Satu tahun Jokowi-JK, Gotong-royong desa membangun

Satu tahun Pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla, gaung membangun Indonesai dari desa dan daerah pinggiran mengemuka, Dana Desa pun bergulir dengan banyak catatan. Banyak orang muak dengar slogan, kearifan lokal yang bernama gotong-royong itu pun pudar.

Satu tahun sudah Pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla. Dengan slogan “Kerja, Kerja, Kerja” kabiner Kerja Jokowi-JK mengejar capaian yang ambisius. Salah sataunya tentang “Membangun Indonesia Dari Desa Dan Daerah Pingiran”.

Mungkin sebagian sudah muak mendengar slogan. Namun jangan salahkan slogan, kemuakan itu timbul bukan dari slogan yang salah, melainkan dari praktek yang tidak kunjung sesuai, dengan isi slogan. Jadilah slogan hanya pemanis bibir, janji politik, dan ketika slogan masuk dalam anggaran negara, pun hanya menjadi proyek guna mencari keuntungan materi semata dan atau nama baik diri atau golongan tertentu.

Demikian halnya “Membangun Indonesia dari desa dan daerah pinggiran” tentu akan memuakkan ketika hanya menjadi slogan dan janji manis belaka. Namun sekali lagi isi slogan itu bisa jadi tidak salah.

Bicara tentang capaian utama pembangunan, yaitu kesejahteraan yang berdaulat. Masyarakat desa lah yang sudah semestinya menjadi prioritas. Karena secara absolut masyarakat desa masih lebih miskin dari pada kota. Jumlah penduduk miskin di desa berkisar 19 juta jiwa, sedangkan di kota berkisar 11,1 juta jiwa, atau dengan perbandingan 14,4 persen penduduk miskin di desa dan 8,5 persen penduduk miskin di Kota.

Mungkin tidak terlalu jauh perbedaannya, namun bagaimana kalau penduduk miskin di kota itu sebenarnya merupakan penduduk desa yang bermigrasi ke kota, untuk mencari pekerjaan informal karena di desa sudah berkurang sumber penghidupannya.

Fakta akan pentingnya perhatian kepada desa juga dapat dilihat dari 3.396 desa tertinggal yang masih membutuhkan fasilitas umum pondok bersalin, 10.080 desa membutuhkan Sekolah Dasar (SD), dan banyak lagi fakta lainnya akan ketertinggalan desa.

Sebuah fakta lain akan pentingnya pembangunan dari desa yang menopang bangkitnya sebuah negara, telah dibuktikan oleh negeri ginseng, Korea Selatan. Mereka menyebutnya “Saemaul Undong”, bukan sebuah ‘proyek’, apalagi hanya sekedar ‘slogan’, melainkan sebuah ‘gerakan’ desa membangun.

Dana Desa dari Anggran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) sudah bergulir, sebuha harapan besar berkembang. Namun, Dana Desa pada kali pertama pada saat kabinet Jokowi-JK ini bukan sepenuhnya solusi. Lubang-lubang kekurangan penyaluran, pelaksanaan, pendampingan, dan pengawasan dana desa masih sangat perlu dilakukan perbaikan.

Oke, ini pada kali pertama Dana Desa bergulir, yang secara teknis masih banyak kekurangan dengan catatan-catatan. Namun, alangkah baiknya kekurangan teknis Dana Desa ini tidak menghilangkan ruh dari desa membangun yang diyakini akan menjadi titik tolak kebangkitan Indonesia.

Kita dapat belajar gerakan desa membangun , yang menjadi salah satu jurus jitu bagi Korea Selatan mengejar ketertinggalannya. Korea Selatan yang merdeka 2 hari sebelum Indonesia (15 Agustus 1945) termasuk salah satu negara agraris termiskin di dunia pada awal kemerdekaannya. Namun di tahun 2010, pendapatan rata-rata setiap warga Korsel per tahun melonjak tujuh kali lipat dari pendapatan per tahun rata-rata orang Indonesia.

Perekonomian Korea Selatan melesat dengan cepat hingga saat ini menjadi negara maju yang perekonomiannya dapat disejajarkan dengan Jepang, China, Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Sampai Korea Selatan pun kerap hadir di rumah dan tangan orang Indonesia, dalam bentuk produk elektroniknya. Dari desa mereka bangkit. (baca juga : Gerakan Desa Membangun Saemaul Undong Bangkitkan Korea Selatan)

Bangkitnya desa dari ketertinggalan juga sudah ditunjukkan oleh beberapa desa di Indonesia, seperti desa Penilikan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan. Desa yang mewakili Sumatera Selatan sebagai desa teladan tingkat nasional pada tahun 2015 ini membuktikan tata kelola pemerintahan dan keuangan desa yang baik.

Partisipasi masyarakat desa pun tumbuh berkembang. Tidak sedikit prestasi di dapat, dari desa terbaik tingkat Kabupaten dan Provinsi, juga menjadi desa tauladan tingkat nasional bersama 32 desa lainnya di Indonesia. (Baca juga : Desa Penilikan, Partisipasi dan Transparansi Menjadi Segudang Prestasi)

Demikian halnya Desa Panggungharjo di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang dinobatkan sebagai desa terbaik nasional. Transparansi dan akuntabilitas pemerintahan desa merupakan harga mati bagi mereka. Tanpa itu, katanya tidak akan tumbuh kekuatan besar desa membangun, yang bernama gotong-royong. (Baca juga : Panggungharjo Jadikan Dana Desa Kekuatan Energi Sosial)

Kekuatan besar yang bernama gotong-royong itu , menjadi kata yang semakin usang di negeri ini. Kekuatan yang merupakan kearifan lokal itu kian tersudut semakin dalam. Bukankah membangun Indonesia dari desa dan daerah pinggiran membutuhkan semangat gotong-royong dan kearifan lokal lainnya.

Gotong-royong, saling bahu membahu inilah yang menjadi kunci keberhasilan membangun negeri ini melalui desa. Gotong-royong tidak hanya di desa, tapi dari berbagai stakeholder. Gotong-royong yang sinergi dari pemerintah dari pusat, provinsi, dan kabupaten, yang memang berkewajiban memfasilitasi dan memberi bantuan strategis, sekaligus memandu dan memberi keteladanan dan kepemimpinan.

Peran pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati memiliki titik tekan sendiri sebagai pemegang wilayah yang membawahi pemerintahan desa. Pemerintah Kabupaten sepatutnya untuk memaksimalkan, medorong, mengawal dan mensinergikan dukungan pembangunan di desa. Sampai dengan Kepala Desa yang dituntut kecakapan, ketauladanan dan kepemimpinannya.

Secara bersamaan, masyarakat bergotong-royong mengembangkan partisipasi dan kesukarelawanan. Selebihnya merupakan faktor pendukung, yang menjadi sangat penting, untuk berperan aktif mendukung dan mengontrol pemerintah dan masyarakat sebagaimana mestinya.

“Desa harus jadi kekuatan ekonomi, agar warganya tak hijrah ke kota. Sepinya desa adalah modal utama, untuk bekerja dan mengembangkan diri,” lantun Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul Desa. “Entah bagaimana caranya, desa adalah masa depan kita. Keyakinan itu datang begitu saja, karena aku tak mau celaka,” lanjut Bang Iwan. (*/wdg)

Comments

comments