• Home »
  • PEMERINTAHAN »
  • Kabupaten Empatlawang Punya Kopi, Tapi Lampung yang Punya Nama, Ini Kata Kadis Pertanian

Kabupaten Empatlawang Punya Kopi, Tapi Lampung yang Punya Nama, Ini Kata Kadis Pertanian

kopi

Tabloid-DESA.com EMPATLAWANG – Kopi salah satu hasil pertanian yang cukup diunggulkan di kabupaten Empatlawang. Namun saat ini Empatlawang belum bisa memproduksi dan memanfaatkan hasil pertanian masyarakat tersebut secara maksimal dalam sekala besar, sebab dalam satu semester petani kopi di Empatlawang menghasilkan ribuan ton kopi siap olah.

“Untuk semester pertama tahun ini petani kita sudah memproduksi 53.592 ton kopi,” terang Plt kepala dinas pertanian Empatlawang, Dadang munandar melalui Kabid perkebunan Bron Laksana saat dibincangi di ruang kerjanya, Kamis (11/7/2019).

Dikatakan Bron, hasil kebun sebanyak itu dijual ke provinsi lain dan sisanya diproduksi oleh kelompok masyarakat dalam skala kecil rumahan.

“Rata-rata, untuk pemasaran kopi asal Empatlawang ini dijual ke Lampung, orang Lampung yang datang kesini untuk memborong hasil bumi kita , jadi dengan kata lain sekarang ini kita yang punya barang orang lain yang punya nama,” katanya.

Kedepan lanjut Bron, pola yang seperti itu akan dirubah karena sangat merugikan Empatlawang sendiri, melalui pogram Bupati yaitu yang dinamakan pusat pengembangan pertanian terpadu (P4T) .

“Jadi disana nanti tidak hanya pertanian saja namun juga perkebunan seperti lada, kopi, karet dan sebagainya, didalam penelitian itu nanti akan dicari potensi parietas yang pas untuk di kembnagkan di Empatlawang,” katanya.

Masih dikatakan Bron, 10 kecamatan sekabupaten Empatlawang masyarajat kebanyakan memiliki kebun kopi ,namun baru 4 kecamatan yang sudah mendapat pengakuan terhadap hasil kebun khususnya tanaman kopi

“Sekarang ada empat kecamatan yang sudah mendapat pengakuan yaitu kecamatan Lintangkanan, Talangpadang, Ulu Musi, dan Sikapdalam, yang sudah mendapat Sertifikat Indikasi Geografis (IG) karena telah memenuhi syarat Kwalitas dan cita rasa dan untuk kecamatan yang lain masih dalam proses pengusulan ke Kemenkumham,”tuturnya.

Diakauinya, untuk sekarang ini harga jual di tingkat petani mengalami penurunan yang awalnya di kisaran 21 ribu sampai Rp 23 ribu perkilo, sekarang tinggal Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu saja perkilo.

Terpisah, Liza salah seorang petani kopi Empatlawang mengaku memang saat ini sudah mulai memasuki masa panen kopi, dan harga jual mengalami penurunan yang tentunya sangat disayangkan oleh kebanyakan para petani

“Harapan kami pemerintah bisa menstabilkan harga jangan sampai petani sedang panen,malah harga kopi turun, belum lagi biaya kebutuhan dapur yang setiap hari,” katanya.

Comments

comments