• Home »
  • JELAJAH »
  • Ratusan Penyu Sisik di Pulau Maspari. Potensi Wisata Alam Kabupaten OKI

Ratusan Penyu Sisik di Pulau Maspari. Potensi Wisata Alam Kabupaten OKI

penyu-sisik-pulau-pramuka-indonesia-travel1

PULAU Maspari tidak ditemukan di peta. Pulau yang merupakan satu-satunya milik Sumatera Selatan ini terletak di Selat Bangka. Pulau ini merupakan potensi wisata milik masyarakat desa di KecamatanTulungselapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Perjalanan saya dari Desa Simpang Tiga Makmur menuju Pulau Maspari menggunakan speedbord mesin tempel 150 PK, memakan waktu sekitar 1,5 jam. Perjalanan ke arah utara Selat Bangka.

Dari jauh terlihat bukit di sebelah kiri pulau. Di atas bukit itu terdapat sebuah tower rambu suar sebagai pemandu kapal-kapal laut yang lewat melintasi Selat Bangka. Kian dekat kami melihat sebuah jembatan dermaga, tapi speedbot memilih berlabuh di sampingnya di dekat sebuah kapal motor yang terdampar. Ternyata jembatan tersebut putus.

Pasir putih menyambut saya. Saya melihat sejumlah bangunan milik Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan, yang tidak terawat.  Bangunan ini dulunya mau dijadikan pusat pembibitan udang windu dan ikan bandeng. Sempat berjalan, tapi karena kendala listrik, bibit yang sudah jadi mati, dan kegiatan pun dihentikan sambil menunggu solusi persoalan listrik.

Di masa lalu, ada kemungkinan masyarakat menetap di Pulau Maspari sebab ditemukan tiga sumur air tawar, dan dua makam tua.

“Ada tiga sumur air tawar di sini. Selama musim kemarau kemarin, ada warga kita maupun dari Sungai Lumpur mengambil air di sini. Termasuk pula nelayan yang melaut kehabisan air, pasti mengambil ke sini,” kata Karnawi.

Di dekat sumur itu terdapat tanah datar yang hanya ditumbuhi rumput, sekitar satu hektar. Diperkirakan dulunya merupakan wilayah pemukiman penduduk. Tak jauh dari sumur terdapat sebuah pohon besar. Karnawi tidak tahu jenis pohon tersebut. Tapi warganya menyebut “pohon are”. Di bawah pohon ini terdapat dua makam yang diberi tanda papan, dan tampak semen yang baru dibuat seseorang. Saya bergegas ke arah selatan dan barat Pulau Maspari. Di dalam hutan yang sebagian terbakar, ditemukan pula sebuah makam. Kemungkinan makam orang muslim, jika dilihat dari batu nisannya.

Beberapa langkah kemudian, setelah menerobos pohon bakau, saya menemukan pantai. Ombak cukup besar menghantam pantai. Ada tiga kali saya nyaris terjatuh akibat hantaman ombak. Saya ke pantai berpasir putih, yang dari jauh terlihat seperti “ekor” ikan pari. Harapan saya menemukan penyu sisik tidak terwujud. Saya menemukan berbagai lubang yang kemungkinan tempat telur penyu yang sudah digali seseorang.

Pulau Maspari secara administratif terletak di Desa Simpang Tiga Jaya, Kecamatan Tulungselapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Pulau Maspari satu-satunya pulau yang dimiliki Sumatera Selatan. Letaknya berada di Selat Bangka, jaraknya berkisar 90-100 kilometer dari pesisir timur Sumatera Selatan.

“Sudah ada yang mengambil telurnya,” kata Sadin, warga Desa Simpang Tiga Makmur, sambil mengais lubang galian di pantai yang dipenuhi sampah plastik. “Setiap lubang berisi sekitar 200 telur. Dijual harganya Rp500 per butir. Harga pasarannya Rp1000 per butir,” kata Sadin, memberi alasan kenapa telur penyu sisik di Pulau Maspari diburu orang.

Berdasarkan artikel yang ditulis Agus Sulaiman, seorang penyelam dan pamong saka bahari daerah Sumsel LANAL Palembang, yang melakukan survei ke Pulau Maspari tahun 2011,  “Kami pun menemukan ratusan telur dalam satu lubang yang siap menetas, di saat yang bersamaan tanpa diduga ternyata ada satu butir telur yang telah menetas sehingga dapat segera saya kenali bahwa itu adalah tukik jenis penyu sisik yang keberadaannya sangat dilindungi karena sudah cukup langka di muka bumi ini,” tulisnya. Selain penyu, di Pulau Maspari ini banyak terdapat ikan pari. “Banyak nelayan yang menangkap dan memancing ikan pari di sekitar pulau ini.”

