Satgas Karhutla dan Perusahaan Bersinergi Padamkan Karhutla

ccccccccc

KEBAKARAN lahan dan hutan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan masih terus terjadi mengiringi musim kemarau yang semakin kering. Puluhan hektar lahan perkebunan masyarakat yang merupakan lahan gambut di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir dan di Kecamatan Muarabelida, Kabupaten Muaraenim terbakar, Jumat (12/8/2016).

Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah mengatakan, kebakaran tersebut terjadi di lahan perkebunan masyarakat dan dekat dengan salah satu perusahaan perkebunan. Perusahaan terdekat bersama dengan tim pemadam kebakaran Manggala Agni dan instansi terkait langsung lakukan pemadaman.

“Kebakaran terjadi di sekitar kawasan Patratani, Ogan Ilir. Saat diinformasikan ada kebakaran, tim pemadam dari perusahaan terdekat langsung turun tangan lakukan pemadaman dengan peralatan pemadaman darat,” ujarnya.

BPBD Sumsel pun langsung menerbangkan helikopter untuk melakukan waterboombing ke lokasi kebakaran. Dirinya mengklaim, kebakaran lahan pun langsung dapat dipadamkan dengan bantuan tim pemadam darat dan udara.

“Kami bersinergis dan jalankan koordinasi kerjasama dengan perusahaan. Begitu juga yang terjadi di Muaraenim, tepatnya di Muara Belida yang berbatasan dengan Ogan Ilir. Perusahaan terdekat PT IAL langsung bergerak padamkan api dimana kebakaran terjadi disekitar wilayah perkebunannya,” tambahnya.

Berdasarkan pantauan satelit Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) 12 Agustus 2016, empat hotspot berada di wilayah Sumsel. Sebanyak dua titik di Musi Banyuasin, satu titik di Pali dan satu titik di Musi Rawas.

Iriansyah menuturkan, pantauan satelit merupakan penglihatan berselang tujuh jam sebelumnya. Semua titik api yang merupakan kebakaran lahan dan yang terpantau langsung dilapangan sudah dipadamkan segera oleh satgas.

“Pemadaman kebakaran lahan saat ini lebih baik dari tahun sebelumnya karena perusahaan perkebunan sudah menjalankan komitmen untuk mencegah agar karhutla tidak meluas seperti tahun lalu,” terangnya.

Saat ini, munculnya karhutla dikarenakan sudah masuk musim kemarau. Meski terkadang hujan mengguyur, namun kondisi lahan di Sumatra Selatan yang rata-rata sudah kering sangat memudahkan terjadinya kebakaran.

“Kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan masih kurang. Banyak masyarakat masih menganggap saat ini adalah waktu tepat membuka lahan dengan cara membakar agar pengeluaran minim. Padahal ini sudah dilarang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Sumsel Sumarjono menerangkan, 75 anggota Gapki yang ada di Sumsel sudah berkomitmen untuk bantu pemerintah daerah mencegah karhutla.

Total perusahaan perkebunan kelapa sawit di Sumsel ada 270. Sisa yang belum tergabung dalam Gapki tetap dminta agar waspada dan mencegah karhutla.

“Untuk semua anggota Gapki telah berupaya maksimal cegah kebakaran lahan. Diantaranya sosialisasi, bantu pengadaan alat pemadam kebakaran dan membentuk posko pengendalian karhutla di daerah perkebunannya,” tuturnya.

Sumarjono mengakui, isu negatif perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan mancanegara sudah sangat meluas. Industri kelapa sawit dituding menjadi pelaku utama kebakaran hutan dan lahan.

“Gapki di sini tidak mau berpangkutangan tapi turun tangan langsung cegah karhutla. Berbagai langkah sudah kita dilakukan, termasuk lakukan aksi. Latihan pemadaman api, bentuk satgas dan desa siaga api,” lanjutnya.

Dirinya menuturkan, Sumsel merupakan daerah paling maju antisipasi cegah kebakaran. “Industri sawit jangan jadi biangkerok dan sumber kebencian negara dan mancanegara. Musibah memang tidak bisa kita hindari tapi bisa kita antisipasi,” tegasnya.

Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Fakhrurozi menjelaskan, di tahun lalu terjadi Elnino yang dahsyat sehingga terjadi kebakaran hutan dan lahan yang tidak terduga menyebabkan ebih dari 700.000 hektar telah terbakar.

Karena ada kebakaran di lahan milik perusahaan perkebunan kelapa sawit, maka perusahaan perkebunanlah yang dianggap menjadi pihak yang harus bertanggungjawab.

“Kalau itu dilakukan perkebunan kelapa sawit, harusnya sama dengan luas perkebunan. Luas perkebunan yang dibuka baru harusnya besar dan bertambah. Tapi tidak mungkin ada perkebunan kelapa sawit yang membakar lahannya dengan sengaja,” ujarnya.

Ia menyakini hal itu merupakan kampanye hitam yang tertuju pada perkebunan kelapa sawit. Karena itu juga, tahun ini perusahaan perkebunan kelapa sawit berupaya keras maksimal mungkin untuk cegah karhutla.

Saat ini, perusahaan-perusahaan perkebunan sudah melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat sekitar untuk lakukan pemadaman jika terjadi kebakaran. Sosialisasi, membentuk desa peduli api dan membangun posko pencegahan telah dilakukan perusahaan.

“Semua perusahaan harus peduli untuk mencegah karhutla. Hanya saja, memang masih ada perusahaan yang belum tergerak untuk bangun posko dan bentuk desa siaga api. Pemerintah terus tuntut perusahaan agar ikut berkontribusi. Jangan sampai ada perusahaan tak peduli dengan karhutla. Posko juga harus dilengkapi sarana dan prasarana pemadaman yang memadai,” jelasnya. (*)

 

Comments

comments