Ramadhan, Luruskan Tauhid Berjihad Meraih Ketakwaan

SUJUD

Tabloid-DESA.com – Bulan Ramadhan tidak akan lepas dari Ibadah puasa, sholat tarawih, dan berbagai hal yang berhubungan dengan Ramadhan. Ditengah masyarakat yang ramai berburu makanan dan minuman berbuka, khidmatnya Ramadhan seharusnya tidak hanya sebatas ritual, namun dapat menjadi momen penting menjaga persatuan dan persaudaraan bangsa. 

Islam, bukan agama yang sekedar mengajarkan tentang ibadah untuk mendapatkan Ridha Allah hingga mendapatkan syurga di akhirat. Namun, Islam lebih luas mengajarkan kepada manusia tentang persaudaraan, berbangsa, bernegara, dan bersatu padu dalam sebuah peradaban yang besar dan damai.

Nabi Muhammad SAW, adalah seorang pendiri, sekaligus kepala negara Madinah, dan seorang Rasul terakhir yang di utus dengan membawa kitab Alquran sebagai Mujizat hidup hingga sekarang. Rasulullah juga meluruskan ajaran Tauhid, dan menjaga pentingnya meng-Esa-kan Allah. Hingga membawa umatnya pada ajaran tauhid murni, dalam persaudaraan dan persatuan seluruh manusia bagi terciptanya kedamaian dunia.

Ramadhan, Sebuah Refleksi Kehidupan

Tahun 2018 ini, Ramadhan jatuh pada tanggal 17 Mei 2018. Sejak Rabu malam, tanggal 16 Mei masyarakat sudah berbondong-bondong mengerjakan shalat Tarawih berjamaah di masjid-masjid. Merayakan dan bersuka cita atas tibanya musim berpuasa. Musim untuk menahan lapar, haus, marah, benci, dan segala bentuk hawa nafsu yang merusak kesucian ibadah.

Dilain sisi, siangnya harinya sehari sebelum puasa. Kawasan pasar-pasar tradisional, mall, dan toko sembako di penuhi masyarakat dari segala penjuru, untuk berbelanja kebutuhan sahur. Tanpa disadari, berkah Ramadhan telah pula turut di rasakan seluruh masyarakat Palembang, bahkan mereka yang non muslim.

Pemerintah Provinsi Sumsel, sudah sejak jauh hari mempersiapkan datangnya Ramadhan. Dalam acara Coffee Morning Bulan Mei Tahun 2018 di Aula Sriwijaya, Kantor OJK Regional 7 Sumbagsel, Selasa pekan kemarin. Sekda Nasrun Umar mengatakan, pemerintah memastikan bahan pokok dalam menyambut bulan Ramadhan di Provinsi Sumsel aman. Meski, dia juga menghimbau kepada seluruh steakholder bersama-sama bersatu padu memastikan ketersediaan bahan pokok, hingga tidak terjadi lonjakan harga yang menyusahkan masyarakat luas.

“Kami akan menugaskan kepada OPD yang terkait dengan keterkaitan bahan pangan ini, agar untuk selalu menyakinkan ketersedian itu cukup. Maka itu, kalau ini dilakukan Insya Allah berjalan seperti apa yang kita harapkan,” Nasrun.

Pemerintah, jelas Nasrun, akan terus memantau harga sembako agar tetap di kisaran harga tertentu dan stoknya tetap aman beredar di pasaran.

Tidak ketinggalan Pemerintah Kabupaten/kota. Seperti Kabupaten Musi Banyuasin, sengaja membuka pasar bedug di halaman gedung perjuangan Sekayu. Puluhan lapak disiapkan Pemkab Muba yang mulai dibuka setiap harinya selama Ramadhan. Selain itu, Muba juga mengefektifkan bazar sembako murah yang di sebar di seluruh Kecamatan untuk mengantisipasi kelangkaan atau tingginya harga Sembilan bahan pokok.

Plt Bupati Muba Beni Hernedi mengatakan, keberadaan pasar bedug dapat membantu para pedagang dalam meningkatkan pendapatan, membantu masyarakat yang tidak sempat masak untuk mendapatkan menu buka puasa dan yang terpenting dapat menggeliatkan ekonomi kerakyatan di pasar.

