Taman Sriksetra Yang Terlupakan

Sebuah Pembelajaran dari Kerajaan Sriwijaya

Daerah berbukit ini ditanami beragam tanaman hutan. Seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam pohon buah-buahan. Terdapat juga bambu haur, waluh, dan patun. Lembah-lembah di bukit ini dialiri sungai-sungai kecil, seperti Sungai Sekanak, Sungai Lambidaro, dan Sungai Kedukan. Semua anak sungainya bermuara ke Sungai Musi. Bendungan dan kolam-kolam juga dibangun di taman ini.

Bukit ini kemudian diberi nama Sriksetra atau Hutan Negara oleh Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang dibangun pada abad ke 7. Daerah berbukit, tempat taman Sriksetra kini, yang banyak ditumbuhi pohon itu, lebih tepatnya sebuah hutan.

Seperti halnya membaca kebijakan pemerintah dalam sebuah peraturan perundang-undangan, kebijakan pendiri Kerajaan Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembangunan ‘Hutan Negara’ yang tertulis dalam sebuah prasasti.

Prasasti itu ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen Palembang kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di Desa Talang Tuo, kecamatan Talang Kelapa, Palembang, dan kemudian dikenal sebagai Prasasti Talang Tuo.

Talang dalam bahasa Palembang berarti tempat tinggi yang tidak terkena luapan air sungai dan dapat digunakan untuk bercocok tanam. Sedangkan Tuwo artinya tua atau sudah lama. Demikian Talang Tuo yang menjadi nama sebuah tempat tinggi yang sudah lama ditanami.

Layaknya sebuah prasasti, yang biasanya berisi peraturan/peringatan dan hukuman/kutukan bagi yang melanggar, namun prasasti Talang Tuo ini bertutur lain tentang hubungan harmonis antara alam dengan manusia. Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jayana dalam prasasti tersebut bertutur tentang pengelolan hutan untuk tatanan masyarakat yang sejahtera.

Bukti tentang upaya pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat demi kesejahteraan telah ada semenjak zaman Kerajaan Sriwijaya. Bukan pada setumpuk kertas perundang-undangan, namun pada sebuah batu yang berbidang datar yang berukuran lebar 50 dan panjang 80 centimeter. Prasasti berangka tahun 606 Saka itu, ditulis dalam aksara Pallawa, berbahasa Melayu Kuno, dan terdiri dari 14 baris.

Van Ronkel dan Bosch adalah orang pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti tersebut, yang kemudian dimuat dalam Acta Orientalia. Berikut sepenggal terjemahan pada pangkal prasasti tersebut, sebagaimana diterjemahkan oleh George Coedes ;
Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan…

Penemuan prasasti ini pun diperkuat dengan penelitian serbuk sari tanaman oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas), seperti dituliskan seorang yang mengaku kerani rendahan Badan Arkelogi Nasional Bambang Budi Utomo, dulunya di daerah ini terdapat tanaman buah-buahan dan tanaman sejenis palma, sebagaimana yang disebutkan dalam prasasti Talang Tuo. Juga tanaman jenis bambu-bambuan yang batangnya dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah. Sebagaimana artinya, Taman Sriksetra atau Hutan Negara memang bukan seperti taman kota sekarang ini, namun lebih tepatnya sebuah hutan yang terkelola.

Hutan Negara ini jelas untuk kesejahteran masyarakat. Seperti pada potongan kalimat lainnya dalam parasasti tersebut, “Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya)”.

Hutan Negara ini yang didalamnya terdapat masyarakat sejahtera yang memiliki hubungan sosial yang baik ; di dalam keluarga, antar sesama dan bahkan dengan para pendatang. “Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagipula semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga istri mereka menjadi istri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik,” demikian penggalan kalimat lainnya dalam Prasasti Talang Tuo.

Lebih dari itu, setelah keberdaan hutan Negara Sriksetra menjawab kebutuhan dasar sandang, pangan dan papan, rakyatnya dititahkan mengembangkan diri dalam berbagai pengetahuan dan budaya. Dan akhirnya sebagai insan mandiri yang menjadi faktor perubah yang baik untuk masa depan. Kiranya, Sriksetra atau Hutan Negara menjadi jalan untuk kebahagiaan. (wdg)

Comments

comments