Newsflash
| Akankah Gaza Berkecamuk Lagi |
| Ditulis Oleh Dian Kusnadi | |
| Minggu, 25 Januari 2009 | |
|
Terdengar kokok ayam disela suara dentuman. Langit malam seketika terang membara bersama asap kelam menyertainya. Belum lah merahnya langit di salah satu sudut itu redup, dentuman lain terdengar dan langit malam disudut lainnya kembali memerah. Setiap malam, sejak 27 Desember 2008 sampai hari ke 16 pada, pesawat-pesawat Israel setidaknya 30 kali membombardir Gaza. Sedangkan perlawanan roket dari Hamas tidak tampak pada malam ke 16 itu. Pada hari ke 16, serangan Israel memasuki tahap kedua sebagian personel militer cadangan sudah masuk Jalur Gaza dan yang lain akan masuk kemudian. Dan tahap ketiga berupa perluasan serangan darat, kemungkinan ke dalam wilayah Kota Gaza, yang berpenduduk padat. Serangan pasukan Israel dengan dalih membalas serangan roket pejuang bersenjata Hamas telah menjadi tragedi kemanusiaaan. Peperangan belum ada tanda-tanda mereda pada hari ke 16. Resolusi Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan pada Kamis (8/1), memuat ; terciptanya gencatan senjata yang langgeng dan sepenuhnya dipatuhi dan sesegera mungkin menuju penarikan Israel sepenuhnya dari Gaza, serta menyerukan dilaksanakannya penyaluran bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Jalur Gaza, hanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan beberapa aset PBB di Gaza, seperti sekolah dan rumah sakit, turut menjadi korban gempuran bom Israel. Sampai-sampai aktivitas kemanuniaaan yang dilakukan PBB di Gaza dihentikan. Kutukan kepada Israel dari penjuru dunia pun tidak digubris. Pengupayan dialog antara Israel dan Palestina, seakan mustahil dilakukan. Presiden terpilih Amerika Serikat Barack Obama yang diharapkan bertindak tegas itu lama berdiam seribu bahasa, walau akhirnya menyatakan keprihatinan akan apa yang terjadi di Gaza. Osama Bin Laden sampai ‘turun gunung’ membuat pernyatan mengutuk serangan Israel pada sebuah rekaman di lokasi yang dirahasiakan. Apapun !. Kala itu, pihak Israel bersikeras melanjutkan operasi militer tersebut selama diperlukan, dengan dalih menghentikan tembakan roket Palestina ke arah Israel Selatan, seperti kota Sderot dan Ashkelon dan mencegah penyelundupan senjata ke Gaza melalui terowongan. Begitupun Hamas tegas menyatakan akan terus berperang, meskipun kelompok pejuang Palestina kalah dalam persenjataan dan menghadapi serangan gencar. Bahkan keduanya mengklaim akan menang. Apapun lah, korban anak-anak dan perempuan terus berjatuhan. Gencatan Senjata Pada hari ke 22 itu, tak ada laporan serangan-serangan udara, roket atau pertempuran yang dilakukan kedua pihak. Suara tembakan senjata tak lagi terdengar di sekitar Gaza setelah Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak mulai Minggu (18/1) dan Hamas serta kelompok-kelompok militan lainnya menyerukan gencatan senjata sepekan sesuai versinya. Gencatan senjata yang rapuh mulai dilakukan. Di darat, suasana tampak tenang dan warga Palestina mulai bermunculan dari reruntuhan kembali melakukan kegiatan sehari-hari di tengah-tengah kehancuran. Sejumlah toko dan bank buka kembali. Polisi Hamas muncul kembali di jalan-jalan dan mengatur lalu lintas di perempatan jalan. Banyak orang masuk ke reruntuhan untuk mencari apa yang mereka bisa manfaatkan seperti pakaian, pesawat televisi, buku-buku dan makanan kaleng. Najette Manah membawa satu kotak beras yang ia temukan di reruntuhan rumahnya. "Kami tak punya rumah lagi. Saya tak punya apa-apa lagi," ujar anak perempuan itu. Di tengah-tengah suasana tenang, hampir 200 truk berisi bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza dan memasok 400.000 liter bahan bakar ke kawasan itu. Keputusan Israel untuk memberlakukan gencatan senjata sepihak dalam perangya melawan Hamas terjadi setelah negara itu memperoleh janji dari Washington dan Kairo untuk membantu mencegah penyelundupan senjata ke Jalur Gaza -- suatu hal yang juga telah dijanjikan Eropa. Sementara itu tekanan muncul dari berbagai negara, PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia agar kejahatan perang Israel diselidiki dan mereka yang bertanggung jawab dibawa ke pengadilan. Sejumlah insiden khusus juga mendorong seruan bagi investigasi independen atas suatu kejahatan perang, termasuk serangan pekan lalu atas sebuah sekolah yang dikelola PBB. Dalam insiden di sekolah yang dijadikan tempat perlindungan warga sipil, lebih 40 orang tewas. Upaya-upaya yang dilakukan pasukan Israel menghalangi pekerja pertolongan untuk mengevakuasi warga yang cedera selama empat hari merupakan insiden lain yang dikecam Komite Palang Merah Internasional. Selama perang 22 hari itu, lebih 1.300 warga Palestina telah tewas dan lebih 5.000 cedera, sebagian besar di antara mereka anak-anak, perempuan dan masyarakat sipil. Sekolah, rumah sakit, bangunan PBB dan ribuan rumah rusak parah terkena gempuran Israel, dan Pemerintah Palestina menyatakan bahwa jumlah kerugian prasarana saja mencapai 476 juta dolar. Akankah gencatan senjata itu bertahan lama ?. (wdg/net) |