“Kita berharap dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan, Pedagang kita koordinir dan diberi lapak di halaman pasar perjuangan sekayu dan kecamatan Sungai Lilin kita buka juga”, ujarnya

Kenyataannya,  dari pantuan di beberapa pasar tradisional. Hari pertama puasa, harga sejumlah komoditi khususnya ayam dan telur harganya meningkat tajam. Ayam potong dibanderol Rp45ribu perkilogram, sedangkan telur ayam mencapai Rp27ribu perkilogram. Meski beberapa pasar tradisional yang menjual harga ayam Rp35ribu perkilogram dan telur Rp23ribu/kilogram namun jumlahnya sangat sedikit.

Perum Bulog Divre Sumsel dan Babel melakukan inspeksi mendadak (Sidak) bersama pemerintah Sumsel dan pihak terkait. Dari sejumlah sidak di beberapa pasar tradisional seperti Palimo, Lemabang, Cinde dan lain-lain Bulog pun terkejut melihat lonjakan harga tersebut. Kepala Bulog Divre Sumsel dan Babel, Muhammad Yusuf Salahudin mengungkapkan kenaikan harga sejumlah kebutuhan menjelang dan memasuki awal ramadan semacam siklus tahunan di bulan penuh berkah itu.

“Memang kenaikan harga di bulan puasa ini semacam siklus di awal-awal ramadan. Kita tadi sudah sidak langsung ke lapangan,” katanya.

Dari hasil sidak tersebut, pihak bulog mendapati harga komoditi yang memang melambung tinggi. Namun terkait adanya oknum bermain dengan sengaja menaikkan harga, Yusuf menegaskan tak ada oknum-oknum nakal tersebut. Kenaikan harga tersebut dinilai Bulog Sumsel murni karena siklus tahunan dan stok barang sedang menipis.

“Ohh tidak ada itu oknum yang bermain, ini murni memang karena stok menipis dari agen. Pedagang yang jualan juga sepi karena stok tak banyak,” ungkap Yusuf.

Menyiasati agar harga tak terus menerus naik, pihaknya telah membicarakan kepada asosiasi pengusaha unggas untuk mengeluarkan stok daging beku mereka agar menekan harga pasaran.

“Kita sudah bicara dengan para pengusaha, mudah-mudahan harga bisa ditekan. Kemungkinan minggu depan atau 7 hari puasa harga kembali normal,” harapnya.

Tingkatan Orang Berpuasa 

Ditengah tidak pastinya harga kebutuhan pokok, atau menyaksikan sebagian masyarakat miskin yang frustasi menyaksikan sulitnya hidup. Harusnya umat Islam mengembalikan khittah atau tujuan awal dari Ramadhan.

Puasa Ramadhan merupakan perintah Allah SWT, yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”

Secara implisit, tujuan utama puasa adalah takwa. Pengertian Takwa dapat diartikan, melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya. Maka seorang yang berpuasa hendaknya selalu merenung apakah puasa yang dilakukannya membuatnya semakin mampu melaksanakan perintah atau menjauhi larangan.

Hal ini juga menjadi tolok ukur selama berpuasa, apakah sudah mengerjakan segala perintahnya, atau justru tetap melanggarnya selama berpuasa. Orang yang berpuasa, bukan hanya mampu meninggalkan segala larangan Allah, namun mampu menambah berbagai ibadah yang selama ini kurang maksimal di kerjakan. Misalkan, ibadah sholat tarawih berjamaah, berbagai sholat sunnah, memperbanyak sedekah, Tadarus, melakukan kajian keagamaan, bahkan beri’tikaf di masjid.

Ulasan di atas sering kali kita saksikan dari berbagai ceramah, baik di televisi atau melalui internet. Dan sudah menjadi kepastian, bahwa setiap muslim sadar akan perintah berpuasa, dan menjalankannya selama sebulan penuh.

Ternyata, ada tingkatan mereka yang berpuasa. Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin Puasa memiliki tiga tingkat. Yakni puasanya orang awam, puasanya orang khusus ‎dan puasa khusus buat orang khusus. Ketiganya bagaikan tingkatan tangga yang manarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.

Pertama, Puasa orang awam (orang kebanyakan), Puasa orang awam adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.  Tingkatan puasa ini menurut Al-Ghazali adalah tingkatan puasa yang paling rendah, kenapa? Karena dalam puasa ini hanyalah menahan dari makan, minum, dan hubungan suami istri Kalau puasanya hanya karena menahan makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari, maka kata Rasulullah Saw puasa orang ini termasuk puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala melainkan sedikit. Hal ini lah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya: “banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatka pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga.”

