Fauzih H Amro MSi: Dari Desa Menuju Kota Hingga Ke Senayan

anggota-komisi-v-dpr-fauzih-amro_20160521_233556

FAUZIH H AMRO MSI, dilahirkan pada 7 Juni 1976 di Desa Remban, yang saat ini masuk dalam wilayah Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan. Fauzih anak kedua dari enam bersaudara, buah hati dari H Amro Ahmad dan Hj Rokibah.

Fauzih memulai pendidikan dasar di SDN 01 Remban, Surulangun Rawas, Kabupaten Musirawas. Selanjutnya, Fauzih meneruskan pendidikan menengah di SMP Negeri 07 Kota Bengkulu dan dilanjutkan ke SPP DATI I Bengkulu.

Fauzih kemudian hijrah dari Pulau Sumatera untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa. Fauzih berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjajaran (UNPAD) di Bandung.  Fauzih juga melanjutkan kuliah di Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI).

Sejak duduk di bangku sekolah, Fauzih dikenal aktif berorganisasi. Fauzih dipercaya teman-temannya untuk menjabat Ketua OSIS periode 1993-1994 di SPP DATI I Bengkulu.

Kemudian, di kampus Fauzih makin aktif  berorganisasi. Dikenal sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah, Fauzih tak rendah diri dan mampu menunjukkan bahwa ia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin. Di kampus, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FAPET IPB dan Presidium Keluarga Mahasiswa IPB Tahun 1997-1998.

Ia juga bergabung dengan organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di HMI, Fauzih diamanahi sebagai Ketua HMI Komisariat FAPET IPB periode 1997, kemudian sebagai Ketua HMI Cabang Bogor periode 1997-1998. Fauzih juga pernah mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris BADKO HMI Jabagbar periode 1998-2000 dan Ketua PTKP PB HMI periode 2002-2004.

Fauzi juga pernah menjabat sebagai Ketua Kelompok Diskusi Anak Bangsa pada tahun 1997-1998, Ketua Koperasi Nusantara Bergema tahun 1999 hingga 2000, Ketua KMI periode 2004-2013,  dan Ketua Umum PP PRI tahun 2007-2013.

Fauzih juga memiliki pengalaman kerja yang luas. Ia pernah bekerja sebagai peneliti di Unit Pendidikan dan Penelitian Jonggol (UP3J), peneliti dan instruktur pada Pelatihan dan Manajemen Penggemukan Domba Mendiknas dan PB HMI pada 2002, peneliti di PT Lembu Sodo Mandiri, Ciawi, Bogor pada tahun 2001.

Kemudian, sebagai marketing officer di PT Kartika Naya tahun 2003, direktur marketing di PT Daya Cipta Kreasindo tahun 2004. Hingga saat ini Fauzih masih menjabat sebagai Komisiaris Utama CV Muratara Jaya dan pemilik Faris Laundry & Dry Cleaning Palembang.

Fauzih juga sempat dipercaya menjadi staf ahli Fraksi PBR (Partai Bintang Reformasi) DPR RI pada tahun 2005. Kegemilangan Fauzih di dunia politik semakin cemerlang ketika di tahun 2006, Fauzih dipercaya menjabat sebagai Ketua DPW PBR Sumsel tahun 2006 hingga 2013.

Tahun 2009, Fauzih menjadi calon anggota DPR-RI dari PBR untuk daerah pemilihan (dapil) Sumsel 1 yang meliputi Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, Musirawas, dan Kota Lubuklinggau). Ketika itu Fauzih berhasil memperoleh 68.000 suara.

Tahun 2014, Fauzih kembali menjadi calon anggota DPR-RI namun kali ini ia berlabuh di Partai Hanura dan beliau berhasil memenangkan suara rakyat dan duduk sebagai anggota komisi V DPR-RI periode 2014-2019.

Keberhasilan Fauzih dalam membangun karir politik dan dunia usaha diimbangi pula dalam membina bahtera rumah tangga. Bersama istrinya, drh Baiq Yunita Arisandi, Fauzih dikarunia 3 orang putra, yakni Muhammad Azka Khenan AlFaris, Muhammad Fathir Akbar AlFaris, dan Muhammad Azzam Ramadhan AlFaris.

Fauzih dikenal sebagai anggota legislatif di komisi V yang membidangi Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal, Meteorologi, Klimatologi & Geofisika, yang cukup aktif memperjuangkan kepentingan publik.

Mengenai Dana Desa, Fauzih menginginkan agar pendamping dan pengawas desa benar-benar bekerja mendampingi aparatur desa dalam pengelolaan dana tersebut. Fauzih menghawatirkan masih banyaknya kepala desa yang belum pernah mengelola uang dalam jumlah besar, yakni Rp 600 – Rp 700 juta, bahkan Rp 1 miliar.

“Jangan sampai kepala desa dipidanakan karena tak mengerti cara menyusun APBDes,” katanya.

Bagi tanah kelahirannya Musirawas, Fauzih berupaya aktif membantu pemda setempat untuk mendorong desa-desa di Musirawas agar lepas dari predikat desa tertinggal dan sangat tertinggal. Saat ini di Musirawas ada 7 desa yang masuk kategori sangat tertinggal dan 31 desa mendapat predikat desa tertinggal.

“Kita upayakan bersama agar pada tahun 2017 nanti bisa lepas dari kategori daerah tertinggal. Untuk itu perlu dibangun akses jalan, langkah lainnya dengan pembenahan rumah masyarakat sangat miskin. Mudah-mudahan Kabupaten Mura memperoleh bantuan program bedah rumah atap, lantai dan dinding (Aladin) dari Kementerian PU. Kalau SKPD nya aktif, akan kita bantu realisasinya,” kata Fauzih.

 

Penulis        : Muhammad Ikhsan

Editor          : Sarono P Sasmito

Comments

comments