Belum dilindungi
Penyu sisik (Eretmochelys imbricato) tergolong dalam familia Cheloniidae. Jenis penyu ini terancam punah, meskipun sebarannya di seluruh dunia. Secara umum, penampilan penyu sisik mirip dengan penyu lainnya. Tubuh penyu sisik datar, dilindungi sebuah karapkas, serta sirip seperti lengan yang beradaptasi untuk berenang.

Dikutip dari tulisan Jay Fajar berjudul “Penyu Sisik, Penyu Pengembara yang Terancam Punah” di Mongabay Indonesia pada 10 November 2014, saat ini di dunia, hanya terdapat tujuh jenis kura-kura laut yang masih bertahan hidup, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu tempayan (Caretta caretta) dan penyu kemp’s ridley (Lepidochelys kempi).   Hanya penyu kemp’s ridley yang tercatat tidak pernah ditemukan di perairan Indonesia.

Semua jenis penyu tersebut, kecuali penyu pipih,   dimasukkan dalam hewan yang dilindungi baik oleh peraturan nasional maupun internasional. Badan konservasi dunia (IUCN) memasukkan  penyu belimbing, penyu kemp’s ridley dan penyu sisik sebagai satwa sangat terancam punah (critically endangered). Sementara penyu hijau, penyu lekang dan penyu tempayan digolongkan sebagai terancam punah (endangered).

Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), memasukkan semua jenis penyu dalam appendix I, yang artinya dilarang perdagangkan untuk tujuan komersial.

Di Indonesia, semua jenis penyu dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang berarti perdagangan penyu dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya dilarang. Menurut UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,   pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu itu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan.

Perbedaan penyu sisik dengan penyu lainnya, paruhnya melengkung dengan bibir atas menonjol, serta pinggiran cangkangnya yang seperti gergaji. Menariknya, cangkang penyu sisik dapat berubah warna yang disesuaikan dengan temperatur air.

Meski merupakan satwa pemakan segala (omnivora), makanan utama penyu sisik adalah spons laut dari jenis tertentu, seperti dari ordo Astroforida, Spiroforida, dan Hadromerida dalam kelas Demospongiae. Penyu sisik juga memakan alga, cnidaria, ctenofora, dan ubur-ubur lainnya, serta anemon laut. Mereka juga memakan ubur-ubur berbahaya seperti ubur-ubur api (Physalia physalis) dari kelas hydrozoa. Penyu sisik menutup mata untuk melindungi mata mereka ketika memakan cnidaria. Sengatan dari ubur-ubur api tak mempan terhadap lapisan kepala penyu tersebut.

Paruh penyu sisik agak runcing sehingga memungkinkan mampu menjangkau makanan yang berada di celah-celah karang seperti sponge dan anemon. Mereka juga memakan udang dan cumi-cumi.

Penyu sisik juga berperan penting dalam ekosistem laut. Diperkirakan penyu sisik mengkonsumsi spons hingga 1000 pon atau sekira 450 kg per tahun, sehingga cukup signifikan dalam mengendalikan laju pertumbuhan bunga karang yang dapat mengganggu pertumbuhan terumbu karang.

Berapa jumlah penyu sisik di Pulau Maspari? Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr.Moh. Rasyid Ridho, guru besar dari Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya pada 2007, terdapat 24 ekor penyu sisik yang naik ke Pulau Maspari untuk bertelur. Telur yang ditemukan sekitar 3.060 butir dengan diameter 3 centimeter. Penelitian Ridho menyebutkan luas perairan di sekitar Pulau Maspari 14,8 hektar, darat seluas 6,1 hektar, terumbu karang 10,3 hektar, pasir 11,1 hektar.

Pulau Maspari sebagai pulau tempat penyu sisik bertelur, tampaknya belum banyak diketahui. Berbagai tempat yang populer penyu meletakkan telurnya, yaitu Pantai selatan Jawa Barat, pantai selatan Bali, Kalimantan Tengah,   pantai selatan Lombok, sekitar pantai Alas Purwo Jawa Timur, Retak ilir Muko-muko Bengkulu, Pulau Cangke Sulawesi selatan, Pulau Jemur Riau, Pulau Sangalaki Berau Kalimantan Timur.  * Taufik Wijaya.

Comments

comments