Berburu Lailatul Qodar

SUJUD

Takbir, tahlil, dan tahmid, segera menjelang. Alam raya menyambut datangnya Idhul Fitri, hari kemenangan yang besar bagi kita seluruh umat muslim. Didesa tempat kita berdomisili, terlihat cerah. Para tetangga sebagian sudah membersihkan rumah, menyambut datangnya hari raya.  Meski masih berpuasa, bau menyengat kue, makanan khas, dan berbagai kuliner lainnya seakan menggoncangkan perut. “Terserahlah, saat ini kita juga masih berpuasa,” ujar fikirkan yang mulai sadar dengan kondisi. 

Suara azan magrib yang selalu dinantikan, juga akan segera meninggalkan kita. Lantaran ramadan juga akan berakhir. Mulai terbersit sedikit kerinduan, dan harap-harap cemas seakan ramadan tahun depan tidak bakal mengunjungi kita kembali. Ada sebagian dari kita yang merasakan keramahan dan keindahan ramadan tahun ini. Pun, sebaliknya ada juga yang kurang berkesan.

Kita pun para umat muslim, mungkin diberi kesempatan berbeda satu dengan lainnya. Kesempatan untuk merasakan nikmatnya berpuasa, kesempatan mendapatkan nikmatnya beribadah, bahkan kesempatan untuk sujud di mesjid-mesjid. Semua ibadah sesuai level dan tingkatannya, dan masing-masing pribadi kita memahami hal itu.

Dimedia sosial seperti, facebook, twitter, whats’app banyak cerita dan lelucon mengenai lailatul qodar. Malam yang dimana berkah Allah tercurah kepada bumi dan semesta, malam 1000 bulan yang hanya datang setahun sekali. Ada yang berandai-andai, “kalau dapat lailatul qodar maka Syurga ditangan”, pun sebaliknya banyak yang pesimistik. “Sudahlah puasa saja sering bolong-bolong, sholat lima waktu jarang, apalagi sholat sunnah. Terus siapa yang bakal mencicipi tamu agung ramadan?

Itulah hak Allah SWT. Hanya Allah yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Dia. Yang selama ini beribadah, mengejar ridho Allah dengan khusu’. Menjalankan ibadah wajib, sunnah, dan sebagainya. Marilah berdoa untuk mendapatkan malam Lailatul Qodar. Hingga terus merasakan nikmatnya jiwa yang bersatu dengan semesta. Dimana nikmat itu dirasakan? Mungkin dihati yang teraplikasi dalam sikap hidup dan lebih baik dan bijaksana.

Ataukah sebagian kita yang merasa berdosa, dan seakan tidak mampu mencapainya akan lolos dari Lailatul Qodar? Belum tentu. Banyak cerita dan berita mereka yang mendapat Lailatul Qodar justru dari mereka yang selama ini kurang beribadah, pernah berbuat zalim, atau dosa-dosa besar non syirik. Kehidupan ini kita jalani dengan langkah pasti, berlomba-lomba dalam kebaikan, bersatu padu menuju kesejahteraan. Malam lailatul qodar, hanya dirasakan oleh pribadi-pribadi terpilih. Pribadi-pribadi yang secara langsung didapat, yang mereka sendiri merasakannya. Efeknya, tetangga, masyarakat, lingkungan, dan bahkan negara turut merasakan kebaikannya. Mari kita berfikir positif pada Allah, berkata-kata baik, memahami sesuatu dengan baik pula. Berkah ramadan, berkah puasa, akan masuk dalam bidikan para pencari lailatul qodar. Wallahu A’lam bi shawab. (**)

 

Comments

comments