Sarung Tak Lagi Terkurung

sarung jokowi

Tabloid-DESA.com – Sarung bukanlah barang mewah, tapi bukan pula barang murahan. Sarung tak hanya busana yang praktis, tetapi juga multi fungsi. Busana yang merupakan dua ratus senti meter persegi kain, dengan corak bermacam-macam, yang kedua tepinya dipertautkan memanjang ini, boleh dikenakan buat acara perhelatan, boleh juga untuk ke kamar kecil; bisa juga dipakai sebagai pengganti selimut untuk menahan dingin, atau dibuat kerudung untuk berlindung dari terik, bahkan masih banyak pemanfaatannya di luar tak jadi busana. Wajar bila seorang budayawan, Goenawan Mohamad, pernah menulis bahwa penemu sarung adalah seorang jenius.

Dalam kebudayaan Indonesia, sarung sangat erat kaitannya dengan kaum muslim, terutama para santri, karena dulu sarung pertama kali diperkenalkan oleh para pedagang Arab dan ketika memperkenalkan Islam di Indonesia, sarung digunakan untuk melaksanakan salat. Pemahaman ini pun terus melekat di benak masyarakat Indonesia sehingga sarung akhirnya menjadi pakaian untuk beribadah. Tradisi itu hingga kini tetap dipertahankan di pesantren dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Sarung, seperti halnya setiap produk kebudayaan, mengalami pasang surut. Ada satu masa ketika sarung begitu melekat dengan kita. Namun kini, eksistensi sarung tergerus oleh modernisasi yang bergerak cepat. Ketika setelan jas dianggap lebih menyimbolkan kelas sosial atas, dan jeans dirasa lebih kekinian; sarung perlahan ditinggalkan.

Maka, sekarang sarung terasa asing bagi kita, meski dalam keseharian itu adalah benda yang begitu dekat dengan kita. Sarung telah surut menjadi benda yang sangat pribadi: hanya untuk di kamar tidur, di kamar mandi, atau buat sembahyang pagi. Satu-satunya kesempatan ketika sarung go public ialah bila orang pergi ke masjid, di hari Jumat atau hari raya. Selebihnya: ia hanya ornamen pesta perkawinan yang agak merepotkan.

Tak heran, bila pernah muncul satu idiom “kaum sarungan” yang menggambarkan sarung sebagai identitas kaum pinggiran. Sarung juga mendapat beban makna sebagai kampungan, udik, dan kuno. Bagaimanapun, di baliknya tetap menyimpan makna kebersahajaan dan merakyat.

sarung indonesia

Mempromosikan Sarung

Upaya mempromosikan sarung akhir-akhir ini tak lagi dari kalangan pesantren saja, justru dari figur publik seperti Presiden Joko Widodo dan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang kebetulan akrab dengan tradisi pesantren ala Nadhlatul Ulama (NU). Keduanya mampu menunjukkan bahwa sarung tak hanya bagian dari budaya nasional tetapi juga busana yang rapi, indah, nyaman, dan tetap cocok dikenakan untuk acara formal.

Jokowi misalnya, berkali-kali mengenakan sarung di acara formal. Satu yang paling hangat diperbincangkan adalah saat membuka acara Muktamar NU tahun lalu, di mana Jokowi memadukan atasan kemeja dan jas dengan sarung dan peci. Begitu juga dengan Dedi Mulyadi, yang kerap mengenakan sarung saat jadi pembicara dan acara formal. Dedi Mulyadi bahkan menetapkan aturan wajib mengenakan sarung bagi para PNS di daerahnya di setiap hari Jumat.

Upaya mempopulerkan sarung oleh dua tokoh tersebut menuai apresiasi dari banyak pihak. Meski tak secara langsung menunjukkan hal ini sebagai bentuk dukungan, namun sarung yang dikenakan Presiden Jokowi membuat para desainer makin optimis bisa menjadikan sarung sebagai busana khas Indonesia untuk “mendunia”.

sarung fashion show

Usaha membuat sarung go international sesungguhnya tidak dimulai lewat sarung Jokowi saja. Enam tahun lalu, desainer dari Indonesia, Ali Charisma dan Dina Midiani lantang menyuarakan sarung sebagai busana nasional Indonesia. Tak hanya itu, mereka juga ingin menyejajarkan sarung bersama batik yang sudah lebih dulu jadi identitas bangsa Indonesia bahkan dijadikan warisan budaya dunia oleh PBB.

Desainer-desainer Indonesia memang pada dasarnya lebih suka mengeksplorasi busana dengan kain-kain tradisional. Dalam handbook berjudul Indonesian Women’s Fashion: The Inspiration of New Style yang diterbitkan oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia pada 2009, karya busana para desainer muda Indonesia terinspirasi dari warisan budaya yang mencerminkan ke-Indonesia-an di dalam kain-kain tradisional seperti batik, songket, dan tenun ikat.

Setelah ketiga kain tersebut berhasil dibawa mendunia dan jadi tren fesyen, kini para desainer Indonesia menggalakkan sarung yang digadang-gadang akan menjadi tren fesyen 2017. Di dunia, sarung Indonesia memang sudah cukup dikenal. Di negara-negara yang punya akar budaya bersarung, produk sarung Indonesia dapat diterima oleh masyarakat Arab Saudi, Yaman, Afrika Selatan, Malaysia, Myanmar, Niger, Nigeria, dan lain-lainnya. Sarung asal Indonesia dianggap berkualitas dan produk yang beragam.

Pun ada titik cerah bahwa motif sarung yang kotak-kotak serta atribut peci bisa menjadi padu padan busana yang kece ketika hal ini menjadi sorotan di ajang Milan Fashion Week. Sebuah majalah fashion pria, GQ, beberapa bulan lalu memotret gaya busana para lelaki di ajang tersebut dan mereka menobatkan salah seorang pria sebagai pemilik gaya street style terbaik dengan busana kain sarung yang disampirkan di leher serta peci yang menutup kepalanya. (Kadin Kum,ala)

Comments

comments