Mari Memuliakan Petani

PETANI3

Tabloid-DESA.com – Musim panen, padi melimpah di lumbung rumah penduduk desa. Ramai-ramai warga desa saling “sewa” antar warga untuk memanen, mengangkat padi dari sawah kerumah, hingga memisahkannya menjadi gabah.

Suasana ramai pedesaan kian lebur dalam canda gadis-gadis desa yang suara tawanya tertahan ramainya mesin penggilingan padi. Terbayang hasil padi yang bisa dijual untuk menggelar pesta pernikahan, sunatan, atau persedekahan aqiqah yang sudah lama tertunda.

Surplus beras, inilah yang sedang terjadi di seluruh wilayah di Indonesia bahkan di Sumsel. “Banjir” beras mungkin akan membawa dampak bagi rendahnya harga beras itu sendiri. Tapi jika suplay lebih banyak, seharusnya pemerintah menampungnya dalam gudang-gudang bulog, agar tidak terjadi kerusakan harga beras itu sendiri. Masyarakat bisa menikmati beras “anyar” yang lebih lezat jika ditanak dengan baik. Harga yang didapat juga tetap normal, tentunya efek tersebut akan memberikan keuntungan bagi petani.

Hal tersebut sepertinya normal saja. Wajar saja pula jika dalam beberapa hari kedepan, banyak petani padi yang membeli sepeda motor baru, kulkas, dan tv baru. Atau karena sawahnya luas, petani tersebut salah seorang tuan tanah tiba-tiba saja membeli mobil baru.

Kenyataannya, pemerintah sepertinya kurang berpihak dengan petani padi. Lagi-lagi, muncuk kebijakan non populis dari pemerintah. Sebab dalam waktu dekat akan dilakukan impor beras 500 juta kilogram dari luar negeri. Kok bisa? Katanya, pemerintah sedang mencoba menetralisir harga beras yang tinggi dipasaran.

Aneh sekali, ditengah musim panen padi yang terbilang berhasil, surplus terjadi, pemerintah akan mengimpor beras? Ada apa ini. Muncul kegelisahan dimana-mana, seakan-akan ada syahwat dari oknum tertentu yang sengaja hendak “mengambil” beras petani kita dengan harga murah. Jika sudah impor, banjir besar beras akan meruntuhkan harga beras lokal sejadi-jadinya.

Memang, efek tersebut akan baik bagi masyarakat yang membutuhkan beras murah. Masyarakat kota yang selama ini membeli beras, mungkin bisa merasakan beras anyar dengan harga sangat-sangat terjangkau. Sekali lagi mungkin.

Tapi, tidak demikian adanya. Konsekuensi logisnya, jika beras tersebut murah sudah dapat dipastikan akan ada oknum-oknum tertentu yang memborongnya untuk disimpan. Yang setelah musim panen, harga kembali normal dan mahal.

Tidakkah penguasa kita sadar, sudah waktunya bagi kita untuk memuliakan para petani padi? Adakah muncul keinginan agar petani padi kita lebih sejahtera?. Siapa lagi yang akan berbuat dengan tangannya untuk mengangkat harga beras lokal, kalau tidak kita semua masyarakat. Pemerintah harusnya lebih bijak, biarlah kita makan nasi dengan harga normal, tapi makan dari beras petani kita. Saatnya kita memuliakan para petani, kalau tidak kita? Siapa lagi. (*)

Comments

comments