Produsen makanan dan
minuman olahan akan menurunkan harga produknya sekitar 5 hingga 10 persen mulai
Februari mendatang menyusul diturunkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan
rencana penurunan Tarif Dasar Listrik (TDL) oleh pemerintah.
"Akan turun
secara bertahap, sesuai penurunan biaya transportasi dan listrik, dimulai dari
produk-produk lokal kemudian baru yang bahan bakunya ada komponen impor, karena
nilai tukar dolar AS terhadap rupiah juga turun sekitar 30 persen," kata
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan MinumanIndonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan di
Jakarta.
Menurut dia, penurunan harga produk makanan dan minuman olahan akan terjadi
setelah perayaan hari raya tahun baru China (Imlek) sekitar bulan Februari
dengan kisaran 5-10 persen.
"Caranya berbeda-beda, misalnya memperbesar ukuran produk, menambahnya
dengan hadiah, ada (ukuran) ekstra dan diskon dan perubahan kemasan baru dengan
harga yang lebih murah," jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan penurunan
harga premium dari Rp5.000 per liter menjadi Rp4.500 per liter dan harga solar
dari Rp4.800 per liter menjadi Rp4.500 per liter mulai 15 Januari 2009.
Presiden SBY juga mengumumkan rencana penurunan TDL untuk industri dengan
meringankan biaya pokok saat beban puncak.
Kebijakan itu diharapkan dapat menurunkan harga barang dan jasa dengan
menurunnya biaya produksi.
Terkait rencana penurunan TDL, Bendahara Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia
(PHRI) Johnnie Sugiarto menyambut baik kebijakan tersebut. Ia berharap
pemerintah juga memperbaiki manajemen PTB PLN agar dapat lebih
efisien lagi.
Meski demikian, menurut Johnnie penurunan harga TDL tidak akan berdampak
terlalu signifikan terhadap bisnis hotel dan restoran.
"Misalnya komponen listrik itu mencakup 10 persen dari harga kamar, kalau
TDL turun 5 persen pasti belum ada pengaruhnya terhadap biaya operasional
hotel," jelasnya.
Johnnie mengatakan sepanjang 2009 ini pengelola hotel tidak akan menaikkan
tarif sewa kamarnya karena tingkat hunian hotel masih cukup tinggi yaitu
sekitar 70 persen.
"Dari pada menurunkan harga, lebih baik mencari cara untuk mengisi sisa
yang 30 persen itu," katanya.(*)