Musim Tanam Padi Di Banyuasin Tertunda Karena Kekeringan

Musim tanam padi (IP 200) di Banyuasin yang biasanya sudah dimulai pada bulan Oktober, namun karena hujan belum juga turun, sawah yang sudah dibajak dan siap ditanami masih diterlantarkan oleh petani. Hal tersebut dialami oleh petani Desa Marga Sugihan , Kecamatan Muara Padang, Banyuasin.

“Resikonya besar jika memaksakan menyebar benih pada kondisi sawah kering kerontang seperti ini,” kata Muhadi (56), seorang petani Marga Sugihan, seperti dilansir tribunnews, pada Jumat (09/10/2015).

Muhadin mengungkapkan, resikonya pertumbuhan padi tidak normal, sebagian buliran padi ada yang tumbuh dan ada yang tidak. Akhirnya dalam kondisi itu padi akan tidak dapat dipanen bersamaan dalam satu lahan sawah.

Upaya menyedot air sungai juga tidak menjadi solusi. Muhadin menuturkan, kekeringan telah membuat air sungai menjadi bercampur air asin, tidak cocok untuk padi yang baru ditanam. kalau padi sudah berusia 20 hari akan cenderung bertahan meskipun terkena air asin.

Kemarau Sampai Pertengahan Oktober

Sementara itu, Kepala BPBD dan Kesbangpol, Kabupaten Banyuasin, H Ali Leman Arsyad, SH melalui Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan Dan PBK, Drs R Dani Maulana menegaskan musim kemarau yang terjadi di wilayah Kabupaten Banyuasin terjadi diprediksikan akan terjadi hingga pertengahan bulan Oktober 2015 ini.

menurutnya, berdasarkan prediksi BMKG Sumsel, Kabupaten Banyuasin diprediksi akan diguyur hujan mulai pertengahan bulan Oktober ini. “Mudah-mudahan prediksi tersebut tidak meleset,,” tegasnya.

Ia menambahkan, jelang musim penghujan masyarakat perlu mewaspadai bencana lain yang mungkin mengintai yakni bencana angin kencang, puting beliung. Terutama didaerah daerah landai yakni di kawasan perairan Kabupaten Banyuasin dan sebagian daratan wilayah Banyuasin.

24 ribu Hektar kekeringan

Plt Kepala Dinas Pertanian,Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumsel, Erwin Noor Wibowo mengatakan  musim kemarau tahun 2015 ini telah berdampak kekeringan terhadap 24 ribu hektar sawah di Sumsel.

“Kondisi ini terjadi  Banyuasin, OKI dan OI yang paling parah,  memang keadaannya belum begitu mengancam gagal panen di Sumsel karena baru hanya sekitar 1000 ha yang alami kekeringan parah, tapi ini bisa makin luas bila tak segera mendapat tindakan penyelamatan tanaman,” kata Erwin. (*)

Comments

comments