Bonn Challenge, Upaya Menyelamatkan Bumi Sriwijaya dari Kerusakan

ALEX3z

Tabloid-DESA.com PALEMBANG – Pertemuan 30-an pemimpin dunia yang pro terhadap lingkungan dalam Bonn Challange, yang digelar di Palembang 9-10 Mei ini dinilai akan dapat menjadi solusi dalam mengatasi kerusakan lingkungan dunia, termasuk di Sumatera Selatan. Sebuah harapan bagi masyarakat yang tetap menginginkan bumi sebagai rumah yang lestari dan terpelihara.

Apa Bonn Challange?

Sebagian dari kita sangat asing dengan istilah ini, dan banyak yang berpendapat bahwa Bonn Challange merupakan singkatan semata dari kegiatan dunia internasional yang bakal berlangsung di Palembang. Bonn Challange adalah organisasi dunia berdiri sejak September tahun 2011 lalu di kota Bonn Jerman.  diluncurkan dengan difasilitasi oleh tuan rumah Kementerian Lingkungan Hidup Jerman dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) di Kota Bonn, Jerman. Bonn Challenge dapat dimanfaatkan sebagai kendaraan untuk pembangunan desa dan keamanan air dan pangan, sekaligus berkontribusi terhadap isu perubahan iklim.

Adapun organisasi yang berkomitmen melaksanakan tujuan dari pakta ini antara lain: Sektor pemerintah meliputi (1)Argentina, (2)Costa Rica, (3)Ekuador, (4)Ghana, (5)Honduras, (6)Liberia, (7)Meksiko, (8)Meksiko (Campeche), (9)Meksiko (Yukatan), (10)Meksiko (Quintanaa Roo), (11)Nigeria, (12)Peru, (13)Amerika Serikat, (14)Burundi, (15)Chili, (16)Elsalvador, (17)Guatemala, (18)India, (19)Madagaskar, (20)Mozambik, (21)Pakistan (Khyber Pakhtunkhwa Province/KPK), (22)Republik Kongo, (23)Republik Demokratik Kongo, (24)Ethiophia, (25)Guinea, (26)Kenya, (27)Malawi, (28)Nikaragua, (29)Panama, (30)Rwanda, (31)Uganda, (32)Pantai Gading, (33)Republik Afrika Tengah, (34)Kolombia. Sektor bisnis dan LSM meliputi (35)Brazil’s Atlantic Forest Restoration Pact, (36)Asia Pulp & Paper, (37)Association of Guatelama Private Natural Reserves.

Dalam tujuannya, Bonn Challenge hadir menjadi salah satu upaya penyelamatan hutan, selain sebagai forum pertemuan regional tingkat menteri lingkungan hidup, kehutanan dan sumber daya (pemerintah), juga melibatkan elemen sipil dan bisnis dari seluruh dunia. Tujuan utamanya adalah sebagai upaya global untuk mengurangi laju deforestasi seluas 150 juta hektar lahan hutan hingga tahun 2020, dan 350 juta hektar sampai dengan tahun 2030.

Kenapa di Sumsel?

Sumatera Selatan khususnya Palembang menjadi tempat pertemuan sebanyak 40 negara, dalam pelaksanaan Bonn Challange.  Sumsel terpilih menjadi tempat pertemuan lantaran komitmen Pemprov Sumsel terhadap lingkungan hidup. Kepemimpinan Alex Noerdin yang tahun lalu diundang secara khusus oleh Panama, mendapat apresiasi masyarakat internasional. Apresiasi tersebut ditandai dengan dipilihnya Sumsel sebagai tuan rumah Bonn Challenge IV.

Sumsel ditetapkan sebagai tuan rumah Bonn Challenge pada pertemuan di Bonn, Jerman, yang saat itu juga dihadiri Gubernur Sumsel Alex Noerdin. Pada pertemuan Bonn Challenge II tersebut, Alex Noerdin menyampaikan pendapatnya, bahwa pertemuan untuk membahas lingkungan hidup harusnya berada di lokasi dan wilayah yang benar-benar rusak, bukan berada di kota Bonn yang cantik dan memiliki lingkungan bagus. “Ternyata pendapat Gubernur Sumatera Selatan itu mendapat respon peserta dan menunjuk Palembang sebagai tempat pelaksanaan Bonn Challenge berikutnya,” ujarnya.

Menurut Alex Noerdin, Sumatera Selatan patut menjadi tuan rumah tidak terlepas karena di provinsi ini ada 1,2 juta hektar hutannya termasuk lahan kritis akibat pembalakan liar, perambahan, serta karhutla yang menyebabkan degradasi.  Gubernur Alex Noerdin menjelaskan, The Bonn Challenge merupakan upaya global untuk mengembalikan 150 juta hektar lahan terdegradasi dan gundul di dunia pada tahun 2020. “Program ini merupakan inisiatif restorasi terbesar dunia yang pernah ada,” ujarnya.