Kedua, ‎Puasanya orang khusus adalah selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa,” tulis Imam Ghazali.

Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para Shalihin (orang-orang saleh). Menurut Al- Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tinkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan. Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri. Menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran. Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Ketiga, Puasa khususnya orang yang khusus adalah ‎puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan Muqarrabin.

Sedikit Tentang Tauhid

Tauhid yang kita pahami selama ini adalah, meng-Esakan Allah SWT. Seperti terucap dalam dua kalimah Syahadat, Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad pesuruh Allah.  Kata tauhid dalam bahasa Arab merupakan asal kata dari wahhada- yuwahhada-tauhid yang berarti mengesakan/mengakui keesaan.
Secara istilah, kata “tauhid” berarti mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam rububiyah dan dalam uluhiyahNya, serta mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Surat Al Ikhlas, merupakan sandaran utama untuk berpegang teguh pada keyakinan bertauhid pada Allah SWT semata. Allah yang Esa, Allah yang satu, tidak beranak, dan tidak pula di peranakan.  Ketika muslim meyakini hanya Allah semata, nilai tauhid murni telah berada dalam jiwa raganya.  Sebab, sejak dilahirkan manusia itu fitrah atau suci.

Ada tiga macam tauhid,  yakni rububiyah, uluhiyah, dan asma dan sifat.

Tauhid Rububiyah adalah bentuk nisdbah kepada salah satu asma Allah yaitu Ar-Rabb. Yaitu meyakini bahwa hanya Allah Yang Maha Menciptakan, Memiliki, dan Mengatur alam. Tiadak sekutu bagi Allah dalam berkuasa. Dan segala sesuatu selain Allah tidak ada yang mampu mendatangkan manfaat dan mudharat baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, kecuali atas izin dan kehendak Allah.

Tauhid Uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dan kepatuhan atau dengan kata lain, mengesakan Allah dalam perbuatan hamba. Seperti shalat, puasa, zakat, hani, penyembelihan, nadzar, takut, harap, dan cinta yang semuanyta dilakukan dalam rangka mematuhi Allah serta mengharap cinta dan ridhaNya.

Tauhid Asma’ wa Shifat, yaitu mengakui dan meyakini dengan sepenuh hati nama-nama dan sifat Allah yang tercantung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa ta’thil (menafikan maknanya), tahrif (mengubah makna), tamtsil (menyerupakan), dan takyif (mereka-reka).

Cukup Panjang memahami makna tauhid, lewat berbagai penjabaran dan pemahaman yang tinggi. Namun inti dari Tauhid secara sederhana, yakni hanya meng-Esa-kan Allah SWT. Dan Menolak mempersekutukannya dalam bentuk apapun.

Contoh sederhana, seseorang oknum muslim sholat lima waktu, berzakat, puasa dibulan Ramadhan, sedekah, dan rutin melakukan berbagai perbuatan baik lainnya. Namun, seseorang oknum tersebut mempercayai dan meyakini sebuah jimat peninggalan nenek moyangnya, yang memiliki kekuatan gaib dan dapat membantunya dalam beberapa hal.

Sering kita dengar perkataan, “atas izin Allah, ajimat ini memberi kekuatan dan tidak terkalahkan”. Atau atas izin Allah, benda ini menyelamatkan dari bahaya”. Tanpa sadar, seseorang tersebut telah menyekutan Allah, telah melakukan Syirik. Padahal, essensi dari Tauhid, tidak ada yang menyamai-Nya. Tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan Allah, dan tidak ada benda yang mampu memberi keselamatan selain dari Allah SWT.

Jihad, Mujahid, Dan Syahid

Kata jihad sangat sering kita dengar. Jihad umumnya sering di hubungkan dengan upaya yang keras, untuk mencapai tujuan dengan mengharapkan ridho Allah SWT. Jihad juga kadang di artikan dengan upaya sampai mati, untuk untuk membela agama Islam dengna tujuan mendapatkan syurga yang dijanjikan.

Mereka yang berjihad di sebut Mujahid, sedangkan yang gugur dalam berjihad di sebut syahid. Dan orang yang mati syahid, akan  langsung di tempatkan di Syurga tertinggi, bahkan tanpa di hisab atau di perhitungkan lagi amal dan kebajikannya.

