Dibalik Merdunya Tren Burung Kicau

LOVEBIRD1Tabloid-DESA.com BATURAJA – Batu akik sempat menjadi tren nasional sekitar tahun 2010. Akan tetapi, namanya juga tren, maka itu tidak akan abadi alias bersifat sementara. Batu akik yang sempat booming hanya bertahan sekitar sampai tahun 2015. Setelah itu muncul tren baru, yakni burung kicau.

Dua tahun terakhir, burung kicau berhasil menggeser tempat batu akik yang kini harganya semakin turun. Memang bisa dikatakan tak seheboh batu akik, barangkali karena memelihara burung tak segampang memoles batu menjadi perhiasan, tapi keberadaan burung kicau semakin eksis.

Tren burung kicau ini bisa dilihat dari larisnya penjualan dan maraknya event perlombaan burung kicau. Di salah satu situs jual-beli online terbesar di Indonesia OLX, misalnya, sejak 2016 telah menggantikan kategori iklan khusus untuk batu akik dengan pemasangan iklan burung. Dari data internal OLX yang dipaparkan kepada publik, setiap bulannya ada sekitar 70.000 iklan burung yang terpasang, dan dari jumlah itu 53.000 iklan laku tiap bulan. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 30 ribu sampai dengan Rp 32 juta.

Harga yang bervariasi itu membuktikan bahwa “kicau mania” atau mereka yang hobi akan burung berkicau tersebar merata dari berbagai kalangan. Mulai dari rakyat ampai pejabat. Kelas burungnya pun berbeda, untuk kelas rakyat, biasanya burung yang murah meriah, misalnya sekelas Pleci yang harganya puluhan ribu. Atau burung Lovebird yang bisa sampai jutaan rupiah. Meski tak menutup kemungkinan burung yang kelas bawah pun bisa naik kasta, bila sering mendapat juara pada perlombaan.

LOVEBIRD2
Adu Kicau Burung di Sumsel

Seiring bangkitnya tren burung kicau, ini perlombaan adu kicau burung pun semakin marak diadakan, baik yang level nasional maupun kedaerahan. Di kota-kota besar, bahkan bisa ditemukan tiap bulan.

Tak terkecuali di Sumatera Selatan. Selain di kota Palembang, ada pula event besar kompetisi kicau burung di daerah-daerah. Selama 2017 ini saja, ada dua event yang mendapat perhatian besar. Di Kabupaten Ogan Komering Ulu pada 19 Februari lalu, sekitar 600 peminat dan penghobi burung berkicau berkompetisi di halaman parkir Citimall Baturaja, menurunkan burungnya untuk adu kemerduan. Pesertanya sebanyak 600 pencinta burung berkicau dari Kabupaten/Kota se-Sumsel, Lampung, dan sekitarnya. Adapun jenis-jenis burung berkicau yang dilombakan, Murai Batu Kacer, Lovebird, Kapas Tembak, Cucak hijau, pentet, Kenari dan Ciblek.

Lain lagi, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) bahkan mengadakan lomba kicauan burung Bupati OKI Cup yang di gelar di lapangan tenis belakang halaman Pemda OKI, 9 April lalu. Sebanyak 1.872 burung dengan berbagai macam jenis dan warna, memamerkan kebolehannya berkicau di kantor pemda Kabupaten OKI.

Kontes-kontes kicau burung yang diadakan di daerah seperti itu, tentu saja akan berdampak positif. Selain bermanfaat untuk mempromosikan potensi daerah sendiri, juga akan meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat.

 

Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Tren burung kicau ini, seperti sudah disebutkan di awal, mengakibatkan naiknya nilai ekonomis burung-burung kicau. Karena peluang bisnis yang menjanjikan, wajar bila semakin banyak bermunculan pembudidaya burung kicau yang ternyata lewat ternaknya bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah.

Namun, rezeki di balik tren ini tak hanya milik para pembudidaya burung kicau semata. Seorang distributor sangkar burung, Yudi Rahmat Ramadhan di Baturaja, OKU, yang kami wawancari langsung mengatakan ia sudah menekuni bisnis menjadi agen penyalur sangkar dari kota Metro, Lampung dengan berbagai macam bentuk dan bahan seperti bambu, kayu, besi dan rotan, sejak burung kicau mulai booming kira-kira dua tahun lalu. Mulanya hanya melayani permintaan di OKU saja, namun kemudian permintaan semakin deras berdatangan dari daerah lain, seperti OKU Selatan, OKU Timur, dan Muara Enim. Hingga kini omzet yang ia raih bisa mencapai Rp 60 juta perbulan.

Selain pembudidaya burung kicau dan distributor sangkar burung, tentu masih banyak lagi pihak yang diuntungkan, termasuk juga UMKM milik rakyat, seperti pengrajin dan penjual sangkar burung, petani dan peternak, penjual pakan dan lain sebagainya.

Meski burung kicau sering dikaitkan pada urusan bisnis atau perlombaan, sebenarnya hobi kicau mania ini memang sudah bertahan lama dan turun temurun. Beberapa masyarakat pemilik burung kicau di Baturaja, mengatakan alasan mereka murni karena kesukaannya pada suara burung yang merdu dan mempercantik rumah.

Comments

comments