Sungai Masih Jadi MCK Warga Biaro

KEGIATAN MCK (mandi, cuci dan kakus) seyogyanya dilakukan di jamban yang memenuhi standar. Namun, kenyataan di Indonesia masih banyak yang melakukan MCK di sungai, antara lain dilakukan masyarakat yang berada di pinggiran Sungai Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumsel.
Salah satunya dalah Desa Biaro Lama, Kecamatan Karangdapo, Muratara. Desa yang berbatasan langsung degan Desa Biaro Baru, Desa Aringin, Desa Karangdapo, dan Desa Beringin Makmur ini dihuni sekitar 3000 penduduk atau 800-an KK. Mata pencaharian atau pekerjaan utama warga disini adalah petani karet dan buruh kelapa sawit. Jaraknya dari ibukota Kabupaten Muratara (Rupit) sekitar 17 km dan sekitar 75 km ke Kota Lubuk Linggau.
Seiring berjalan waktu, warga Desa Biaro Lama banyak yang berpindah tempat ke wilayah transmigrasi Nibung, Kecamatan Rawas Ilir. Ini semua dilakukannya untuk mencari penghidupan yang lebih baik, mengingat potensi sumber daya alam di kampung halamannya berkurang akibat banyaknya perkebunan besar yang masuk menggarap lahan mereka.
“Kami masih warga Biaro Lamo, tapi kini kami sudah pindah mencari nafkah ke Sungai Lanang untuk mengambil upahan menyadap karet,” ujar Sohan, warga Biaro Lama yang ditemui Tabloid Desa baru-baru ini di Rupit, Muratara.
Menurut warga desa yang masuk wilayah kecamatan Karangdapo ini, mereka sudah terbiasa mencuci pakaian dan mandi di sungai. Bahkan untuk air untuk minum dan masak pun diambil dari Sungai Rawas tersebut. Mereka melakukan hal ini karena sudah merasakan nyaman melakukan MCK di sungai, walaupun mereka juga tahu jika kualitas air sungai sangat berbahaya bagi kesehatan.
Selain merasa nyaman melakukan kebiasaan yang sudah turun temurun tersebut, alasan utama masyarakat Biaro Lama dan Biaro Baru masih menggunakan sungai untuk kegiatan sehari-hari adalah karena mereka tidak memiliki biaya yang cukup untuk membuat kamar mandi sendiri. Alasan lain yaitu karena kesadaran masyarakat akan dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang mereka lakukan di sungai sangat kurang.
Sepetinya pemerintah harus lebih memperhatikan masyarakat di daerah ini. Langkah yang harus dilakukan pemerintah, yakni pertama pemerintah harus memberikan penyadaran kepada masyarakat akan bahaya mengkonsumsi air sungai bagi kesehatan. Kedua, memeberikan pemahaman akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem lingkungan sungai, an ketiga harus membangun sarana dan prasarana air bersih yang murah dan mudah dikonsumsi masyarakat setempat.
Sebab, berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat di sungai seperti MCK dapat mencemari ekosistem sungai. Dengan adanya limbah rumah tangga seperrti air sabun bekas mandi dan mencuci yang mengandung zat–zat kimia yang terlarut dalam air dapat mengubah pH air yang semula netral menjadi basa. Sehingga berpengaruh pada kondisi ikan yang terdapat pada sungai tersebut.
Pada tubuh ikan yang terkandung zat –zat kimia, yang apabila dikonsumsi manusia dapat menimbulkan penyakit. Sungai yang awalnya menjadi tempat kehidupan akan berubah menjadi sarang penularan penyakit bahkan menyebabkan kematian, hal itu terjadi karena pencemaran sungai. (asn)

Comments

comments