PDI P lainnya.  Selain itu, dirinya juga telah minta dukungan dengan partai lainnya seperti partai Demokrat. “Sejauh ini semuanya memaberaikan sambutan yang positif dan saya harap hasilnya juga pistif,” tambahnya. Pada kesempatan yang sama Joncik juga mengatakan akan meningkatkan pengamanan, agar kejadian sebelumnya tidak terulang.

Pada 2013 lalu, dari hasil rekapitulasi suara dilakukan Komisi Pemilihan Umum, pasangan calon bupati-wakil bupati Empat Lawang, Sumatera Selatan Joncik Muhammad-Ali Halimi unggul dengan meraih sebanyak 63.527 suara pada pemilihan kepala daerah setempat, 6 Juni 2013.

Sementara pasangan calon bupati-wakil bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri-H Syahrial Hanafiah (nomor urut 1) dengan meraih 62.975 suara dan pasangan Syamsul Bahri-Ahmad Fahruruzam nomor urut 3 dengan memperoleh 3.453 suara. Sayangnya, kemenangan tersebut berakhir di MK.

Beberapa orang tokoh politik digadang-gadang akan maju merebut kursi Empat Lawang, diantaranya  David Aldjufri (Ketua DPRD Empatlawang/Ketua DPD Golkar Empatlawang), H Yulizar Dinoto SH (Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Penanganan Bencana Alam/Ketua Bapilu DPD Golkar Sumsel), H Joncik Muhammad SSi MM (Ketua Fraksi PAN DPRD Sumsel/Ketua DPS PAN Empatlawang), dan petahana Syahril Hanafiah.

Mencari Sosok Pemimpin Impian Rakyat?

Sudah menjadi ketentuan berdemokrasi, semua pemimpin yang bakal maju dalam sayembara pilkada adalah para tokoh yang memiliki pengikut yang besar dan didukung oleh berbagai elemen. Berbagai pola digunakan agar bisa menarik simpati masyarakat agar dapat meningkatkan elektabilitasnya.

Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan, Rasulullah adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan rujukan sebagai seorang Pemimpin. Dalam diri rasul, terdapat sifat wajib yakni siddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Keempat sifat wajib bagi Rasul ini seharusnya juga menjadi syarat wajib bagi seorang pemimpin . Jika seorang pemimpin tidak memiliki sifat jujur, bagaimana mungkin ia bisa dipercaya untuk pemimpin kaumnya? Pemimpin juga harus amanah, bukan pengkhianat. Dan, pemimpin pun harus berani menyampaikan informasi kepada kaumnya sesuai dengan fakta yang ada. Pemimpin pun mesti cerdas. Tetapi, bukan untuk menjadi orang yang sok pintar, atau dalam istilah jawa disebut minteri.Selain empat sifat tersebut yang juga patut diteladani dari Rasulullah SAW adalah sikap pemaaf dan lemah lembut yang luar biasa, bahkan kepada para pengkhianat Islam sekalipun.

Pengamat politik dari UIN Raden Fatah Palembang, DR Bukhori mengatakan, untuk bisa menjadi pemimpin dambaan rakyat setidaknya, calon tersebut harus sudah memiliki pola fikir yang sejak awal sudah memiliki keinginan untuk melayani rakyat. Sebab, ketika mencalonkan diri menjadi pemimpin, negara akan memberikan fasilitas yang akan dinikmati, juga pendapatan yang akan mereka terima setiap bulannya. “Pelayanan kepada rakyat seharusnya menjadi faktor utama yang seharusnya selalu ada dalam fikiran pemimpin sejak ia bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari,”jelas dia.

Meski pemimpin telah memiliki kecakapan tersebut, untuk bisa membawa pemimpin dambaan masyarakat pemilih juga harus memiliki pemahaman tentang siapa pemimpin yang patut dipilih. Sebab kata dia, dinamika politik lokal dan nasional dinilai masih terbatas pada persoalan pentingnya menggunakan hak pilih, lantaran masih rendahnya partisipasi para pemilih saat pilkada atau  pemilu. “Ini kita amati sebagai sebuah persoalan, artinya persoalan mendasar politik saat ini karena rendahnya paritisipasi pemilih. Padahal, persoalan lebih dari hal tersebut,”jelas dia.