Rencananya juga, Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi lokasi yang akan dikunjungi, khususnya ke kebun plasma nutfah di Sepucuk, Kayuagung pada 9 Mei 2017 nanti. Bupati Ogan Komering Ilir Iskandar mengatakan, Pemerintah Kabupaten OKI saat ini bersiapa menyambut para delegasi negara asing yang akan menghadiri The 1st Asia Bonn Challenge High Level Meeting pada 9-10 Mei mendatang.  “Diperkirakan akan ada 250 orang yang datang ke Sepucuk dalam field trip nanti. Tentunya OKI bersiap untuk menyambut para delegasi Bonn Challenge ini,” kata Iskandar.

Dia mengatakan ditetapkannya lokasi plasma nutpah Sepucuk sebagai salah satu agenda Bonn Challange pertama di Asia ini menurut Iskandar karena pelestarian tanaman lokal di hutan buatan ini dianggap salah satu yang berhasil dilakukan di dunia.  “Wakil dari seluruh belahan dunia akan datang, semoga ini memberi dampak positif kepada warga OKI,” kata dia.

Kepala DLH Kabupaten OKI mengatakan Bonn Challenge ini diselenggarakan sebagai upaya dunia menyelamatkan lingkungan melalui restorasi awasan berwawasan green growth. “Kegiatan ini juga dalam rangka mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran lahan gambut serta merestorasi bekas lahan gambut yang terbakar,” kata dia.

TANAM

Hutan Sumsel Dalam Kenyataan

Provinsi Sumsel ternyata sempat menarik perhatian dunia internasional pada tahun 2015 lalu, lantaran karena terjadi kebakaran hutan dan lahan yang hebat dengan menghanguskan 736.563 hektare. Kemudian, dalam waktu 1,5 tahun yakni pada 2016, Sumsel berhasil menekan karhutla hingga 99,87 persen jika dibandingkan 2015 karena menerapkan manajemen pendeteksian dini dan pengaruh iklim kemarau basah. Kenyataannya, Sumsel memiliki hutan seluas 8,9 juta hektare. 60 persen hutan tersebut diperuntukan bagi usaha perkebunan, pertambangan batubara, dan migas. Dapat dipastikan akses masyarakat, khususnya petani, terhadap lahan sangat kecil. Kondisi ini juga berlangsung di daerah lain di Indonesia.

Technical Adviser-Natural Resources Governance UNDP Indonesia, Dr.Abdul Wahib Situmorang mengatakan, baru seluas 81.827 hektar hutan di Sumsel yang digarap menjadi perhutanan sosial, dari seluas 586.393 hektar dalam peruntukkanya. “Artinya baru 14 persen target terealisasi hingga tahun 2016. Sebab, berdasarkan Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS) yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas areal yang diperuntukkan untuk pengembangan perhutanan sosial seluas 586.393 hektare,” tegas Abdul Wahib.

Dia menjelaskan, Sumatera Selatan dengan luas 8,9 juta hektare hampir 60 persen diperuntukan bagi usaha perkebunan, pertambangan batubara, dan migas. Dapat dipastikan akses masyarakat, khususnya petani, terhadap lahan sangat kecil. Kondisi ini juga berlangsung di daerah lain di Indonesia. Pemerintahan Jokowi kemudian menerapkan program perhutanan sosial seluas 12,7 juta hectare hingga tahun 2020, sebagai upaya penyeimbangan akses lahan masyarakat dengan pelaku usaha. Namun, upaya ini tampaknya berjalan lamban.

di Indonesia sendiri, dari target 12, 7 juta hekatre lahan yang dijadikan perhutanan sosial hingga 2020, pada tahun 2016 lalu baru tercapai 316.824 hektare atau 12,6 persen dari target perhutanan sosial per tahun.““Sejumlah laporan telah mencoba mengungkap beragam masalah dan kendala dalam pencapaian target perhutanan sosial ini,” kata dia.

Abdul Wahib Situmorang yang akrab di panggil Ucok ini menegaskan, beberapa masalah yang mengemuka dan menjadi kendala terealisasinya perhutanan sosial di antaranya, keterbatasan dana yang dialokasikan pemerintah, prosedur dan regulasi, dan keterbatasan sumber daya pendamping. “Selain itu, ada keterbatasan pertukaran informasi antara pemangku kepentingan, rendahnya tingkat “kepercayaan” antara para pemangku kepentingan, transparansi rendah dan minimnya konsultasi dalam proses pengambilan keputusan, kesulitan dalam mengoperasionalkan kebijakan pemerintah, dukungan dari pemerintah daerah belum maksimal, rendahnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan manajemen,” tegas dia.

