Idhul Fitri, Kemenangan Spiritual dan Tradisi Berlebaran

COVER Tabloid DESA 34

Idhul Fitri merupakan sebuah hari raya besar bagi umat Islam. Hari raya dimana kemenangan yang besar tiba, perayaan yang di suarakan dengan takbir,tahlil, dan tahmid sejak malam hingga selepas sholat I’d. Perayaan yang berarti pemujaan pada Allah, atas kuasanya yang melimpahkan berkah,rahmat,dan ampunan selama satu bulan penuh berpuasa. Lebaran kemenangan dan kesejahteraan bagi seluruh umat.

Lebaran Sebuah Perayaan 

1 Syawal menjadi ketetapan bagi para umat Islam untuk merayakan hari Idhul Fitri. Sudah tidak asing bagi setiap umat Islam, jika lebaran tiba maka suasana haru dan kegembiraan akan tersimpul di hati. Hampir tidak terlihat duka di wajah setiap orang, karena fitrahnya akan selalu terhubung pada kebesaran dan kebahagiaan dihari raya.

Mungkin masih sedikit masyarakat yang memahami Idhul Fitri dalam konteks bahasa dan makna.  Adapun yang sering didengar  bahwa Idhul Fitri diistilahkan kembali suci. Dilihat dari segi bahasanya, Idul Fitri terdiri dari dua kata dalam bahasa arab yaitu ied  dan fitri yang dua kata itu memiliki makna berbeda. Yakni Ied, berarti kembali, dan fitri berarti suci. Ada pula yang mengartikan fitri itu berbuka.

Terlepas dari pemahaman keduanya, Idhul Fitri merupakan hari dimana seluruh umat Islam merayakan kemenangan dengan makanan, minuman, dan berbagai khas lainnya dengan bersuka cita. Dan kemenangan secara spiritual, yakni kemenangan dimana para umat yang sukses berpuasa, sukses beribadah,dan sukses mensucikan diri diharapkan dapat menjadi manusia yang bertakwa. Hingga Idhul Fitri adalah kemenangan bagi mereka yang kembali suci yang segala amal dan ibadahnya diterima Allah, hingga aplikasinya terwujud dalam berbagai segi kehidupannya hingga menjadi manusia yang lebih baik.

Pengamat Sosial dan Politik dari UIN Raden Fatah Palembang, DR Bukhori menilai, perayaan Idhul Fitri merupakan pamungkas dari amal dan ibadah yang dilaksanakan selama ramadan satu bulan penuh. Ibadah tersebut ditutup dengan shalat Ied, yang hukumnya sunnah muakkad, atau suatu pekerjaan atau ibadah yang dianjurkan. “Arti sunnah muakkadah adalah siapa yang mengerjakannya maka baginya pahala sedangkan siapa yang tidak melaksanakannya maka tidak ada dosa atasnya,” kata Bukhori.

Dia menjelaskan, shalat Ied sendiri dimulai sejak terbit matahari hingga tengah hari. Dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat muslim, setelah melaksanakan shalat Ied maka tradisi untuk saling bermaaf-maafan juga berlangsung di mesjid hingga saling bertandang kerumah tetangga, keluarga, sanak saudara, dan lainnya. “Ini merupakan sebuah tradisi. Meski sebenarnya, saling maaf-memaafkan tidak harus lebaran saja,” kata dia.

Dalam perayaannya, jelas Bukhori, ada beberapa hal yang sering kali terlewatkan dan salah pemahaman dalam merayakan hari raya idhul fitri. Menurut dia, hampir seluruh masyarakat akan mempersiapkan berbagai makanan dan minuman dalam perayaan tersebut. “Padahal, seharusnya tidak demikian.  Akibatnya harga sembako jadi lebih tinggi, karena semua orang memborong berbagai makanan,minuman,kue, dan lainnya untuk perayaan tersebut,” jelas dia.

Kondisi yang berlebih-lebihan itu, sambung dia, juga turut terjadi pada pribadi-pribadi kita. Karena banyak makanan yang menarik, konsumsi juga jadi berlebihan yang berakibat pada kesehatan. “Allah berfirman dalam Surat Al A’raf ayat 31, ‘Dan makan dan minumlah kalian, tapi janganlah kalian berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,” kata dia.

Demikian juga berpakaian dan berdandan, kerap kali menjadi sebuah “kewajiban” bagi orang muslim yang merayakan lebaran. Berpakain bersih, dan rapi adalah bagian dari sunnah. Namun, lantaran berlebihan juga berakibat fatal bagi diri sendiri. “Gara-gara mengikuti tren, pakaiannya mahal, lalu aurat tidak terjaga. Gara-gara terlalu bergaya sifat sombong dan dengki kemudian melekat didiri kita,” kata dia.

Silaturahmi dan Kesederhanaan  

Puasa mengajarkan pada kita umat muslim untuk menahan diri dari lapar dan dahaga sejak imsak hingga magrib. Berpuasa juga dapat meningkatkan etos kerja dan memberi semangat keduniawian dan semangat mengejar pahala dari Allah.

“Nah,menjelang hari raya semua orang malah berlomba-lomba untuk mencukupi segala kebutuhannya, hingga berlebihan. Seharusnya tidak seperti itu, sebab kesederhanaan dengan tidak berlebihan merupakan aplikasi dari keberhasilan ibadah selama ramadan,” sambung Bukhoril.

Fatalnya lagi, ujar dia, Idhul fitri kemudian menjadi ajang untuk menghambur-hamburkan uang pada sesuatu yang kurang bermanfaat. Bahkan ada sebagian warga yang kurang memahami menjaga kesucian, malah bersedekah minuman keras pada setiap mereka yang bertandang kerumahnya. “Sudah jelas bahwa khamar atau minuman keras itu haram. Tapi kemudian menjadi kebanggaan,” tambah dia.

