Leluhur Mengajarkan Makanan yang Sehat dan Ramah Lingkungan

Lemah, makanan hasil fermentasi rebung bambu dengan ikan. Foto Taufik Wijaya

MARAKNYA penderita penyakit mematikan seperti kanker yang dialami masyarakat Indonesia saat ini, sebenarnya cukup mengejutkan. Belasan juta perempuan dan anak-anak berisiko terserang kanker. Apalagi bersamaan dengan itu ilmu kedokteran atau kesehatan menemukan obat alternatif, yang kebanyakan berasal dari tumbuhan khas hutan tropis Indonesia. Ironinya tumbuhan itu sebenarnya sudah konsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad, dan baru beberapa puluh tahun terakhir tergeserkan oleh makanan baru, baik yang instan maupun makanan khas bangsa lain. Termasuk pula sebagai dampak dari kerusakan hutan, sungai, rawa, sebagai sumber makanan tersebut.

Nurhadi Rangkuti, arkeolog dan juga Kepala Balai Arkeologi Palembang, menjelaskan berdasarkan penemuan arkeologi di Sumatera Selatan, baik dari alat makan, memasak, dan sisa makanan, ternyata para leluhur lebih banyak mengonsumsi tumbuhan dibandingkan daging. “Nontumbuhan yang paling banyak dikonsumsi adalah hasil laut dan sungai atau rawa, seperti ikan dan kerang,” kata Nurhadi, belum lama ini. “Contoh nyata apa yang ditemukan di Goa Harimau,” katanya.

Leluhur juga telah mengajarkan atau memberi tahu sejumlah tanaman yang dapat dijadikan sumber makanan yang sehat, tidak merusak lingkungan, dan juga dapat dijadikan kebutuhan sandang. Misalnya kelapa, aren, sagu, pinang, serta bambu, seperti yang tertulis dalam Prasasti Talang Tuo.

Pindang Ikan dan Lalapan

Pindang ikan bersama lalapannya, merupakan contoh kuliner yang memenuhi unsur penting bagi kesehatan manusia. Selain mengandung protein, vitamin, juga menjadi antioksidan yang baik untuk mencegah berbagai penyakit mematikan, seperti kanker.

Masakan pindang ikan bersama lalapan, dikonsumsi masyarakat dari wilayah pegunungan hingga ke pesisir. Yang membedakannya hanya penggunaan terasi. Masakan pindang ikan di wilayah pegunungan nonterasi, sementara wilayah pesisir menggunakan terasi.

Ikan yang digunakan berasal dari sungai, danau atau rawa. Ikan yang paling favorit digunakan yakni ikan gabus. Ternyata ikan ini kaya dengan albumin, jenis protein yang mempercepat penyembuhan luka, dan memperkuat kekebalan tubuh atau imunitas. Selain itu ikan gabus juga mengandung zinc, asam amino, lemak dan trace element yang dibutuhkan tubuh manusia. Zat-zat ini diyakini pula mampu mendorong proses penyembuhan penyakit hepatitis, TBC atau infeksi paru, dan nephrotic.

Tumbuhan atau rempah-rempah yang digunakan untuk memasak pindang ikan juga mengandung antioksidan yang tinggi, seperti kunyit kuning, serai, laos, serta buahan mengandung rasa asam seperti cung (tomat kecil), asam pedado (buah pohon bakau), asam kandis.
Kunyit, misalnya, merupakan tanaman yang mengandung senyawa berkhasiat obat, seperti kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat- zat manfaat lainnya.

Tak heran kunyit dinilai mengandung antioksidan dan antiperadangan, serta memperlambat penyebaran dan pertumbuhan tumor. Sebagian senyawa berkhasiat obat juga terkandung pada serai, laos, serta buahan yang menghasilkan rasa asam.

Lalapan saat mengonsumsi pindang ikan itu juga merupakan buahan atau tanaman yang banyak mengandung zat bagi kesehatan, seperti meningkatkan kekebalan tubuh maupun pembasmi berbagai penyakit mematikan seperti kanker. Misalnya jengkol, petai, serta daunan lainnya. Jengkol yang diyakini mampu menghabisi berbagai penyakit kanker, ternyata hampir ditanam seluruh masyarakat di Sumatera Selatan, baik yang berada di pegunungan maupun pesisir—yang lahannya tidak tergenang air atau rawa gambut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Institute Of Health Sciences, 819 Sweden Riset Biosains L.L.C Cause Street, jengkol merupakan buah yang dapat membunuh sel kanker dan disinyalir 10.000 lebih kuat dari kemoterapi.

Dijelaskan, jengkol merupakan obat yang terbukti melawan semua jenis kanker yang dialami seseorang. Setelah dilakukan 20 kali test laboratorium yang dilakukan sejak tahun 1970, terungkap jengkol mampu menghancurkan sel-sel ganas di 12 jenis kanker, diantaranya kolon, payudara, prostat, paru-paru, dan pankreas.

Pada masyarakat di Sumatera Selatan, bagi perempuan yang berkeluarga, yang usianya di atas 40-an, disarankan keluarganya untuk mengonsumsi jengkol. “Kata para wong tuo (orang tua) guna mencegah penuaan, penyakit terkait dengan perempuan, dan awet muda,” kata Halimah, seorang warga di Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Buahan
Buahan yang dikonsumsi masyarakat Sumatera Selatan sejak dahulu juga berkhasiat sebagai obat, selain rasanya enak, dan mengandung banyak vitamin. Misalnya buah manggis, kemang, durian, rambutan, nangka, dan lainnya. Seperti diketahui, hampir semua jenis tanaman tersebut, di bawah tahun 1990-an, pasti terdapat di halaman rumah warga di Sumatera Selatan, selain di kebunnya. Termasuk di halaman rumah di kota besar seperti Palembang.