Lansekap Sriwijaya dan Spririt Talang Tuwo

Landsekap atau bentang alam Sumatera Selatan ternyata telah lama di petakan oleh pendahulu kita, yakni kerajaan Sriwijaya dalam sebuah prasasti yakni Talang Tuwo. Gubernur Sumsel Alex Noerdin telah pula mencanangkan hari bumi versi Sriwijaya pada tanggal 23 Maret 2017 lalu, ketika membuka roadshow teater Potlot yang berjudul Gambut di Jakabaring. Dalam pidatonya yang dibacakan oleh Staff khusus Gubernur, Najib Asmani. “, merujuk pada Prasasti Talang Tuwo 684 Masehi , pada kesempatan hari ini dengan mengucap “Bismillahirrakmanirakhim” mencanangkan Hari Bumi versi Sriwijaya untuk diperingati pada setiap tanggal 23 Maret,”kata dia.

Menurut Nadjib, pada tahun 1984 dari hasil foto udara menunjukkan adanya jaringan kanal terpadu, kolam, serta pulau-pulau buatan yang terletak di Karanganyar, tepatnya di tepi utara Sungai Musi.  Situs ini adalah salah satu karya lanskap pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Kemudian oleh pemerintah Sumatera Selatan, kawasan ini dipugar dan dijadikan Taman Purbakala  Kerajaan Sriwijaya. TPKS (Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya) diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Desember 1994, ditandai dengan diletakkannya replika prasasti Kedukan Bukit yang menjadi bukti otentik kelahiran dari Kerajaan Sriwijaya. “Sejalan dengan itu Sumatera Selatan telah menginisiasi Kemitraan Pengelolaan lanskap.  Mari kita jadikan suatu aset wisata, pertumbuhan ekonomi dan pelestarian melalui pendekatan lanskap dengan melestarikan Wanua-Wanua serta merestorasi aset budaya Srwijaya,”tambah dia.

Sebagaimana diketahui Palembang adalah Pusat kerajaan Sriwijaya berdasarkan prasasti Kedukan Bukit.  Di dalam prasasti ini tertulis sebuah cerita bersejarah yang menjadi salah satu bukti terjadinya peristiwa besar pada masa itu. Di dalam prasasti tertulis “Pada tanggal 23 April 682 Dapunta Hyang melakukan siddhayatra atau perjalan suci dan  pada tanggal 19 Mei tahun yang sama, Ia berangkat dari Minanga dengan membawa 20.000 pasukan dan 200 kotak perbekalan di perahu. Pasukan yang berjalan kaki berjumlah 1.312 orang. Pada tanggal 16 Juni tiba di Mukha Upang dengan senang hati., dengan lega gembira ia mendirikan wanua Sriwijaya jaya. Siddhayatra sempurna.”

Kemudian pada tanggal 23 Maret 684 Masehi membangun Taman  Śrīksetra. Inilah niat Śrī Jayanāśa pada Prasasti Talang Tuwo, yang berbunyi: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan sebagainya.  Semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan.

Arkeolog dari badan arkeologi Sumsel, Bambang Budi Utomo mengatakan, bukti sejarah keberadaan Kerajaan Sriwijaya saat ini sudah sangat banyak ditemukan. Bahkan Alumni Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi ini menyatakan jika Kerajaan Sriwijaya satu satunya kerajaan/ kota yang memiliki akte kelahiran yang kini menjadi Palembang. Palembang, berada di tempat strategis di muara sungai. Maka kampung ini jadi kota jadi ramai di kunjungi pedagang dunia jadi berkembang menjadi kota yang besar, kota internasional yang melakukan hubungan dengan kerajaan lain seperti Tongkok, India, Thailand dan lain lain. “Setelah kota lahir lanjut Bambang Dapunta Hyang membangun taman  Sri Setra pada tahun  684 masehi. Taman itu tertulis pada prasasti Talang Tuo ditemukan di sekitar Gandus Palembang. Di sekitar talang Tuo ditemukan tanaman-tanaman yang tertulis dalam prasasti hingga sekarang,” jelasnya.

Kemudian lanjut Bambang,  Dapunta Hyang mendirikan pusat pemerintahan dalam yang tertulis dalam  Prasasti Persumpahan Telaga Batu. Prasasti yang berisi sumpah para putra mahkota, pejabat hingga petugas kerajaan. Ditemukan di sekitar 3 ilir palembang, prasasti ada di museum nasional Jakarta. Bahkan, sebelum Sriwijaya sudah ada pemukiman. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga daerah yang berada ditimur laut Palembang, menuju Muka Upang (Palembang)  dibangunlah kota Sriwijaya sekitar Tangga Buntung, Palembang.

