PRUKADES

Tabloid-DESA.com JAMBI – Program produk unggulan kawasan perdesaan (Prukades) menarik perhatian dari banyak kalangan. Sebanyak 100 kabupaten dan 40 perusahaan besar menyatakan tertarik terlibat dalam pelaksanaan salah satu program prioritas dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) tersebut.

“Saya sudah dapat 40 perusahaan yang sudah komitmen untuk membantu dengan model prukades ini dan sekitar 100 kabupaten yang sudah turut untuk berpartisipasi dalam mendukung model prukades ini,” ujar Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo saat memberikan arahan dalam Seminar Nasional yang digelar oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jambi pada Senin (11/12).

Dia menjelaskan Prukades merupakan upaya meningkatkan skala ekonomi produk dari kawasan perdesaan dengan sistem klusterisasi ekonomi. Selama ini produk unggulan kawasan perdesaan tidak banyak dilirik oleh kalangan swasta karena tidak mempunyai skala ekonomi. Produk-produk tersebut seringkali digarap dengan skala kecil dan terpisah antar satu desa dengan desa lain meskipun berada di dalam satu kawasan. Dengan Prukades, desa-desa dalam satu kawasan diarahkan memproduksi satu produk unggulan dalam skala besar.

“Desa itu miskin karena desa itu tidak fokus sehingga tidak memiliki skala yang besar dan tidak punya akses pasar atau sarana pasca panen. Kalau model prukades ini berjalan, maka bukan hanya pendapatan masyarakat dan desanya yang meningkat. Tapi, juga akan meningkatkan jumlah angkatan kerja di desa,” katanya.

Menteri Eko mengungkapkan Kemendes PDTT telah memfasilitasi pertemuan sejumlah kepala daerah dengan sejumlah kementerian, perbankan serta para pengusaha untuk menyukseskan program prukades. Dalam pertemuan tersebut antar pihak menyepakati jenis produk unggulan, skema modal, pengelolaan pascapanen, hingga proses pemasaran.

“Dengan demikian antar pihak yang berkepentingan mempunyai keselarasan pandangan dan arah yang jelas dalam mengelola produk unggulan di masing-masing wilayah,” katanya.

Lebih jauh Eko mengatakan dalam tiga tahun pertama implementasi alokasi dana desa, sebagian besar program pembangunan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar seperti jalan desa, jembatan, dan saluran irigasi. Pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan bisa turut mendorong perekonomian di daerah.

“Ekonomi tidak bisa jalan kalau tidak ada infrastruktur. Karena itu, pembangunan ini harus dilakukan secara merata keseluruh daerah seperti saat ini yang bisa kita lihat bahwa pembangunan infrastruktur terus dilakukan secara masif,” katanya.

Di level nasional, kata Eko Pembangunan infrastruktur juga dilaksankanan secara masif. Pemerintah membangun ribuan kilometer jalan tol, pelabuhan, ketersediaan listrik dan pembangunan infrastruktur lainnya.

“Kalau tidak ada itu, pembangunan tidak akan bisa jalan,” katanya.

Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa meskipun pembangunan desa sudah dilakukan secara sangat masiv. Namun, masih menimbulkan kritikan karena masih saja terjadi kemiskinan di desa yang jumlahnya lebih besar dari pada kemiskinan di kota.

“Kemiskinan didesa masih ada sekitar 10 persen dan kemiskinan di kota cuma 7 persen lebih. Tapi kalau kita lihat 3 tahun terakhir ini, penurunan kemiskinan didesa jauh lebih besar dari kemiskinan dikota. Penurunannya 4,5 persen di desa dan 4 persen terjadi di kota,” katanya.

Menteri Eko berharap kedepan pembangunan perekonomian di kawasan perdesaan semakin meningkat. Menurutnya selain Prukades, Kemendes PDTT juga mempunyai program prioritas lain yakni Pembangunan embung, Pembentukan Badan usaha Milik Desa (BUMDes) dan pembangunan sarana olahraga.

“Program-program tersebut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi secara langsung maupun tidak langsung sehingga akan meningkatkan kesejahteraan warga desa dan menurunkan angka kemiskinan di kawasan perdesaan,” pungkasnya.

Comments

By admin

Leave a Reply