Ketika Senyum Menjadi Solusi

SENYUM

Tabloid-DESA.com

Rasulullah SAW pernah bersabda, “senyummu pada saudaramu adalah sedekah bagimu. (HR. Tirmidzi). Demikian agung seorang rasul memberi nilai pada sebuah ekspresi yang setiap orang bisa melakukannya.  Namun saat hati galau, muncul rasa kebencian yang mendalam, senyum kemudian menjadi sangat mahal”.

Mungkin inilah yang dirasakan oleh saudara-saudara kita warga desa, yang kini masih berkonflik dengan perusahaan perkebunan, pertambangan, atau mereka yang kehilangan lahan ulayatnya karena aturan pemerintah. Mungkin sebagian lutut mereka bergetar lantaran tadi malam mendapat ancaman, desa mereka akan dibakar jika masih menganggu lahan perkebunan milik perusahaan yang sudah sedemikian lama berada di desa mereka.

Muka-muka masam, titik air mata ibu-ibu muda yang takut kehilangan suami mereka ketika mendengar nasihat kepala desa, agar masyarakat tidak keluar malam hari. Lampu-lampu listrik kemudian dipadamkan sehabis magrib, para lelaki desa dengan senjata seadanya berada di setiap sudut kampung berjaga hingga subuh. Mengantisipasi ancaman yang kemarin siang didengar warga, tanpa diketahui siapa yang mengumumkannya.  Nyaris senyuman itu menjadi sangat mahal ketika ketakutan melanda, kemarahan berkecamuk, dan kebingungan menyesakkan dada.

Indonesia telah merdeka selama 73 tahun tapi desa masih dilanda konflik lahan. Belanda yang dulu menjadi musuh bangsa, haruskah kini korporasi yang menjadi musuh desa? Wajar saja jika kemudian para warga yang terdidik merasa aneh dengan kondisi, di mana pemerintah sepertinya tidak menjadi solusi dan tidak bisa melindungi masyarakat dari ketimpangan sosial. Perusahaan yang datang dengan niat baik untuk membangun dan mencari sedikit keuntungan dari HGU yang dijual, dengan janji-janji keamanan berinvestasi turut berduka karena diawal memulai usaha mereka merugi.

Oh, mungkin karena mereka masyarakat pendatang atau transmigran yang mencoba mengadu nasib di lahan yang selama ini kosong. Pertanyaannya, apakah para transmigran bukan warga Indonesia? Apakah mereka bukan saudara kita satu bangsa?. Cara-cara penjajah memecah belah tanpa kita sadari menjadi “Racun” dalam setiap ungkapan dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah. Tidak heran pula, sebagian besar konflik lahan di Sumsel nyaris didahului persoalan ketidaksukaan pada para pendatang aka transmigran oleh penduduk lokal.

Kini, sepertinya kita harus mengubah sudut pandang dan cara berfikir yang lebih baik. Ikhlas bermasyarakat, ikhlas menerima saudara kita para pendatang yang membawa tekhnologi pertanian dari luar wilayah, sanggup bekerja keras dilahan dua hektare yang disediakan pemerintah. Yang hanya dalam waktu 10 tahun saja, pertanian mereka tumbuh subur hingga warga lokal merasakan nikmatnya sayur mayur dan buah-buahan dari para transmigran.

Berkaca dari warga tiga desa di OKI yang telah melakukan perdamaian dengan PT SAML, menjadi pelajaran yang sangat berharga. Masyarakat Desa Tani,  Desa Tirta Mulia,  Dusun Tepung Sari kecamatan Air Sugihan Kabupaten OKI kini dapat tersenyum manis. Mereka seakan merasakan hasil dari perjuangan selama delapan tahun lebih, agar diperhatikan oleh pemerintah dan perusahaan perkebunan sawit yang berdekatan dengan lahan milik mereka. Rasa dengki dan iri hati yang selama ini mendekam dalam hati, melihat hijaunya buah-buah sawit ditandan segar, kini masyarakatnya akan segera merasakan pembinaan dan pemberdayaan oleh PT SAML yang berada dikawasan kampung mereka.

Kedamaian akan terwujud, senyuman tulus dan keramahtamahan akan muncul di dua desa dan satu dusun di OKI. Ketika semua mendapatkan jalan keluar, rasa dengki turut terbuang. Demikian dahsyatnya senyuman penuh cinta dan ketulusan, kemudian menjadi sedekah bagi kita semua. Amin.  (**)

Comments

comments