Newsflash

Berkaca dari Sungai Chao Phraya
Ditulis Oleh tabloid desa   
Sabtu, 14 Pebruari 2009

ImageSungai Musi terus mengalir. Menjadi urat nadi perekonomian di masa lampau, sampai dengan kini masih memberi kehidupan. Namun Sungai Musi masih butuh perawatan, agar penghidupan yang diberikan tidak menyisakan kaum miskin kota yang bermukin pada kampung-kampung kumuh di tepian sungai.

Sebagai masyarakat Kota Palembang dengan sebutan “kota seribu sungai” itu, tentu keperdulain kita terhadap sungai dan kehidupan masyarakatnya harus terus terjaga. Sebuah pengalaman berharga, kami berkesempatan melakukan perjalanan wisata di Sungai Chao Praya Bangkok Thailand.

Perjalan itu untuk mengetahui lebih jauh mengenai sektor wisata yang dikembang kan di negara gajah putih dengan potensi wisata sungai yang sama seperti di Palembang.

Terakhir perjalanan kami saat mengikuti Experiental Tour Wisata Sungai yang diadakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, pada pertengahan bulan Februari 2006. Dan sebuah kesempatan yang sangat berharga dapat berbagi pngalaman tersebut, muntuk berkaca dalam mengambangkan pariwisata Sungai Musi.

Dahulu tidak jauh berbeda, antara Musi dengan Chao Phraya. Kini, sebuah tantangan untuk menjadikannya sama. Dalam sebuah malam di sungai Choa Phraya Deru perahu motor bergantian memecah air sungai yang membelah kota.

Tidak hanya sebagai sarana transportasi, sungai Choa Phraya pun berfungsi sebagai sarana irigasi. Hasil pertanian berupa buah dan sayuran lalu lalang dan dijual belikan di pasar terapung saat pagi hari.

Di waktu malam sungai ini semakin hidup. Bermacam kapal lalu lalang, dari yang berukuran kecil bermuatan sepuluh orang, sampai dengan kapal pesiar dengan kapasitas seribu orang. Bersama semilir angin dan gemerlap sinar lampu yang memukau serta iringan musik tradisional atau pop, sajian makan malam siap untuk disantap.

Wisata Sungai di Thailand menampilkan budaya masyarakat sungai yang tetap lestari, juga di anak sungainya, seperti pasar terapung Demnern Saduak itu. Tetapi, tidak juga menutup perkembangan yang penuh dengan modernisasi seperti di Bangkok.

Mengemas berbagai macam hal menjadi teramat penting dalam dunia perpariwisataan. Seperti halnya, Restoran Royal Dragon di Bangkok yang juga saya singgahi dalam perjalanan itu, tidak hanya menyajikan bentuk wisata kuliner, melainkan penyajian makanan yang menyertakan keahlian seni beladiri khas Thailand itu menjadi daya tarik tersendiri.

Dengan kemasan yang baik, segala sesuatu hal yang sepele memiliki daya jual wisata. Tidak hanya ragam makanan yang disajikan, Restoran yang sempat saya singgahi dalam perjalanan ke Bangkok itu merupakan restoran terbesar di dunia.

Sederhana tetapi menarik, ketika dalam perjalanan di lokasi pembuatan kerajinan tangan dan makanan khas Thailand dipertontonkan langsung. Seperti pembuantan makanan tradisional Thailand yang berbahan dasar dari kelapa. Bahkan, kerajinan tangan dari serabut dan batok kelapanya pun ada. Juga kerajinan tangan lainnya seperti tembikar dan pembutan payung tradisional.

Kalau di Palembang bisa saja pembuatan songket, pempek, atau permainan musik tradisional menjadi hal menarik untuk di pertontonkan sekaligus wisatawan berkesempatan mencobanya langsung. Dengan mengemas seperti itu, tidak hanya menjadi menarik, melainkan memiliki daya jual tinggi.

Memang peran investasi sangat besar. Sebut saja The Rose Garden, dengan luas 20 hektar di tepian sungai Chao Phraya dan hotel berbintang lima lainnya yang juga berada di tepian sungai.

Rose Garden, yang terletak di sebelah Barat Bangkok, 32 kilometer menuju Nakhon Pathom. Dalam areal seluas 20 hektar itu, terdapat beberapa restoran yang berada ditepian sungai. Selain menyediakan fasilitas kehidupan modern, seperti kolam renang, lapangan golf, dan lainnya. Rose Garden juga menyajikan keasrian kehidupan masyarakat Thailand dalam sebuah kampung.

Kita bisa menyaksikan ratusan seniman memperagakan berbagai jenis kesenian tradisional. Peninggalan budaya dan cara hidup masyarakat tradisional di peragakan sesuai dengan yang aslinya, bahkaan atraksi gajah juga ada. Semuanya kental dengan kehidupan masyarakat tepian sungai.

Dari kehidupan rumah tangga dengan masakannya, bertani dengan sawahnya, sampai kehidupan keagamaan dengan Bhiksunya. Para pengunjung bisa mengikuti langsung.

Kita harus akui, dengan pengalaman yang lama mendampingi masyarakat tepian Musi terdapat perbedaan yang sangat mencolok dengan masyarakat sungai Chaou Phraya. Mereka disana tidak hanya berpartisipasi, melainkan menyatu dengan perpariwisataan Thailand.

