Sekdes Sumsel Berguru ke Panggungharjo

Selain unggul dalam akuntabilitas dan transparansinya, desa di Bantul Yogyakarta ini telah mengembangkan BUMDes pengelolaan sampah yang melibatkan 1.500 Kepala Keluarga.

Desa Panggungharjo memiliki segudang prestasi. Tidak hanya tingkat provinsi, namun desa yang terletak di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yoyakarta itu berhasil menjadi juara 1 lomba Desa Tingkat Nasional tahun 2014. Hal tersebutlah yang menjadikan Desa Panggungharjo tempat bergurunya para Sekertaris Desa (Sekdes) asal Sumatera Selatan.

Kepala Bidang Diklat Pemerintahan Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Sumatera Selatan yang menjadi kepala rombongan mengatakan, observasi lapangan dilakukan untuk membekali sekretaris desa sebagai peserta dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam pembinaan, pemerintahan umum, pemerintahan desa, pembinaan kesatuan bangsa dan perlindungan masyarakat serta pembinaaan ketentraman dan ketertiban dan peningkatan pelayanan terhadap masyaakat.

Peserta observasi lapangan sebanyak 50 Sekdes asal Sumsel yang diselenggarakan pada pertengahan September lalu itu, tentu mendapat banyak pelajaran yang dapat di terapkan di Sumsel.

Keunggulan Desa yang dikenal juga sebagai Kampung Dolanan Anak itu adalah adanya inovasi-inovasi yang dilakukan Pemerintah Desa seperti dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparasi di bidang Pemerintahan maka Pemerintah Desa melakukan MOU dengan BPKP, bekerjasama dengan Kantor Arsip Kabupaten Bantul, dan Penerbitan Koran Desa.

Di bidang Pendidikan adanya Kartu Pintar dan Pembayaran Uang SPP dengan Sampah, Bidang Kesehatan adanya Kartu KIA dan Ambulan Desa. Dalam bidang ekonomi, sejak tahun 2013 dengan modal 25 Juta Pemerintah Desa Panggungharjo membentuk Badan Usaha Milik Desa BUM Desa yang bergerak dalam pengolahan sampah dengan asset sekarang mencapai 360 Juta.

Menteri DPDT Terinspirasi

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Marwan Djafar yang pernah berkunjung ke Desa Panggungharjo pun terinspirasi BUMDes sampah disana. Marwan menuturkan, setiap desa memiliki keunggulannya masing-masing. Bila desa sadar akan potensi yang dimiliki, maka itu dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi desa yang bersangkutan.

Seperti yang terjadi di Panggungharjo, Pemdes setempat bersama pihak-pihak terkait mengelola sampah yang kemudian menguntungkan desa tersebut. Tak salah kata Marwan, bila hal-hal yang baik ditularkan ke desa lainnya.

Sedangkan Lurah Panggungharjo, Wahyudi Hadi Anggoro mengungkapkan, BUMDes yang sudah berdiri semenjak tahun 2013 itu kini sudah memiliki aset sekitar Rp450 juta. Adapun omzet perbulan mencapai Rp34 juta hingga Rp36 juta.

Pengelola BUMDes memanfaatkan sampah-sampah yang nampaknya sudah tidak berguna menjadi barang yang lebih bermanfaat. Menurut Wahyudi, Keuntungan yang diperoleh BUMDes digunakan untuk membuat kartu sehat dan kartu kaya demi mendukung program satu rumah satu sarjana.

Dari BUMDes itu pula katanya, Pemdes Panggungharjo menginisiasi sebuah sekolah yang menggunakan sampah sebagai SPP-nya. Saat ini, sudah ada 1500 kepala keluarga (KK) yang ikut aktif di BUMdes sampah tersebut.

“Sejauh ini sudah ada 65 kabupaten atau kota yang belajar di sini. Salah satu program yang kami gencarkan adalah satu rumah satu sarjana. Kami ingin tingkat pendidikan masyarakat Panggungharjo semakin meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Wahyudi mantap. (*/red)

Comments

comments