Kadang kala, kita turut latah memahami kata jihad. Gara-gara gom di WTC, paris, bahkan baru-baru ini di Surabaya, seolah di hubungkan dengan ajaran Islam yang sangat kental dengan kata jihad. Banyak negara yang mayoritas Muslim, saat ini sedang melawan aksi terorisme. Berapa banyak masjid hancur di bom, masyarakat di bantai oleh aksi terorisme. Hal itu hampir tidak di ekspose, dan seakan menjadi hal biasa lantaran di negerinya sedang terjadi perang.

Media barat kemudian beramai-ramai menuduh, bahwa pengeboman yang terjadi di belahan negara tertentu, adalah aksi Islam dengan slogan jihad nya.  Lantaran masyarakat sering mendengar aksi tersebut, setiap waktu, setiap detik, dan setiap hari akhirnya hal tersebut dianggap hal biasa.

Pertanyaannya, apakah orang yang tidak belajar agama kemudian mengaku berjihad, melakukan bom bunuh diri? Tidak memahami Islam kemudian bicara tentang jihad di media massa? Bahkan mereka tidak pernah membaca Quran dan Assunnah tiba-tiba jadi alergi pada kata jihad. Ini perlu di luruskan kembali.

Arti Jihad tidak semata berperang. Karena setiap muslim harus bekerja keras, dengan daya upaya untuk mendapatkan tujuannya. Yang tentunya sesuai ajaran agama Islam yang di yakininya. Kata Jihad berarti berjuang dan berusaha keras. Sama halnya dengan istilah dari Jepang dengan menggunakan kata “Bushido”, yang berarti pantang menyerah hingga tetes darah penghabisan.

Ada cukup banyak kata Jihad yang digunakan, dalam hadits Rasulullah SAW. Seperti jihad melawan hawa nafsu (berpuasa dibulan ramadhan),  Jihad artinya berjuang dan berusaha untuk menata masyrakat yang lebih baik dan bermartabat, seperti damai dan saling menghormati. Jihad maknanya berjuang dan berusaha melawan penindasan dan kedzaliman, seperti pemerkosaan, human trafficking dan korupsi. Jihad menegur pemimpin yang dzalim, Jihad berjuang dan berusaha melindungi diri hanya jika diserang atau ketika terjadi peperangan.

Jihad berarti berusaha meraih haji mabrur dengan memenuhi segala syarat, rukun dan ketentuan wajib di dalamnya,jihad dalam berbakti pada orang tua dan menuntut ilmu. Bahkan siapa saja Bisa berjihad, termasuk orang kafir. Hal itu tercantum dalam surat luqman ayat 15:

“Jika kedua orang tuamu berjihad untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan bersahabatlah dengan keduanya di dunia dengan baik”.

Artinya, jihad tidak hanya bertempur di medan perang, tapi dapat berubah sesuai situasi dan kondisi. Allah berfirman dalam Surat Alfuqon ayat 52:

“Janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an sebagai jihad yang besar”.

al-Quran mengisyaratkan kita agar berjihad terhadap orang kafir. Artinya kita harus menyampaikan pesan Allah pada mereka, bukan membunuh orang kafir.  Ayat ini perintah agar kita berbangga terhadap ajaran islam dan memberitahukan tentang kebenaran tersebut.

Dan sangat mungkin, orang-orang yang melakukan aksi bom bunuh diri justru tidak paham tentang jihad, bahkan komplotan teroris tersebut sangat tidak paham al-Quran, bahkan buta huruf dan tidak bisa membacanya.

Lawan Terorisme

Masyarakat diharapkan  memahami secara penuh, bahwa aksi terorisme di Indonesia tidak ada kaitannya dengan keyakinan agama.  Karena itu, masyarakat secara luas harus bersatu untuk melawan terorisme.

Hal itu dikatakan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumatera Selatan,Periansyah. Menurut dia, gerakan terorisme saat ini dinilai, sudah pada gerakan aksi radikal massal. Karena itu, seluruh masyarakat harus waspada dan tetap memperhatikan kondisi lingkungannya setiap saat.

“Sudah saatnya kita bersatu mencegahnya secara bersama-sama. Karena melukai sesama muslim, bukan ajaran Islam, apalagi mencederai masyarakat yang luas,” tegas Periansyah.

Dia mengungkapkan, para terorisme memang sengaja menggunakan kedok muslim, atau berkilah dengan menggunakan ajaran Islam sebagai landasan. Padahal, Islam sesungguhnya merupakan ajaran yang damai, dan mengutamakan keselamatan untuk keseluruhan manusia.