Hal itu dapat kita dilihat dari kebersihan sungai yang mereka jaga, walau pemukiman di pinggir sungai itu terbilang padat tetapi tertata dengan baik dan seluruhnya menghadap sungai.

Sementara di Palembang, orientasi pembangunan yang lebih dominan ke darat merubah pemukiman pinggir sungai membelakangi sungai. Sehingga kesadaran masyarakat tepian sungai Musi dapat dibagun dengan reorientasi terhadap pembangunan dan sosialisasi tentang pentingnya keberadaan sungai kepada masyarakat.

Selain kemampuan mengemas dan menjual dengan kesadaran masyarakat didalamnya, kemudian mendatangkan investor dengan berbagai insentif beserta kemudahan yang diberikan oleh pemerintah menjadi sangat penting.

Seperti halnya dalam Visit Musi 2008, sebuah terobosan berani yang harus diacungi jempol. Karena kapan lagi kita akan memulai, kalau tidak sedari kini menggaungkan Palembang sebagai tujuan wisata sungai.

Toh, pariwisata telah teruji meningkatkan pertumbuhan beberapa negara. Seperti Thailand, yang tidak kurang dari 15 juta turis datang setiap tahunnya. Juga Malaysia, bahkan Afrika Selatan yang baru lepas dari krisis berkepanjangan memilih pariwisata sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.

Yang tidak kalah pentingnya, adalah imbas dari pembangunan perpariwisatan itu sendiri yang tidak hanya menopang pertumbuhan ekonomi rakyat, melaikan melahirkan keharmonisan sosial.

Sehingga Visit Musi 2008, menjadi titik tolak yang penting untuk menjadikan Musi di kemas agar semakin cantik dan layak jual. Pintu investasi sudah dibuka lebar. Kemudahan dan insentif bagi investasi pun sudah diberikan.

Hal lain yang kami rasakan dalam perjalanan wisata di beberapa tempat, yang tidak bisa ditinggalkan dalam mengembangkan pariwisata adalah infrastruktur. Yang merupakan kemudahan dalam mengakses lokasi wisata.

Seperti halnya perjalanan kami bersama rombongan yang dinataranya Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumsel Ir H RA Rachman Zeth M.Si, dan beberapa orang lainnya yang mewakili Sumsel, Palembang, dan Lampung, ke Bangkok itu, kenyamanan dukungan infrastruktur yang baik sangat dirasakan.

Mulai dari bandara Suvarnabhumi atau yang berarti Tanah Emas dimana kami pertama mendarat di Thailand,  sampai ke Hotel Amari Watergate di mana kami menginap, serta akses mencapai lokasi pariwisata dilengkapi dengan infrastruktur yang baik.

Demikian pula halnya, ketika dalam perjalanan pribadi saya lainnya, di Singapura, Malaysia dan beberapa negara di Eropa, keberadaan infrastruktur sangat mendukung. Memisalkan saja di Genting Highland Malaysia¸ selain dengan jalan yang bagus juga dilengkapi dengan cable car. 

Akses menuju Singapoer dan Malaysia dari Indoneisa pun beragam. Sehingga Biro travel wisata berlomba memasang tarif semurah mungkin. Bayangkan, dengan harga Rp 799 ribu, kita bisa berwisata ke Malaysia berangkat dari Batam, selama 3 malam menginap di Genting Highland dan diantar menyaksikan acara dan tempat wisata yang menarik.

Ketertarikan biro travel wisata untuk menjual dan menjadi ujung tombak promosi wisata tidak tercipta begitu saja. Saya melihat hal tersebut juga dipengaruhi oleh acara dan ragam kegiatan yang ada. Seperti halnya festival bunga di Komplek Pusat Pemerintahan Malaysia Putra Jaya dan acara lainnya. Sehingga, tepat kiranya agenda wisata Musi satu tahun penuh sudah di rancang sedari awal.

Selain penciptaan acara sebagai momen kunjungan wisata. Pengukuhan jejak sejarah di sungai musi dapat diabadaikan dengan monumen. Seperti halnya pada tepian sungai di Singapoer, terdapat monumen Raffles yang bertuliskan ‘Disinilah Semuanya Bermulai’ yang menadakan titik awal Raffles membangun Singapoer. Sedang di Musi, jejak sejarah juga dapat di monumenkan. Seperti di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. 

Mengingat perjalanan wisata Sungai Chao Phraya yang tidak bisa dibilang tidak mengesankan itu, serta perjalanan wisata lainya di beberapa negara, membuat saya yang memang sudah lama menggeluti wisata sungai, merasa iri sekaligus tertantang untuk mengembangkan wisata Sungai Musi.

Sebuah tantangan lagi untuk kita semua. Menjadikan potensi besar Sungai Musi lebih berdaya guna untuk masyarakat kota palembang bahkan Sumatera Selatan. Karena bukan hal yang mustahil, pariwisata sungai musi dalam Visit Musi 2008 akan menggerus kemiskinan yang mewarnai kehidupan masyarakat tepian sungai.

Catatan Perjalanan Wisata

Abdul Aziz Kamis

 

 
 

Polls

Setujukah Anda tentang Berobat Gratis dan Sekolah Gratis ?
 

Waktu Sekarang