Gerakan Membangun Desa Saemaul Undong Bangkitkan Korea Selatan

Gerakan membangun desa, Saemaul Undong¸menjadi salah satu kunci utama perubahan Korea Selatan ; dari negara termiskin di dunia menjadi negara maju yang perekonomiannya dapat disejajarkan dengan Jepang, China, Hongkong, Taiwan, dan Singapura.

Pembangunan pedesaan memegang peranan penting untuk negara berkembang seperti Indonesia. Dana Desa digulirkan untuk kali pertama pada tahun 2015, Indonesia pun menggandeng Korea Selatan, bekerja sama dalam membangun desa.

Korea Selatan yang merdeka 2 hari sebelum Indonesia (15 Agustus 1945) termasuk salah satu negara agraris termiskin di dunia pada awal kemerdekaannya. Namun di tahun 2010, pendapatan rata-rata setiap warga Korsel per tahun melonjak tujuh kali lipat dari pendapatan per tahun rata-rata orang Indonesia.

Perekonomian Korea Selatan melesat dengan cepat hingga saat ini menjadi negara maju yang perekonomiannya dapat disejajarkan dengan Jepang, China, Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Kemajuan dahsyat yang sering diistilahkan sebagai sebuah keajaiban Sungai Han

Menurut Muhammad Agus Muljanto, salah satu kata kunci dari pencapaian itu adalah fokus pada pembangunan desa dan pelestarian budaya. Keberhasilan tersebut menunjukkan, bahwa sistem pemerintahan dengan pola demokrasi ala barat yang mengutamakan penguasaan teknologi dan pasar sukses dijalankan, tanpa meninggalkan nilai ketimuran yang sarat dengan kearifan budaya sebagai modal dasar pembangunan desa. Pola pembangunan demikian yang mereka namakan “Saemaul Undong”.

Sejarah Saemaul Undong

Saemaul Undong adalah gerakan pembangunan masyarakat yang diprakarsai oleh almarhum Presiden Park Chung Hee yang memimpin Korea Selatan pada periode 1961-1979. Berawal ketika Presiden Park Chung Hee blusukan ke bekas lokasi banjir di salah satu desa Korea Selatan pada tahun 1969.

Sang Presiden terkejut karena dengan bantuan sedikit warga berhasil memulihkan desanya. Bahkan, membangun jalan lebih lebar, membuat tembok dan atap dengan bahan lebih baik. Berdasarkan hal tersebut, timbul keyakinan bahwa pembangunan pedesaan di Korea Selatan akan dapat mempercepat pemulihan perekonomian negara dengan dilandasi semangat bekerja yang tidak mengenal lelah dan tanpa pamrih.

Setelah gerakan Saemaul Undong bergulir pada tahun 1970, Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Tingkat pendapatan masyarakat pada kawasan perdesaan dan perkotaan relatif merata dan seimbang.
Saemaul Undong telah menjadi contoh keberhasilan program di Korea Selatan. Penduduk Desa dan Kepala Desa serta Kepala Saemaul memiliki inisiatif sendiri menyusun gerakan pembangunan yang dibutuhkan oleh penduduk desa setempat.

Kepala Saemaul adalah orang yang ditunjuk dan diberikan pendidikan dan latihan oleh pemerintah Korea Selatan untuk memastikan keberhasilan program Saemaul Undong sebagai program pembangunan desa.
Saemaul Undong dilaksanakan dengan menggunakan dana bantuan dari pemerintah, apabila dana tersebut tidak mencukupi penduduk desa sukarela menyisihkan harta yang mereka miliki untuk keberlangungan program tersebut. Kerja sama juga mereka lakukan untuk membagi waktu bekerja setiap minggunya dengan menyesuaikan pada kemampuan dan ketersediaan waktu yang mereka miliki.

Kunci Sukses Saemaul Undong

Gerakan Saemaul Undong diimplementasikan pada tiga kegiatan praktis di lapangan. Pertama “Environment Improvement”, yaitu kegiatan perbaikan lingkungan yang meliputi sarana dan prasarana dasar di pedesaan, baik jalan, jembatan, irigasi, drainase maupun sarana air bersih dan sanitasi lainnya.

Kedua “Increasing Income”, yaitu kegiatan yang dilakukan melalui berbagai pelatihan ekonomi produktif, perluasan akses permodalan serta fasilitasi pemasaran hasil produksi pertanian yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan penduduk desa.

Ketiga “Mental Reform”, yaitu kegiatan terstruktur yang dilaksanakan secara intensif untuk membangun mentalitas penduduk pedesaan (ruh/spirit Saemaul Undong) agar memiliki etos kerja keras, tekun, jujur dan disiplin tinggi. Kegiatan ini diawali dengan perbaikan dan komitmen moral para pemimpin di setiap jenjang pemerintahan, kemudian ditransformasikan ke seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), baik masyarakat maupun pelaku usaha.

Orientasi utama dari ketiga kegiatan praktis tersebut tidak berdasarkan bagi-bagi kue (charity) tetapi tetap pada upaya pendekatan kesukarelawanan, padat karya dan bersifat produktif.

Selanjutnya penerapan ketiga prinsip dasar pada tiga kegiatan praktis di lapangan tersebut didukung oleh partnership kelembagaan yang handal, yaitu kerjasama yang sinergis antara domain pemerintahan, pemimpin desa dan pemimpin saemaul dengan penduduk desa.

Pemerintah bertugas untuk memfasilitasi dan memberikan bantuan strategis (Strategic Support), pemimpin desa bertugas untuk memandu secara langsung di lapangan dengan keteladanan kepemimpinan (Leadership), serta masyarakat secara bersama-sama mengembangkan kesukarelawanan untuk membangun desa (Volunteers) seperti harta, tenaga dan kemauan penduduk desa merelakan sebagian lahan pekarangan rumah digunakan untuk pelebaran jalan desa, dan lain-lain.

Beberapa kunci keberhasilan Gerakan ini , pertama dukungan dan intervensi dari pemerintah, terkait penyediaan layanan dan bantuan untuk memperkenalkan sistem dan program kepada masyarakat, kedua, mendorong kepedulian dan keikutsertaan masyarakat seluas-luasnya, dan ketiga membangun jiwa kepemimpinan, sebagai faktor penting kesuksesan Saemaul Undong, dan keempat revolusi mental, dimana gerakan ini berhasil mengubah mindset dan sikap masyarakat dari malas menjadi rajin, dari ketergantungan menjadi kemandirian, dan dari sifat ego/mementingkan diri sendiri menjadi kesediaan bekerja sama untuk tujuan dan kepentingan bersama. (*/wdg)

Comments

comments