Kondisi yang terjadi saat ini, jelas Bukhori, lantaran masyarakat pemilih sebagian besar terjebak dengan virus politik uang, ditambah lagi sistem pilkada secara langsung. Hingga masyarakat memahami politik sebagai bentuk “jual-beli” yang mereka mengharapkan dukungan tersebut dapat terwujud dengan pembangunan dikemudian hari. “Sebagian masyarakat mendukung hal tersebut, dan apa yang mereka terima merupakan ijon untuk realisasi pembangunan di kabupaten mereka,”tambahdia.

Efek negatif yang timbulkan politik uang benar-benar tidak memberi kesan bagi mereka yang terpilih menjadi kepala daerah. Akibatnya, ketika rakyat menuntut agar dilakukan pembangunan merata kepala daerah merasa tidak pernah berjanji dengan mereka. “Karena itu masyarakat harus sadar diri dan tidak terjebak politik praktis yang sifatnya sementara saja, karena itu perlu pendidikan politik dan demokrasi bagi masyarakat pemilih,”kata dia.

Pengamat Politik yang juga Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IKA FISIP) Univeristas Sriwijaya (Unsri) Bagindo Togar Butar Butar menilai, calon Gubernur, bupati dan wali kota  kedepan memiliki tantangan berat untuk bisa merealisasikan kesejahteraan rakyat. Yang utama dilakukan adalah bagaimana memperbaiki dan mempermudah akses antar daerah di Sumsel.

Menurutnya, kepemimpinan Gubernur Sumsel saat ini, Alex Noerdin sangat luar biasa. Sejumlah kemajuan di Sumsel sudah dirasakan oleh masyarakat, terutama di bidang infrastruktur, seperti pembangunan LRT (light rail transit), hingga peningkatan fasilitas olahraga.

“Pencapaian ini harus diimbangi oleh Gubernur Sumsel kedepan. Dengan cara misalnya, mewujudkan inter koneksi jalan antar daerah di Sumsel, seperti memperpendek jarak tempuh ke Kota Pagaralam untuk meningkatkan jumlah pendatang. Misalnya lagi memperlebar jalan menuju kawasan Tanjung Api-Api, termasuk memperbesar kawasan bandara,” ujarnya.

Tujuannya kata Bagindo, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sumsel, dengan harapan memperbanyak investor berinvestasi. “Namun, ini dengan catatan faktor SDM Sumsel harus diperhatikan, kita jangan hanya menjadi penonton, atau menjadi pelengkap saja. Kita juga harus memberikan peran terhadap daerah kita sendiri,” ungkap Bagindo.

Selain itu lanjutnya, Sumsel juga harus dapat meningkatkan kualitas dan grade tenaga kerjanya, caranya dengan meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk memperbanyak perguruan tinggi dengan akreditasi minimal B untuk swasta. Saat ini, Unsri sudah dapat akreditasi A, pencapaian ini harus dirawat dan dijaga serta dikembangkan,” tuturnya. Dia menambahkan, Gubernur Sumsel kedepan juga harus memaksimalkan potensi wisata yang ada di Sumsel, terutama Sungai Musi, karena hal inilah yang dapat menarik wisatawan untuk datang.

Khusus untuk kota Palembang, tambah Bagindo, kemiskinan masih menjadi permasalahan sosial. Pemerintah sebagai pelayan publik berkewajiban untuk melakukan pendataan serta segera memberikan solusi yang akurat secara cepat dan tepat. Kemiskinan yang ada di Ibu Kota Sumatera Selatan (Sumsel) ini, akibat pemerintah kurang peka dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.

“Tentu kita miris apa yang terjadi di Palembang hari ini, tingginya tingkat pembangunan. Tapi, tidak seimbang dengan kehidupan sosial masyarakat. Masih banyak warga hidup dibawah garis kemiskinan,” ujar dia.

Bagindo menyebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang harus mampu merumuskan serta mengurus permasalahan kemiskinan yg menimpa warganya, baik melalui aparatnya di tingkat RT, Kelurahan, Kecamatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sampai ke level Walikota.”Ya, paling tidak memotivasi rakyat untuk berempati secara sosial kultural antar warga untuk saling membabtu, sebelum Pemkot Palembang bertindak secara administrasi serta pembiayaan yang legal dan formal,” katanya.

Selain itu, dalam sistem sosial yang semakin kuatnya prinsip individualistik ini, Pemerintah juga harus mendorong muatan humanistik dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.”Kemiskinan memiliki dampak negatif. Seperti, meningkatnya kriminalitas, pengangguran, lingkungan kumuh, pergaulan bebas dan lainnya. Tentu hal itu tidak kita inginkan,” ujarnya. (Ronald)

Comments

Leave a Reply