Dengan Berbagi Serasa Makin Bertambah Rezeki

 

 

SOFW2

H. Sofwatillah Mohzaib, S.Sos.I.

H Sofwatillah Mohzaib atau yang akrab di masyarakat dengan sapaan Ustadz Opat adalah seorang pendakwah yang juga menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019. Ia kembali terpilih setelah lima tahun menjalankan amanah sebagai wakil rakyat di DPR RI periode 2009-2010. Mundur lagi lima tahun sebelumnya, yakni antara tahun 2004-2009, Ustadz Opat dipercaya rakyat untuk menyuarakan aspirasinya melalui kursi legislatif di DPRD Kota Palembang.

Ustadz Opat terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Sumsel I, yang meliputi Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, Musirawas, serta Kota Lubuklinggau dan Palembang. Bagi Ustadz Opat, majunya ia ke dunia politik merupakan sarana untuk berdakwah dan berbuat lebih untuk masyarakat banyak.

Berdakwah dan melakukan pekerjaan sosial memang telah biasa diakukan oleh Ustadz Opat, bahkan sejak usia muda. Oleh orangtua dan keluarga, sejak kecil ia dibekali dengan pendidikan agama maupun pendidikan lainnya, untuk meningkatkan rasa keimanan dan ketakwaan, serta ilmu pengetahuan dan wawasannya.

“Saya dari kecil sudah dimasukkan ke pesantren. Saya mendapat pendidikan agama di tiga pesantren, Pondok Pesantren Al-Khairiyah, Citangkil, Cilegon, Banten, kemudian di Pesantren Ar-Riyadh Palembang, dan Pondok Pesantren Arrisalah, Slahung, di Ponorogo,” kata Ustadz Opat kepada Tabloid Desa, Rabu 1 Juni 2016.

Selepas menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren pada tahun 1995, Ustadz Opat kembali ke Palembang. Berpegang pada pepatah di pondok pesantren yang diingatnya, yakni ‘gali potensi, raih prestasi,’ Ustadz Opat yang belum memiliki pekerjaan, memutuskan untuk mengajar mengaji dari rumah ke rumah.

“Saya harus memberdayakan diri, karena saya bisanya mengaji maka saya mengajar dari rumah ke rumah di Komplek Poligon. Honornya tak saya tetapkan, berapapun diterima, ada yang kasih Rp 10 ribu, Rp 20 ribu sebulan, bervariasi,” kenang Ustadz Opat.

Honor dari mengaji dikumpulkannya dari bulan ke bulan hingga satu tahun kemudian, uang tersebut cukup sebagai biaya persiapan untuk masuk kuliah di IAIN Raden Fatah Palembang. “Orangtua memang sangat mendukung dan mendorong untuk kuliah. Tapi saya juga sadar, semangat mereka saja yang tinggi, karena itu saya juga harus mencari tambahan untuk membiayai kuliah,” kata Ustadz Opat.

Kegiatan mengajar mengaji anak-anak di Komplek Poligon terus dilakoni Ustadz Opat dan berjalan dengan lancar untuk menunjang kuliahnya. Tahun 1997, Ustadz Opat terbersit untuk juga mengajar mengaji secara gratis kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya di Tangga Buntung.

“Saya berfikir kenapa hanya mengajar ngaji anak orang kaya saja, waktu itu TK TPA di lingkungan tempat tinggal belum ada. Saya inisiatif mengajar mengaji anak-anak kampung secara gratis. Dari 10, 20, hingga akhirnya lebih dari 30 santri, akhirnya karena kewalahan saya aja 3 teman dari pesantren untuk bantu mengajar,” terang ayah 3 anak ini.

Lantas darimana Ustadz Opat membayar honor 3 orang temannya? Rupanya dari honor mengajar mengaji anak-anak di Komplek Poligon. Total honor bulanan mengajar mengaji yang diterima Opat sebesar Rp 300 ribu dibagi dua, untuk tiga orang temannya masing-masing Rp 50 ribu, dan untuk ia sendiri RP 150 ribu. “Alhamdulillah, dengan berbagi justru rezeki saya makin bertambah,” ujar Ustadz Opat penuh syukur.

Selanjutnya, dari pengajian kecil yang dikelola Ustadz Opat kemudian menjadi madrasah, dan itulah cikal bakal Pondok Pesantren Modern IGM Al-Ihsaniyah Palembang. Diceritakan Ustadz Opat, pesantren yang dikelolanya menjadi seperti saat ini berkat bantuan dari para donatur, terutama H Marzuki Alie, yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Semen Baturaja beserta istrinya Hj Asmawati.

“Pak Marzuki bilang carilah tanah di daerah Tangga Buntung, karena tidak ketemu, beliau tawarkan tanah di Sako. Saya bilang, daripada di Sako, lebih baik saya ke Jawa karena keluarga juga punya tanah disana,” kata Ustadz Opat yang memiliki keinginan kuat untuk berdakwah di kawasan Tangga Buntung, Palembang.

Selang satu atau dua tahun kemudian, didapatlah lahan di kawasan Gandus yang tak begitu jauh dari Tangga Buntung. Selanjutnya tanah itu dibeli H Marzuki Alie dan mulai dibangun gedung pesantren. Tahun 2011, Pondok Pesantren Modern IGM Al-Ihsaniyah Palembang akhirnya resmi menampati gedung baru di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus, Palembang.
Bait Al-Quran Al-Akbar.

Selain aktif mengajar mengaji sejak muda, Ustadz Opat juga memiliki keahlian di bidang kaligrafi. Sejak tahun 2000-an ia telah banyak menghasilkan karya kaligrafi yang menghiasi masjid dan mushalla di Palembang dan sekitarnya. “Banyak juga yang minta dibuatkan, biayanya dari yang gratis, dibayar sukarela, sampai yang bernilai,” cerita Ustadz Opat.

Saat renovasi Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Walikota Palembang H Edy Santana Putra meminta Ustadz Opat untuk mengerjakan kaligrafi di mimbar, mihrab, jendela, dan bagian lainnya. Saat itu panitia tak punya cukup dana, saat ditender, semua perusahaan mengajukan angka di atas Rp 1 miliar. “Sementara panitia hanya punya dana Rp180 jutaan, aku terima,” kata Ustadz Opat.

Ketika tengah menyelesaikan kaligrafi dan ornamen di Masjid Agung SMB II Palembang, yang ketika itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, antara sadar atau tidak, Ustadz Opat mendapat ilham untuk membuat kaligrafi Al-Qur’an. “Antara sadar atau tidak, ada yang bilang coba kamu buat Al-Qur’an 30 juz. Setelah pulang, malamnya saya ambil wudhu dan shalat, dan muncullah ide untuk membuat Al-Qur’an raksasa berbahan kayu yang diukir,” jelas Ustadz Opat.

Pada tahun 2008, setelah melewati berbagai kendala, terutama dana dan bahan baku kayu tembesu pembuatan Al-Quran raksasa ini berhasil diselesaikan. Al-Qur’an ini terdiri dari dua sampul, halaman 1 hingga 604 sebanyak 306 lembar dari 1 hingga 30 juz. Sedangkan hal 605 hingga 630 berupa hiasan Al-Qur’an, daftar isi, tajwid, sambutan-sambutan, mukadimah, pengesahan pentashih, panitia, dan daftar donatur dan partisipan. Tebal keseluruhannya mencapai 9 meter.

 

Teks : M Ikhsan
Editor : Sarono P Sasmito

Comments

comments