Kisah Perjuangan Anak Desa yang Sukses Karena Hobi Menulis

 Amidi (1)Siapa menyangka jika pria sederhana dan bersahaja yang ramah serta penuh senyum ini adalah Wakil Direktur Bidang Administrasi, Umum dan Keuangan di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Pembawaannya yang apa adanya dan terbuka merupakan ciri khas bapak 3 anak yang juga menjabat sebagai dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Palembang ini.

 Amidi memang berasal dari keluarga petani yang lahir dan tumbuh di Desa Kemang, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. “Saya dilahirkan 29 Mei 1965. Itu yang dicatatkan dalam ijazah sekolah. Tahun kelahirannya berdasar ingatan orang tua saja, karena memang kan dulu di dusun tak ada akte kelahiran. Tapi ada juga yang meragukan, katanya kalau lahir tahun 65 saya terlalu tua. Karena ada yang seusia saya di dusun lahirnya tahun 67,” ujar Amidi.

Amidi adalah putra ketiga dari 7 saudara buah hati dari Hamali (Alm) dan Salama (Almh). Setamat sekolah dasar di desanya, Amidi membulatkan tekad untuk meneruskan sekolah ke Palembang. “Kalau tak boleh sekolah di Palembang, lebih baik tak usah sekolah,” kata Amidi pada masa itu.

Akhirnya, dengan segala keterbatasan, Amidi bersekolah di SMP Taruna Palembang. Sekolahnya siang hari dan gedung sekolahnya menumpang di SMP Negeri 6, gurunya pun merupakan guru SMPN 6 Palembang. Selepas lulus SMP, Amidi diterima di SMA Negeri 1 Palembang.

Dari SMA, Amidi yang haus ilmu pengetahuan langsung meneruskan ke bangku kuliah, tepatnya di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, Universitas Muhammadiyah Palembang dan lulus tahun 1991. Setamat S1 UMP, Amidi mendapat tawaran dari Dekan FE UMP saat itu, Islahudin Daud untuk menjadi asisten dosen di UMP.

“IPK saya saat itu 2,9 tapi pada masa itu sudah luar biasa. Beda dengan saat ini IPK 3 atau bahkan 3,5 biasa-biasa saja,” kata Amidi sembari tersenyum.

Amidi menyambut tawaran mengajar di UMP tersebut dengan syarat, ia mau menjadi dosen kalau ada menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke S2. “Jadi saya S2 dibiayai UMP ditambah beasiswa dari pemerintah,” ujarnya.

Amidi kemudian berangkat ke Banda Aceh untuk meneruskan S2 bidang Ilmu Ekonomi di Universitas Syah Kuala (Unsyiah). Belum lama Amidi melanjutkan pendidikan S2 ke Unsyiah, ada surat dari Bank Pasific yang meminta UMP merekomendasikan Amidi untuk bergabung di perusahaan tersebut. Kemudian, tiba pula surat serupa dari PT. Pertamina.

“Isinya hampir sama, kami memberi kesempatan pada saudara jika ingin bergabung, harap hadir dengan membawa ijazah pada tanggal sekian di Gedung Pertamina, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.”

“Ya, saya ambil hikmahnya saja. Saya pilih Unsyiah karena dulu FE UMP ini kan masih kecil belum mampu membiayai ke universitas yang besar. Sementara di Unsyiah ada beasiswa, di tempat lain belum tentu ada beasiswa,” cerita Amidi.

Apalagi pada masa itu universitas yang memiliki program pendidikan S2 masih sangat langka. Setelah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Airlangga (Unair), Unsyiah juga membuka S2. “Tidak seperti sekarang ini, semua universitas punya program studi S2. Bahkan kalau sekarang kan di swasta saja sudah ada,” kata Amidi.

