Prasasti Talang Tuwo Dalam Sejarah

One of the Srivijayan inscription

Tabloid-DESA.com – Keberadaan prasasti talang tuwo rencananya bakal menjadi agenda yang akan dibawa pada pelaksanaan the bonn challange pada 9-10 Mei akan datang. Keberdaannya diketahui sebagai sebuah lansekap atau bentang alam pada masa kerajaan Sriwijaya. Keberadan bentang alam Sriwijaya sendiri baru diketahui pada tahun 1984 dari hasil foto udara, yang  menunjukkan adanya jaringan kanal terpadu, kolam, serta pulau-pulau buatan yang terletak di Karanganyar, tepatnya di tepi utara Sungai Musi.  “Situs ini adalah salah satu karya lanskap pada masa Kerajaan Sriwijaya,”kata staff khusus Gubernur Sumsel Nadjib Asmani beberapa waktu lalu.

Pemerintah Sumatera Selatan kemudian memetakan dan melakukan pemugaran kawasan Taman Purbakala  Kerajaan Sriwijaya. TPKS (Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya) pada 22 Desember 1994, ditandai dengan diletakkannya replika prasasti Kedukan Bukit yang menjadi bukti otentik kelahiran dari Kerajaan Sriwijaya.

Sedangkan Prasasti Talang Tuo adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan oleh Residen Palembang Louis Constant Westenenk sekitar 17 November 1920 di kawasan gandus. Wilayah ini kini dikenal sebagai Taman Bukit Siguntang di Palembang. Prasasti ini, sekarang berada di Museum Nasional Indonesia dengan nomor inventaris D.145.p.

Di dalam prasasti talang tuwo, tertulis sebuah cerita bersejarah yang menjadi salah satu bukti terjadinya peristiwa besar pada masa itu. Di dalam prasasti tertulis “Pada tanggal 23 April 682 Dapunta Hyang melakukan siddhayatra atau perjalan suci dan  pada tanggal 19 Mei tahun yang sama, Ia berangkat dari Minanga dengan membawa 20.000 pasukan dan 200 kotak perbekalan di perahu. Pasukan yang berjalan kaki berjumlah 1.312 orang. Pada tanggal 16 Juni tiba di Mukha Upang dengan senang hati., dengan lega gembira ia mendirikan wanua Sriwijaya jaya. Siddhayatra sempurna.”

Kemudian pada tanggal 23 Maret 684 Masehi membangun Taman  Śrīksetra. Inilah niat Śrī Jayanāśa pada Prasasti Talang Tuwo, yang berbunyi: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan sebagainya.  Semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan.

Arkeolog dari badan arkeologi Sumsel, Bambang Budi Utomo mengatakan, bukti sejarah keberadaan Kerajaan Sriwijaya saat ini sudah sangat banyak ditemukan. Bahkan Alumni Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi ini menyatakan jika Kerajaan Sriwijaya satu satunya kerajaan/ kota yang memiliki akte kelahiran yang kini menjadi Palembang. Palembang, berada di tempat strategis di muara sungai. Maka kampung ini jadi kota jadi ramai di kunjungi pedagang dunia jadi berkembang menjadi kota yang besar, kota internasional yang melakukan hubungan dengan kerajaan lain seperti Tongkok, India, Thailand dan lain lain. “Setelah kota lahir lanjut Bambang Dapunta Hyang membangun taman  Sri Setra pada tahun  684 masehi. Taman itu tertulis pada prasasti Talang Tuo ditemukan di sekitar Gandus Palembang. Di sekitar talang Tuo ditemukan tanaman-tanaman yang tertulis dalam prasasti hingga sekarang,” jelasnya.

Kemudian lanjut Bambang,  Dapunta Hyang mendirikan pusat pemerintahan dalam yang tertulis dalam  Prasasti Persumpahan Telaga Batu. Prasasti yang berisi sumpah para putra mahkota, pejabat hingga petugas kerajaan. Ditemukan di sekitar 3 ilir palembang, prasasti ada di museum nasional Jakarta. Bahkan, sebelum Sriwijaya sudah ada pemukiman. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga daerah yang berada ditimur laut Palembang, menuju Muka Upang (Palembang)  dibangunlah kota Sriwijaya sekitar Tangga Buntung, Palembang.

Isi dari Prasasti Talang Tuo berangka 606 S atau 23 Maret 1684 M lain tentang pembuatan taman Sriksetra atas perintah Punta Hyang Sri Jayanasa, untuk kemakmuran semua makhluk. Di samping itu, ada juga doa dan harapan yang jelas menunjukkan sifat agama Budha.

Adapun Terjemahan dari prasasti tersebut adalah :

(1) selamat tahun Saka, telah berjalan 606 pada tanggal dua paruhterang bulan Caitra. Itulah saatnya Kebun Sriksetra ini dibuat

(2) (dari) perintah yang Dipertuan Hyang Sri Jayanaga. Ini merupakan kaulnya yang Dipertuan Hyang. Segala yang tertanam di sini: kelapa, pinang, enau, sagu

(3) dengan jenis kayu dimakan buahnya; begitu pula bambu, buluh betung, dan lain-lainnya; dan lagi kebun yang lain,

(4) yang ada empang dan telaganya, dan segala yang boleh dipakai untuk melakukan sekalian kebaikan, diperuntukkan bagi kemakmuran segala makhluk, yang berjalan atau yang tak tidak berjalan, supaya mereka mendapat

(5) kesukaan; dan bila lapar di masa diam atau di dalam perjalanan (supaya) mendapatkan makanan dengan air yang diminumnya (supaya) segala hasil ladang dan cukup

(6) pula menghidupi segala jenia hewan, terutama agar (hewan ini) menjadi banyak. Dan janganlah mereka diberi rintangan , aniaya, atau gangguan tidur. Barang siapa yang

(7) segala perbuatannya, apa pun juga, senantiasa menurut (maksud maksud di atas) maka tidak dikenai penyakitlah ia, tidak rusak apa yang akan dikerjakannya, begitu juga sekalian keluarganya. (dari berbagai sumber)

 

Comments

comments