Manggis, misalnya, berdasarkan berbagai penelitian, merupakan buahan yang paling banyak manfaatnya. Sebab buah yang disebut sebagai “ratu buah” ini mengandung xanthones, serta kandungan vitamin dan mineral yang cukup tinggi seperti vitamin C, B1 dan B2, zat besi, niasin, serat fiber, kalsium, protein, dan lainnya.

Berdasarkan kandungan tersebut, buah manggis dinilai mampu mencegah dan memerangi berbagai penyakit kanker seperti mencegah dan memerangi penyakit alzheimer dan parkinson, menghilangkan alergi, menjaga kesehatan usus,  dapat mengatasi  diare, sembelit, merangsang kesehatan usus normal, sakit kepala migrain, mengurangi stres dan depresi, dan lainnya.

Kuliner Arif Lingkungan
Kuliner yang dikembangkan para leluhur tersebut, selain berguna bagi kesehatan manusia, juga sangat arif dengan lingkungan hidup.

“Semua sumber makanan tersebut sama sekali tidak merusak lingkungan hidup. Semua diambil merupakan hasil alam, sehinga tidak melakukan pengrusakan terhadap hutan, sungai, rawa, danau, maupun laut,” kata Saudi Berlian, seorang penelitia sejarah dan budaya di Sumatera Selatan.

Bahkan, sebelum hadirnya padi, sebenarnya bahan makanan pokok di Sumatera Selatan atau wilayah lain di Nusantara, dapat tumbuh secara liar tanpa perlu dilakukan kapitalisasi seperti padi, ubi kayu, gandum. Umbi-umbian diambil dari yang tumbuh di sekitar hutan, begitupun sagu yang tumbuh di sela tanaman lain.

“Artinya tidak ada kapitalisasi bahan makanan, seperti sapi, domba, yang banyak mengonsumsi banyak tumbuhan dan membutuhkan air, sehingga menciptakan padang rumput dan mengancam keberadaan air,” katanya.

Daging umumnya diambil dari jenis unggas, seperti ayam dan burung, yang jika diternakan tidak banyak mengonsumsi tumbuhan. “Kalaupun daging dari hewan berkaki empat, itu pun berdasarkan hasil buruan bukan peternakan seperti bangsa Eropa, Timur Tengah atau Afrika,” kata Saudi.

Jadi, jika pun ada kuliner yang berbahan daging dari hewan berkaki empat, kata Saudi, merupakan kuliner yang dibawa oleh bangsa dari Eropa, Timur Tengah dan Afrika. “Resiko dari pembauran dari berbagai suku bangsa. Tapi sebelum Indonesia merdeka, sebenarnya kuliner berbahan daging ini juga mendapat perlakuan khusus atau memadukan kuliner khas kita, seperti dimasukannya berbagai rempahan atau tumbuhan. Tidak seperti sekarang yang masuk dan dikonsumsi begitu saja,” ujarnya.

Mengolah Produksi Melimpah
Leluhur kita juga mampu mengolah produksi pangan yang melimpah. Misalnya ikan. Selain dijadikan ikan asin, ikan asap, juga difermentasi sehingga dapat digunakan saat kebutuhan pangan berkurang atau habis. Contohnya pekasem. Yakni ikan yang difermentasi bersama beras. Lemah, rebung bambu yang difermentasi bersama ikan.
Buahan yang melimpah pun mampu difermentasi, misalnya durian. Buahan hutan ini difermentasi menjadi tempoyak. Bahan makanan yang dapat dijadikan sambal atau campuran pindang ikan. Kemudian dijadikan dodol, yang disebut lempok.

“Yang mencengakan, makanan hasil fermentasi tersebut juga diyakini banyak mengandung protein, vitamin, dan kandungan antioksidan yang tinggi,” katanya.

Makanan pempek, juga merupakan kuliner yang diyakini sebagai upaya mengelola surplus pangan berupa ikan dan sagu. Pempek yang diolah berdasarkan daging ikan dan sagu ini, selain mampu bertahan beberapa hari, baik dimakan langsung maupun direbus kembali, juga menjadi makanan kerupuk, jika pempek ini mengering. “Artinya tidak ada yang terbuang dari makanan pempek,” ujar Saudi.

Melampaui Barat
Jika dilihat dari bahan makanan yang ditradisikan atau diciptakan, kata Saudi, sebenarnya ilmu pengetahuan kesehatan yang dimiliki para leluhur kita di masa lalu telah melampaui apa yang tengah dikembangkan ilmuwan di Barat saat ini.

“Kita terkejut, setelah kita disesatkan selama puluhan tahun oleh berbagai jenis kuliner yang tidak sehat. Saat kita lupa, mereka menemukan kehebatan tanaman atau buahan yang diajarkan para leluhur untuk dikonsumsi, dan kita pun menjadi terkejut,” kata Saudi.
Selain kehadiran kuliner luar atau jenis makanan baru yang tidak sehat, kerusakan lingkungan merupakan pendorong utama kian hilangnya kuliner khas Indonesia. “Banyak hutan, sungai, rawa yang rusak. Akibatnya bahan baku kuliner kita menjadi hilang atau langka,” ujarnya.

“Ironinya, negara-negara luar memproduksinya sebagai obatan herbal, dan kita mengonsumsinya dengan harga yang cukup mahal,” tambahnya.  Taufik Wijaya

Comments

comments