Meriahkan Ultah dengan Mengangkat Seni Budaya Daerah

IMG_0827

HARI ulang tahun adalah hari istimewa bagi setiap insan, terlebih jika hari tersebut dirayakan bersama dengan keluarga tercinta, dan dihadiri oleh kerabat dan teman-teman. Akan tambah berkesan lagi, jika perayaan hari istimewa tersebut dilaksanakan dengan cara yang spesial, seperti yang dilakukan oleh Dian Aggraini, istri anggota I Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Dr Agung Firman Sampurna SE MSi.

Hari ulang tahun ke-43 Dian, dilaksanakan Sabtu, 2 April 2016 di Hotel Arista Palembang dengan konsep yang menawan. Menampilkan seni tradisional Sumatera Selatan dengan kemasan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga dipentaskan secara apik dan menarik. Seni budaya Sumatera Selatan sejak lama dikenal kaya akan nilai-nilai melayu yang berpadu dengan unsur budaya Cina dan Arab sehingga menghasilkan sebuah akulturisasi budaya yang indah dan harmonis.

Pada hari istimewa tersebut, hadir pula sejumlah kepala daerah di Sumsel, diantaranya adalah Walikota Palembang Harnojoyo, Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Iskandar SE, dan Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian. Hadir pula Kepala BPK RI Perwakilan Sumsel I Gede Kustawa beserta pejabat di lingkungannya, ibu-ibu dari Darma Wanita Persatuan BPK RI Perwakilan Sumsel, serta tamu undangan lainnya.

Agung Firman Sampurna dan Dian Anggraini, menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu undangan. Agung mengatakan, dalam ultah istri tercintanya ditampilkan berbagai seni seni budaya Sumsel yang harus dilestarikan.

“Kebetulan, diantara tamu undangan juga hadir sejumlah kepala daerah. Semoga acara ini dapat pula memprovokasi mereka untuk lebih mengembangkan seni budaya di daerah masing-masing,” ujar Agung saat memberi sambutan di atas panggung.

Acara ultah Dian semakin meriah dengan dipandu dengan tiga MC berlogat Palembang yang memang piawai menghangatkan suasana, yakni Yai Najib, Cek Mila, dan Cek Intan. Jamuan untuk tamu dimulai dengan food parade ala Cia Tok yang menyajikan beragam menu seperti ayam, jamur, bubur, udang, ikan, hingga buahan segar. Sembari menikmati hidangan, tamu undangan mendapat suguhan beragam lagu dari Bank Sumsel Babel Band.

Pada ultah Dian juga dipentaskan Dul Muluk, sebuah kesenian tradisional yang semakin hari semakin tenggelam ditelan modernisasi seni pertunjukkan. Dul Muluk, sebuah seni pertunjukan tradisional yang dikembangkan di Sumsel. Cerita yang dilakonkan merupakan hasil pengembangan dari syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji, yang terkenal dengan karya gurindam 12-nya.

Kembali ke sejarah Dul Muluk di Sumsel, yang dirintis oleh seorang keturunan Arab, Wan Bakar, yang bermukim di Palembang. Bermula dari kesukaan Wan Bakar membacakan syair Abdul Muluk mengenai kisah kepahlawan di kerajaan Hindustan yang menarik masyarakat. Selanjutnya, pembacaan syair berkembang dengan disertai peragaan dari sejumlah pelakon dan disemarakkan pula dengan iringan musik melayu.

Kendati memiliki alur cerita yang telah menjadi pakemnya, Dul Muluk tetap saja mampu memikat penonton karena akting dan dialog dibawakan secara spontan dalam bahasa Palembang. Boleh dibilang Dul Muluk adalah seni pertunjukan tradisional yang komplit karena menampilkan seni drama, lawakan, tarian, nyanyian, dan musik. Lebih dari itu, Dul Muluk juga menyelipkan nilai-nilai moral yang positif: betapa pun berat perjuangannya, kebenaran akan selalu dapat mengalahkan kebatilan.

Sejak dulu, seni Dul Muluk menjadi hiburan rakyat dalam memeriahkan pesta pernikahan dan pementasannya dapat berlangsung hingga semalam suntuk. Namun, pada ultah Dian, pementasan Dul Muluk yang dibawakan sanggar Alun Jaya disiapkan lebih padat sehingga dapat ditampilkan hanya dalam tempo lebih kurang 15 menit.

Ultah Dian dimeriahkan pula dengan fashion show dari sejumlah peragawan dan peragawati yang membawakan hasil karya desainer yang menawarkan kreasi kain khas Sumsel, seperti kain songket dan jumputan yang diaplikasikan dalam rancangan busana yang menawan dan lebih modern.

Dihadirkan pula tari kipas dari sanggar binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang. Para penari pun mencoba berinteraksi dengan penonton, mengalungkan selendang sebagai ajakan untuk turut menari bersama. Sang empunya acara, Dian yang tengah berulang tahun juga diajak untuk ikut menari.

Selepas itu, tamu undangan disuguhkan penampilan musik perkusi dari kru Pikko Art Entertainment. Acara makin menghangat ketika Agung dan Dian diminta pemandu acara untuk mempersembahkan suara emasnya. Ultah Dian yang dikemas dengan penampilan seni budaya Sumsel, sebuah upaya menarik untuk mengenalkan dan mengangkat seni budaya daerah sendiri. (ICN)

Comments

comments