Danis Setia Budi: Pulang Kampung Membangun Mimpi Desa Mandiri

750x500-danis-setia-budi-kepala-desa-muda-yang-bermimpi-ciptakan-desa-mandiri-1608080

TERDAPAT banyak medan pengabdian bagi para pemuda untuk membangun negerinya. Bagi Danis Setia Budi Nugroho (29), medan pengabdian yang dipilihnya mulai dari lingkup terdekat yaitu mengabdi di desa kelahirannya sebagai kepala desa. Danis menjadi kepala desa karena dorongan dari teman-teman pemuda di desa Gondowangi yang meminta Danis untuk pulang kampung dan memimpin desanya.

Sebelumnya Danis memang telah aktif di Gondowangi melalui kegiatan Karang Taruna dan cukup menghidupkan kegiatan bagi remaja di desa tersebut. Selepas tamat kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM), Danis sempat bekerja di luar kota hingga akhirnya datang panggilan dari teman-teman serta orang tuanya yang memintanya pulang untuk mengikuti pemilihan kepala desa. Awalnya Danis masih belum merencanakan untuk menjadi kepala di desa kelahirannya.

“Saya baru pulang kampung, satu bulan sebelum coblosan. Itu pun karena ada telpon dari bapak baru saya membulatkan tekad,” ujar Danis mengenai pencalonannya menjadi kepala desa.

Walaupun persiapannya untuk menjadi kepala desa tergolong mendadak, namun sesungguhnya dia sudah memiliki modal yang cukup kuat. Kakek dan pakdenya juga pernah menduduki jabatan yang kini diembannya, selain itu modal sosial berupa keaktifan di Karang Taruna dan kecintaannya terhadap desanya membuat dia memiliki pengetahuan yang memadai serta konsep yang cukup jelas dalam membangun desanya.

Pada Desember 2013, di usianya yang masih 27 tahun, Danis dilantik sebagai Kepala Desa Gondowangi. Tentu saja dengan usia yang masih sangat muda tersebut, banyak pihak yang sangsi dengan kemampuan Danis. Namun pada enam bulan awal kepemimpinannya dia coba membuktikan bahwa dia memiliki pandangan dan kemampuan untuk menjadi Kepala Desa.

Berbeda dengan Lurah di kota, Kepala Desa bukan hanya sekedar jabatan administratif namun juga merupakan penyelesai masalah sosial di desa. Berbekal pengalaman terlibat dalam Karang Taruna serta peran aktif untuk melibatkan masyarakat dalam mengembangkan desa, Danis berhasil meraih kepercayaan dari masyarakat.

Satu hal yang ditekankan Danis dari kepemimpinannya di Gondowangi adalah terkait cara dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di desanya tanpa terlalu tergantung dengan bantuan dari luar. Hal itu diwujudkan dalam bentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengelola Perusahaan Air Minum Desa (PAMDes), pengolahan sampah, serta adanya lumbung desa.

Untuk PAMDes sendiri, saat ini usaha tersebut sudah dapat memperoleh profit, bahkan dari total 1020 konsumennya, sebanyak 120 merupakan masyarakat luar desa Gondowangi. Saat ini usaha tersebut sedang dikembangkan agar pipanya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat serta memperbanyak sumber air yang dapat digunakan.

BUMDes lain yang cukup inovatif adalah lumbung desa. Lumbung desa ini merupakan sistem yang membuat petani dapat memperoleh harga yang lebih stabil dan mahal ketika menjual gabah mereka ke desa. Nanti setelah diolah oleh desa menjadi beras, petani akan membeli kembali dengan harga yang tergolong murah. Tentu saja beras di sini bukanlah beras sembarangan namun merupakan beras unggulan.

“Padi yang ditanam merupakan benih varietas kuno bernama Sukonade yang umurnya memang lebih lama namun bulirnya lebih besar, padat dan panjang” ujar Danis.

“Beras yang dihasilkan dari Sukonade ini juga tergolong beras premium dengan kandungan yang lebih bagus,” tambahnya.

Sistem lumbung desa yang digunakannya ini bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat serta menciptakan kedaulatan pangan di Gondowangi. Untuk harga padi ini kelak akan dimuat di dalam Perdes sehingga petani memiliki jaminan harga jual sehingga mereka dapat lebih fokus dalam memikirkan cara untuk meningkatkan produktifitas.

 

Sumber: malang.merdeka.com

Comments

comments