Pempek Sebagai Makanan dan Kebudayaan

AMPERATabloid-DESA.com – Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebanyakan orang kerap menyamakan kebudayaan dengan kesenian, terutama kesenian tradisonal, padahal kesenian hanyalah satu bagian kecil dari kebudayaan. Seperti kesenian, makanan juga termasuk salah satu bagian dari kebudayaan. Resep-resep kuliner lahir dan berkembang bersama dalam suatu masyarakat tertentu.

Dalam kajian antropologi, makanan dipandang memiliki makna-makna simbolik yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar pemenuh kebutuhan sehari-hari. Seto Nurseto, seorang sarjana studi antropologi Universitas Padjadjaran, mengatakan bahwa makanan berkaitan erat dengan kebudayaan yang melingkupinya dan menjadi bagian dari identitas kebudayaan tersebut.

Rimbo Gunawan, dosen mata kuliah ‘Makanan dan Kebudayaan’ di program studi antropologi Universitas Padjadaran menjelaskan: sesuatu yang dianggap makanan oleh satu kebudayaan belum tentu dianggap makanan juga oleh kebudayaan yang lain. Setiap kelompok mengatur makanan mereka berdasarkan aturan budaya masing-masing. Aturan itu bisa didasari berbagai macam hal seperti keyakinan, sejarah, dan lain-lain. Konsekuensinya paradoksal: di satu sisi makanan bisa mengkotak-kotakan, tapi di sisi lain makanan juga bisa menjadi pemersatu.

Itulah mengapa, hampir di setiap tempat yang mana masyarakatnya berbeda budayanya, memiliki kuliner ciri khas masing-masing. Misalnya, rendang dari orang Minang, lalapan dari orang Sunda, dan pempek dari orang Palembang.

Pempek yang menjadi ikon kota Palembang dan menjadikannya “Kota Pempek” dalam kajian budaya, secara filosofis dan geografis memang sangat terikat. Pempek yang berbahan dasar ikan sungai seperti belida dan gabus cocok bagi lidah orang Palembang yang merupakan “orang-orang sungai”.

PEMPEK

Disebut demikian sebab Palembang sendiri adalah kota “peradaban sungai”, istilah antropologi untuk suatu tempat yang berkembang di mana masyarakatnya hidup di bantaran sungai dan menggantungkan hidupnya pada sungai tersebut. Adalah sungai Musi, dengan panjang sekitar 750 km yang membelah Kota Palembang menjadi dua bagian yaitu Seberang Ulu dan seberang Ilir sejak dahulu telah menjadi urat nadi perekonomian di Kota Palembang.

Menurut sejarahnya pun telah diketahui pempek memang lahir di Kota Palembang. Asal-usulnya secara historis ini pernah dituliskan dalam buku Sejarah dan Kebudayaan Palembang: Rumah Adat Limas Palembang oleh M Akib, RHM dan juga diyakini para budayawan Sumsel.

Seorang budayawan Sumsel, Yudhy Syarofie pernah menjelaskan asal-usul pempek dalam sebuah artikel di Sriwijaya Pos tahun 2013 silam, bahwa pempek telah ada sejak era kesultanan Palembang (Palembang Darussalam) dan merupakan akulturasi kebudayaan kuliner yang dibawa pedagang China ke Palembang yaitu berupa bakso atau yang lebih dikenal dimsum. Namun, bakso yang dibawa ini berbahan dasar daging yang tidak halal dikonsumsi masyarakat Palembang yang sebagian besar beragama Islam.

Secara geografis, Palembang merupakan penghasil ikan dan tepung tapioka yang cukup besar sehingga untuk mengadopsi kebudayaan bawaan itu, dibuatlah makanan berbahan
dasar ikan dan sagu yang awalnya disebut ‘kelesan’. Kelesan ini ternyata digemari masyarakat Palembang yang mulai banyak dijual pedagang, baik lokal Palembang maupun pedagang China. Sejak tahun 1910-an, mulai dikenal istilah pempek di kalangan masyarakat.

“Orang China yang sudah tua kan sering dipanggil ‘apek’. Pembeli yang membeli kelesan dari orang China ini terbiasa memanggil pedagangnya dengan sebutan ‘pek-pek-pek’, yang akhirnya kelesan dikenal dengan nama pempek,” jelasnya.

Ia mengatakan dengan banyaknya masyarakat Palembang yang merantau ke luar daerah, tentunya secara tidak langsung membawa dan mengenalkan makanan khas ini hingga ke luar Palembang. Sehingga pempek juga bisa dengan sangat mudah ditemukan di setiap penjuru Sumatera Selatan, bahkan hingga di Jambi, Bengkulu, serta Lampung.

Rebutan Warisan Budaya

Tahun 2013 silam, masyarakat Palembang sempat heboh gara-gara pemprov Jambi mendaftarkan pempek sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional asal Jambi. Tentu saja masyarakat Sumsel, khususnya Palembang tidak terima karena sudah terlanjur merasa bahwa pempek adalah salah satu bagian dari identitas mereka. Meskipun, Pemprov Jambi memberikan alasan pempek mereka sedikit berbeda dengan pempek asal Palembang, yang mana kuah ‘cuko’ dari Jambi tak menggunakan asam jawa.

Gubernur Sumsel, Alex Noerdin saat itu juga tak kurang heboh menanggapinya dengan mengatakan “siap perang” demi mempertahankan nama pempek bagi Sumatera Selatan. Tapi, tentu saja itu hanya sekadar kiasan untuk memperebutkan sertifikat WBTB, bukan ajakan angkat senjata.

Tahun 2014 Pemprov Sumsel, bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi Daerah (Balitbangnovda) Sumsel serta Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Sumsel, sebelumnya sudah mendaftarkan pempek dan beberapa kebudayaan Sumsel untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional, yaitu kesenian Dul Muluk, songket, musik Batang Hari Sembilan, sastra lisan Guritan Basemah, rumah adat Limas dan Ulu serta tarian adat Gending Sriwijaya.

Usaha itu tak sia-sia, pempek akhirnya mendapatkan sertifikat barisan budaya tak benda dari Kementerian Budaya dan Pariwisata pada bulan Oktober 2014 sebagai makanan Khas Palembang. Diberikannya sertifikat ini membuat Pempek terlindung dari usaha-usaha pihak asing yang ingin mengakui makanan khas Palembang ini.

Comments

comments