Langkah Amidi memilih Unsyiah untuk meneruskan S2, ternyata menarik minat banyak akademisi di Sumsel untuk mengikuti jejaknya. Pengelolaan program studi S2 di Unsyiah sangat baik, selain pengajarnya profesional mereka juga berhasil menggalang kerjasama dengan Universitas Erasmus Belanda. “Setelah saya, banyak juga dari Sumsel yang ikut. Ada Pak Saipan Djambak, Pak Taufiik Marwa, dari Unsri ada 5, dari UMP juga ada lima,” kata Amidi.

Amidi berhasil menyelesaikan pendidikan S2 bidang Ilmu Ekonomi di Unsyiah pada tahun 1994. Sekembalinya ke Palembang, ia mengajar di UMP sebagai asisten dosen mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan dan mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro di UMP.

Mengajar dari tahun 1994, artinya kini sudah 22 tahun Amidi mengabdi sebagai pendidik. Amidi mengatakan, tak terbayang saat ini bisa memperoleh banyak hal yang membuatnya banyak bersyukur. “Saya ini anak desa, orang tua juga petani sawah tadah hujan, ya ada tambahan sedikit dari berdagang.  Tak terbayang rasanya bisa seperti saat ini, bisa menjadi dosen, mengisi seminar, menjadi staf ahli dan konsultan, menjadi narasumber di koran, radio, hingga talkshow di televisi, dan sekarang dipercaya sebagai wakil direktur bidang administrasi, umum, dan keuangan di RS Muhammadiyah Palembang,” ujarnya penuh syukur.

Dalam mencapai kesuksesan, Amidi berpendapat, setidaknya ada 4 hal yang harus dimiliki oleh seseorang. Pertama, adanya kemauan keras, kedua motivasi yang tinggi, ketiga keyakinan, dan keempat akses. “Akses ini dalam bahasa agamanya, memperbanyak silaturahmi sehingga kita semakin mengenal banyak orang dan makin dikenal. Sehingga kemana-mana lebih mudah,” ujar Amidi.

Menulis Tuangkan Pemikiran

Menurut Amidi, kepercayaan yang diperolehnya saat ini turut didukung oleh kegemarannya menyalurkan pemikiran lewat tulisan. Amidi mulai menulis untuk media cetak ketika duduk di bangku kuliah, tepatnya ketika di semester 6. Awalnya, ia menulis mengenai berbagai fenomena di masyarakat yang dilihatnya dari sisi ilmu manajemen yang dipelajarinya di bangku kuliah.

“Karena kuliah manajemen, maka tulisan saya lebih kepada fenomena yang terjadi di masyarakat dari sisi manajemen. Pertama tulisan masuk dan dimuat, senang dan bangganya bukan main,” ujar Amidi mengenang.

Karena seringnya ia menulis dan menuangkan hasil pemikirannya, Amidi selanjutnya makin dikenal di kalangan jurnalis dan didaulat sebagai pengamat ekonomi Sumsel. Ia semakin sering dimintai pendapat oleh wartawan dari berbagai media untuk melengkapi tulisan tentang sebuah persoalan, terutama mengenai situasi perekonomian.

“Dari sana orang akhirnya melihat. Kemudian dari media cetak, akhirnya saya diundang wawancara di radio, kemudian di televisi. Pertama kali saya tampil di TVRI talkshow dengan Walikota Husni. Saya masih ingat, waktu itu temanya mengenai pedagang kaki lima atau PKL,” ujar Amidi.

Selanjutnya, dari penampilan Amidi tersebut banyak perusahaan yang tertarik untuk memintanya mengisi pelatihan dan konsultasi. Ia juga makin aktif dalam menjadi pembicara di berbagai seminar. Amidi juga sempat menjabat sebagai staf ahli di Kadin Sumsel. “Ini karena akses tadi bukan karena melamar. Namun bagaimana pun, saya tak akan pernah meninggalkan tugas utama saya sebagai dosen tetap di UMP, itu core job saya,” kata Amidi.

Untuk itu semua, Amidi tak pernah melupakan jasa orang-orang yang membukakan jalan kesuksesannya. “Terima kasih kepada orang-orang yang telah menjadikan aku semakin menjadi aku,” ujarnya penuh makna. (CAN)

Comments

comments