Kesalahan-kesalahan ini, tegas Bukhori, harusnya menjadi hal yang segera di sadari. Mungkin Allah menitipkan harta yang “lebih” pada beberapa umatnya, namun alangkah lebih baik jika membelanjakannya di jalan-Nya.

Senada diungkapkan Ketua Umum KAHMI Provinsi Sumatera Selatan, Joncik Muhammad. Dia mengungkapkan, ibadah puasa harusnya menjadi cerminan bagi semua masyarakat muslim untuk menjadi lebih baik di bulan-bulan berikutnya. “Pelajaran berharga dengan ibadah dibulan ramadan harusnya menjadi cerminan kita umat muslim untuk lebih baik lagi di bulan-bulan setelah ramadan,” kata dia.

Banyak mungkin belum dipahami umat muslim, seperti adanya gaya berfoya-foya saat lebaran. Bahkan ada juga sebagian yang sengaja melakukan dosa, karena merasa “tidak bebas” selama bulan puasa. “Mari kita menjaga diri, dan terus menjaga kesucian diri kita meski bukan dibulan puasa,” jelas dia.

Silaturahmi, tambah Joncik, merupakan salah satu tradisi lebaran di Indonesia. Mungkin banyak yang sengaja mudik untuk mengunjungi keluarga mereka yang selama ini ditinggalkan. “Silaturahmi ini sangat penting untuk menjaga suasana keakraban, kekeluargaan,” kata dia.

Silaturahmi Ngedak dan Lebaran di Kuburan

Berziarah ke makam keluarga yang meninggal dunia, sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia. Tidak sedikit warga baik di Palembang ataupun di daerah lainnya, yang sengaja melaksanakan ziarah pada hari raya.

Namun, ada tradisi unik yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam di kabupaten OKI, tepatnya desa Sukaraja kecamatan Pedamaran justru mengawali silaturahminya di pekuburan. Hal ini disengaja atau tidak, tanpa di perintahpun masyarakat setempat baik yang berada di desa Sukaraja, ataupun yang sebagian besar sudah pindah ke kota besar turut berziarah dan berjumpa dengan keluarga di kuburan.

Kuburan umum warga Sukaraja berada di kawasan “talang” atau daerah dataran perkebunan yang letaknya sekitar satu jam jika dilalui dengan berjalan kaki. Saat ini warga setempat lebih banyak menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat untuk menuju talang kuburan tersebut.

Letaknya yang cukup jauh, dan berada di dataran cukup tinggi membuat kawasan tersebut menjadi hamparan kuburan keluarga. Rata-rata lahan kuburan adalah milik warga Sukaraja, dan menjadi kuburan keluarga.

Megawani, 60, warga kampung 1 Desa Sukaraja mengatakan, daerah talang kuburan merupakan pemakaman umum masyarakat Sukaraja. Dan hampir tidak ditemukan masyarakat lainnya, yang menguburkan keluarganya yang meninggal di tempat tersebut. “Ini semacam kuburan keluarga, dari dahulu keluarga kami yang meninggal di makamkan di talang ini,” jelas dia.

Kawasan tersebut banyak ditumbuhi berbagai semak belukar, dan sebagian telah ditanami pohon karet dan sawit. Beberapa warga setempat, tidak menggunakan lahan tersebut sebagai sawah, karena tanahnya kering dan cukup jauh dari sungai.

Para penziarah akan mendatangi kuburan sejak hari pertama lebaran hingga seminggu setelahnya. Namun,kawasan tersebut sangat ramai di tiga hari lebaran. “Hari pertama,kedua, dan ketiga semua warga Sukaraja akan berkumpul di sini. Mendatangi makam keluarga, mendoakannya, dan pasti berjumpa dengan sanak saudara lain yang sudah jarang berjumpa,” kata Megawani.

Senada dikatakan oleh Yenni, 35, warga kampung IV mengatakan, dirinya sengaja mudik lebaran untuk mengunjungi makam keluarga. Dia sendiri telah lama berdomisili di kota Palembang. “Saya sekarang sudah di Palembang merantau dan telah bertempat tinggal di Palembang. Namun setiap lebaran pasti mudik, untuk mengunjungi makam keluarga,” tegas dia.

Meski tradisi mengunjungi keluarga kerabat, tetangga, dan teman juga dilakukan setelah ziarah. Atau biasa disebut warga “ngedak” namun kesakralan lebaran akan berkurang jika tidak mengunjungi pemakaman. “Karena disitulah banyak keluarga yang jauh-jauh yang hadir. Kadang-kadang mereka tidak sempat menginap dirumah keluarganya. Jadi kebanyakan langsung pulang ke Palembang,” kata dia.

Tradisi ngedak juga menjadi bagian penting bagi masyarakat OKI. Tidak heran, banyak para remaja, atau orang tua yang berombongan saling datangi rumah mereka. “Kalau ngedak itu juga tradisi, misalnya ada 10 orang kelompok mereka akan saling berkunjung kerumah keluarga,sanak, dan famili,” kata Irawan, warga setempat.

Ngedak, merupakan salah satu jamuan bagi para keluarga yang datang kerumah. Sementara ziarah, rata-rata mereka hanya berjumpa satu sama lain, tanpa ada jamuan makan di kuburan. “Biasanya hanya membawa minuman air putih, tidak ada makanan yang disajikan di kuburan,” pungkas dia. (ronald)

 

Comments

comments