Sedekah Besar Asian Games

Tabloid-DESA.com — Asian Games 2018, tinggal menghitung hari. Kini pemerintah dan seluruh masyarakat Sumatera Selatan sedang sibuk-sibuknya, melakukan berbagai persiapan penting, agar sejarah pelaksanaan ajang olahraga Internasional tersebut berlangsung sukses, menang, dan berkesan.

Sumsel sebagai tuan rumah pelaksana, tidak ubahnya seperti panitia keluarga yang akan melaksanakan acara besar persedekahan. Acara yang digelar mungkin hanya sekali seumur hidup tersebut, harus benar-benar di perhatikan dan dilakukan sejak jauh hari.

Tidak salah jika rumah Sumsel yang memang sudah mewah, harus dibenahi. Seluruh bangunan rumah di cat ulang biar cerah, di bangunkan taman dan jembatan penghubung antar kolam satu dengan lainnya. Air kolam yang kotor, kemudian di kuras dan di isi dengan ikan-ikan baru. Jalan akses kerumah juga di benahi, di timbun dan di aspal.

Karena tamu yang di undang sangat banyak, tidak salah jika tuan rumah juga membangun kamar-kamar tamu yang dibuat senyaman mungkin. Lengkap dengan fasilitas yang baik, modern, dan mewah. Lampu kamar, taman, dan ruangan terang benderang. Disertai kelap-kelip cahaya lampu taman yang semarak, diatas teduhnya pohon-pohon rindang dan taman bunga yang wangi semerbak yang sudah kelola oleh tukang kebun.

AG1

Tempat pelaksanaan acara juga sudah di jaga ketat. Jauh hari lokasi tersebut sudah steril, dan siap di gunakan oleh para tamu dan undang yang akan bertanding pada hari pelaksanaan.

Menjelang hari H, bau semerbak masakan utama dan khas sudah tercium ke seluruh kampung. Sebagian tamu terdekat berdatangan. Ada yang membantu mengiris bumbu, mencuci bahan makanan, memastikan sound system bekerja dengan baik, dan berdoa sepanjang waktu agar tidak terjadi hal-hal yang dapat menghambat jalannya persedekahan.

Alangkah baiknya, jika saat acara persedekahan berlangsung. Matahari bakal bersinar cerah dan tidak terjadi hujan. Beberapa orang keluarga mencoba menghubungi pawang hujan, dan sebagian tetangga dengan sengaja memasang “jimat” anti hujan. Dengan cara meletakkan racikan tusukan bumbu dapur, yang terdiri bawang merah, bawang putih, dan cabe, diatas atap rumah.

Mungkin sebagian kita akan tertawa melihak kelakuan para tetangga, yang dengan lugunya meletakan racikan anti hujan tersebut. Yang memang tidak ada hubungannya antara hujan dan sate bawang merah, bawang putih, dan cabe merah. Tapi pawang hujan, malah meminta tuan rumah membiarkan hal tersebut berlangsung.

Gambaran tersebut cukup nyata bagi Sumsel, yang akan segera melaksanakan persedekahan Nasional dan Internasional. Tapi alam Sumsel yang Asri, khususnya hutan gambut, dan lahan yang luas terbentang sangat gampang terbakar. Inilah yang paling merepotkan setiap tahunnya. Sebab akibat yang ditimbulkan oleh asap Karhutla, bukan hanya membuat sesak nafas para tamu dan tuan rumah. Tapi juga bakal “bikin malu” seluruh jiron tetangga se-kampung.

Tapi Namanya juga hidup sekampung, ada saja toke dan juragan-juragan pemilik lahan yang luas yang kurang perduli dengan persedekahan. Mereka dikejar target usaha, tebu-tebu ribuan hectare harus segera di produksi. Caranya, ya dibakar biar tebu tersebut memberi hasil maksimal.

Marilah kita jaga Bersama rumah Sumsel kita, agar tidak memalukan saat acara persedekahan berlangsung, hingga berakhirnya pesta Asian Games. Mari menorehkan sejarah Sumsel dan Kota Palembang, sebagai tuan rumah yang membanggakan sekali seumur hidup kita. Wallahu A’lam.

Comments

comments