“Para tokoh agama, steakholder,dan para pemimpin kita Bersama-sama masyarakat, mari kita beri pemahaman tentang Islam sesungguhnya. Dan aksi terorisme itu bukan ajaran Islam. Saatnya umat melawan terorisme,” tegas dia.

Feriansyah menjelaskan, kata jihad yang digunakan oleh para teroris, juga telah melukai umat Islam secara keseluruhan. Padahal, aksi yang mereka lakukan hanya untuk kepentingan politik atau kekuasaan salah satu golongan saja. Bahkan, para pelaku terror adalah orang-orang yang rendah pemahaman agamanya.

“JIka mereka memahami Islam secara benar, sesuai dengan Alquran dan Hadits, dan Islam tidak mengajarkan kekejaman, aksi melukai masyarakat, bahkan mengebom rumah ibadah,” jelas dia.

Feriansyah berpesan, di bulan Ramadhan ini sudah saatnya masyarakat memahami Islam secara penuh dan tidak sepotong-sepotong. Hingga dapat memahami ajaran Islam yang lurus, bertauhid, dan berakidah yang mulia.

Ada yang menggelitik dari pengakuan Ali Imron, terpidana terorisme bom bali. Bersumber dari youtube.com, Ali Imron mengatakan, aksi-aksi teror bom yang dilakukan akhir-akhir ini meleset dari tujuan utama dari ajaran dan pemahaman jihad sesungguhnya.

“Aksi terorisme ini adalah tindakan bid’ah dari ajaran sesungguhnya. Maksudnya tindakan tersebut adalah tindakan sesat. Karena ada fiqh yang mengatur bagaimana berjihad,” tegas Ali Imron.

Tindakan sesat tersebut, kata dia, para pelaku tidak lagi memperhitungkan target pengeboman, siapa yang jadi korban, siapa yang harus di lindungi, dan melenceng dari tujuan utamanya. Menurut Ali Imron, terorisme yang sekarang terjadi adalah tindakan sesat dan keluar dari aturan sesungguhnya.

“Kami dalam menjalankan aksi, tahu siapa kawan dan siapa lawan. Tidak akan melukai sesama muslim, atau kafir zimmi. Karena mereka harus dilindungi. Nah, aksi terorisme yang ada sekarang itu sesat,” tegas dia.

Aksi melawan terorisme, dinilai harus dilakukan secara serentak dan keseluruhan. Termasuk maraknya pemberitaan hoax tentang aksi terorisme yang memberi kesan negatif dan membuat ketakutan di masyarakat.

Mantan Ketua PWNU Sumsel KH Amri Siregar kepada wartawan mengatakan, serangkaian kasus sepekan ini tak bisa dilepaskan dari kasus kericuhan di Mako Brimob. Bertebaran berita di media sosial, mulai dari perlakuan keji polisi, pelecehan terhadap Alquran, dan puncak dari isu tersebut serangan bom bunuh diri di Surabaya dan mapolresta Surabaya.

“Agama tidak mengajarkan membunuh sesama, jelas ini musuh kita bersama,” katanya.

Amri tak menampik salah sumber teror karena banyak beredarnya berita-berita hoaks. Bahwa berdasar data Kominfo lebih 50 berita di media sosial hoaks. Karenanya masyarakat harus teliti berita di medsos. Oleh sebab itu, langkah penertiban berita hoaks harus digencarkan. Gerakan melawan berita hoaks agar dimassifkan.

“Kapolri kita ini sebenarnya cerdas, beliau sudah tahu untuk meredam aksi teror, stop berita hoaks di masyarakat,” kata Amri.

Sebab dengan berita hoaks masyarakat awal mudah terporovokasi. Mereka kemudian mengamini apa yang diinginkan oleh penyebar hoaka untuk memecah belah umat dan masyarakat serta ancam NKRI. Himbauan Kapolri pada ulama dan tokoh masyarakat lainnya seharusnya  dapat mempengaruhi opini public. Namun cara menyampaikannya juga harus akurat dan didukung data yang jelas.

“Kalau datanya enggak akurat, enggak kredibel, sedangkan figurnya dipercaya, diikuti, didengar oleh publik, ini bahaya nanti miss, bisa menyebabkan kegaduhan,” pungkasnya. (Uzer)

 

Comments

comments