Spirit Talang Tuwo untuk Lansekap Asia

Menurut Nadjib, sebagai bangsa Indonesia seharusnya kita berterimakasih dengan Kerajaan Sriwijaya yang telah membuat Prasasti Talang Tuwo, sebuah prasasti yang menjelaskan sebuah lansekap yang dikembangkan kerajaan tersebut di Asia Tenggara pada masanya. “Bayangkan, di tengah alam yang masih baik di masa itu, Raja Sriwijaya sudah beramanah agar manusia menjaga hutan, mengatur irigasi, dan bertanam buah-buahan dan tanaman tertentu untuk keberlanjutan masa depan makhluk hidup,”kata dia.

Pemikiran dan tindakan yang dimulai 1.300 tahun yang lalu itu ternyata memang menciptakan suku bangsa di Asia Tenggara hidup makmur dengan terus menjaga bumi yang lestari selama beberapa abad, sebelum masuknya masa eksplorasi alam yang tidak lestari.

Dengan fakta ini, mungkin apa yang diamanahkan Raja Sriwijaya dalam prasasti tersebut dapat dijalankan kembali oleh bangsa di Asia Tenggara maupun di Asia, sehingga hidup makmur dengan kondisi bumi yang lestari. “Saya kira dengan adanya ikatan batin untuk melestarikan spirit Sriwijaya dalam pelestarian lansekap, maka bangsa-bangsa Asia akan penuh semangat menghidupkan kembali tradisi yang menjaga hutan, satwa, dan berkebun dan bertani dengan tanaman tertentu, yang dapat memakmurkan semua makhluk hidup tanpa membuat lingkungan menjadi rusak,”tambah dia.

Budayawan Palembang, Taufik Wijaya mengatakan,  semangat Talang Tuwo telah memberi kesadaran pentingnya menjalankan program lansekap berkelanjutan. “  yakni membangun atau membentuk kesadaran manusia yang terlibat di dalamnya, baik sebagai masyarakat, pelaku usaha, penyelenggara pemerintahan, maupun penggiat lingkungan hidup,”kata dia.

Nilai-nilai ini yang kemudian akan dibangun atau disampaikan kepada manusia yang terlibat dalam sebuah proyek lansekap berkelanjutan di Sumatera Selatan. Guna mewujudkan pembangunan manusia Talang Tuwo tersebut antara lain pertama membangun komitmen berbagai pihak. “Kedua pemetaan dan sosialisasi. Ketiga pendidikan baik formal dan nonformal, serta pembuatan kebijakan hukum di wilayah lansekap dan monitoring,”ujar dia.

Semangat Memperbaiki Alam Sumsel

Lansekap Sriwijaya rencananya akan menjadi agenda rancangan yang akan didelegasikan dalam bonn challange. Semangat untuk membangun berwawasan lingkungan hidup diharapkan dapat membawa dampak positif bagi dunia.  Menurut Taufik Wijaya, keuntungan Indonesia terkait Bonn Challenge Tidak saja untuk Sumsel saja. “Tetapi juga Indonesia dapat menginformasikan kepada publik internasional bahwa kegiatan restorasi lansekap tidak hanya dilakukan di tingkat nasional, juga dilakukan pemerintah di tingkat sub nasional yang melakukan berbagai kegiatan restorasi hutan dan upaya penurunan emisi karbon,”kata dia.

Artinya, jelas Taufik, bagi Indonesia dapat mengemukan pledging atau janji berapa luas hutan atau lansekap yang akan direstorasi yang perlu difasilitasi oleh Bonn Challenge untuk mendapatkan dukungan internasional untuk mencapai target National Determine Contribution (NDC) pengurangan emisi gas rumah kaca sesuai Komitmen Paris.

Bahkan, terkait lansekap yang akan dibicarakan pada pertemuan Bonn Challenge Regional Asia Pasifik nanti, semuanya harus memahami pengertian lansekap yang secara umum diartikan sebagai bentang alam. “Hal ini berarti terdiri dari berbagai kegiatan ekonomi dengan berbagai sumberdaya alam terutama hutan yang banyak memberikan manfaat bagi keberlanjutan masa depan kehidupan, seperti ketersediaan sumberdaya air, keanekaragaman hayati dan iklim yang terjaga,”tambah dia.

Dari segi ekologi tentunya bertujuan untuk pelestarian atau konservasi, merehabiltasi lahan-lahan yang terdegradasi dan merestorasi kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi dan habitat dari hewan-hewan yang langka. “Sebagai contoh di lansekap Sumatera, dijumpai berbagai satwa liar karismatik seperti gajah, harimau, dan badak.  Dengan demikian pengelolaan lansekap harus mengintegrasikan seluruh komponen yang ada di dalamnya baik komponen hidup maupun yang tidak hidup,” jelas dia.

Pun karena di dalam suatu lansekap pasti ditemukan hasil karya budaya manusia sejak zaman prasejarah dan sejarah, maka penting untuk mengangkat nilai-nilai penting bagi peradaban manusia, yang juga harus terjaga.

Comments

comments