Mau Kaya, Ya Ke-Jakarta

urbanisasi3

Tingginya angka urbanisasi penduduk ke pusat kota Jakarta, sebenarnya bukan sekedar mengadu nasib tanpa berfikir efek kemiskinan akibat kejamnya ibu kota. Doktrin yang sering kali kita dengar “Jakarta kota kejam, anda akan sengsara hidup ditengah keramaian”. Mungkin pernyataan itu benar, ketika seorang perantau hanya memiliki keahlian bercocok tanam padi dengan peralatan lengkapnya mengadu nasib disana.  

Bagaimana jika perantau membawa keahlian segudang, membawa sumber modal dan sarana investasi, atau membawa produk-produk premium yang dapat memberi keuntungan besar?  Tentu hal ini berbeda. Jakarta merupakan ibukota tempat mengadu nasib para intelektual, orang kaya, dan mereka yang memiliki peruntungan secara finansial.

Milyader Indonesia pemilik ratusan perusahaan besar MNC grup, Hary Tanoesodibjo mengatakan, Jakarta menjadi syurga para orang kaya, karena sebagian besar fasilitas dan infrastruktur dibangun secara penuh. Dan Jakarta menjadi tempat kumpulan para pemilik modal, kantor-kantor pusat perusahaan besar, dan memiliki fasilitas lengkap yang dibutuhkan oleh orang kaya.

HT dalam berbagai pertemuan sering kali menceritakan pengalamannya, sebelum berhasil membangun perusahaan yang kini maju hingga ke Asia Tenggara. Setelah menamatkan sekolahnya, HT muda melanjutkan diploma hingga meraih gelar pasca sarjananya di Kanada. Sepulang ke Indonesia, dia merintis usahanya dari tanah kelahirannya di Surabaya. Ternyata, meski terbilang cukup berhasil dan mampu mendapatkan uang yang besar dari menjadi broker saham tidak memberi sesuatu yang “cukup”. Milyader ini berfikir, uang hanya sebagai bagian kecil untuk membangun sebuah kerajaan bisnis. Jakarta menjadi rumah dia selanjutnya, lantaran di Jakarta merupakan tempat berkumpulnya para pemilik uang yang besar, perusahaan yang kuat, dan kantor utama pemilik kebijakan negeri Indonesia. Hanya dalam kurun waktu tujuh tahun saja, HT mampu meningkatkan bisnisnya hingga dapat membeli RCTI tahun 2001.

Kita tidak membicarakan bagaimana menjadi orang kaya dengan uang jutaan dollar, triliunan rupiah, atau bagaimana memiliki perusahaan besar? Namun kita sedang membicarakan sebuah kenyataan yang fatal, bahwa telah terjadi kesenjangan pembangunan, kesenjangan ekonomi, fasilitas, dan kemapanan di negeri kita. Kesenjangan itu dapat dirasakan oleh seluruh strata dan tingkatan penduduk, bahwa Jakarta lebih bagus, lebih modern, lebih dari provinsi lainnya. Mungkin sebagian akan menjawab, benar harus lebih dong karena Jakarta adalah pusat ibukota. Nah, bagaimana dengan bodetabek? Maksudnya daerah Bogor, Tanggerang, dan Bekasi yang relatif dekat dengan Jakarta kok terlihat lebih kumuh? Pembangunannya lamban? Atau memang ada skala prioritas dari Pemerintah? Tentu tidak, pembangunan yang berkembang pesat di Jakarta karena tingginya roda perekonomian yang berjalan di tempat tersebut.

Bagaimana dengan Palembang? Sebelum Jakabaring dibangun, semua bisa merasakan adanya ketimpangan pembangunan antara seberang ilir dan seberang ulu. Beruntung wilayah Palembang tidak terlalu besar, hingga pembangunan kemudian menyentuh seberang ulu yang dikenal sebagai kawasan tertinggal. Beruntung pula warga seberang ulu, lantaran rancunya sistem pembangunan menyebabkan seberang ilir menjadi “gudang” mall yang hampir saja menyingkirkan sarana perkantoran pemerintah.

Nah bagaimana dengan warga desa yang berada di kabupaten? Jangankan merasakan jalan yang baik dan lancar, warga desa semakin terisolir karena putusnya jalan penghubung antara jalan desa dengan kabupaten. Inilah sebuah kenyataan yang kini sedang kita hadapi. Ketimpangan pembangunan akibat salah regulasi, telah mengancam kecemburuan sosial, ketimpangan ekonomi, bahkan desa kini menjadi kantung-kantung rakyat miskin.

Apa yang harusnya kita perbuat selaku petani yang selama ini mengandalkan cangkul, benih padi, dan doa agar Tuhan tidak menurunkan hujan berlebihan hingga merendam sawah yang siap panen. Mungkin sebagian akan mengatakan”ya, saya pasrah. Hanya Allah yang tahu”. Tapi kini saatnya kita membangun kwalitas diri, dorong anak-anak calon pemimpin bangsa, calon orang kaya, calon intelektual untuk memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh industri.

Mari kita dorong anak-anak kita untuk berfikir cerdas, bahwa tidak selamanya harus menjadi buruh tani, buruh perusahaan, buruh industri yang digaji bulanan dengan upah rendah dan takut di PHK. Dorong anak-anak kita menjadi pengusaha yang dapat membuka lapangan pekerjaan, yang wilayah industrinya ada di desa kita.  Mungkin sepintas hal ini sebuah khayalan, atau sekedar motivasi dengan sedikit polesan diksi agar para warga desa terprovokasi. Mari kita yakini firman Allah SWT “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak mengubahnya”. Mari kita bangun desa, bangun generasi yang mahir dan berpendidikan mulai dari desa kita sendiri. Jakarta? Ya, adalah tujuan utama menjadi desa kaya, kalau BUMDes kita sudah setara dengan perusahaan bermodal kapital. Wallahualam. (**)

Comments

comments