Belajarlah ke Desa

belajarkedesa

Suatu ketika saya pernah melihat dan mendengar demonstrasi mahasiswa di sebuah kampus. Mereka mengajukan beragam tuntutan yang intinya ingin ada perubahan di kampus itu agar menjadi lebih baik. Tetapi saya kaget ketika mendengar salah satu tuntutan adalah, hapuskan mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Alasannya karena mereka berasal dari program studi komputer dan sistem informasi, jadi tidak ada hubungan dengan orang dusun. Selama ini KKN selalu diadakan ke dusun-dusun (desa), dan mereka berkata bahwa jika mereka tamat nanti, mereka juga tidak akan bekerja di dusun. Karena itu, bagi program studi mereka (komputer dan sistem informasi), KKN ke dusun itu tidak ada gunanya sama sekali, karena mereka bukan “wong dusun”.

Terus terang, apa yang dituntut oleh mahasiswa di atas membuat miris dan menjadi sebuah tanda tanya sendiri, beginilah sekarang asumsi masyarakat (apalagi kalangan muda berpendidikan) tentang desa. Muncul semacam asumsi yang lebih bernuansa stereotype bahwa desa itu adalah daerah yang lebih rendah, kolot, tidak maju, dan parahnya, dianggap tidak punya apa-apa sama sekali untuk dijadikan tempat belajar.

Saya tidak akan membahas soal penting atau tidaknya mata kuliah KKN di perguruan tinggi, tetapi mari kita lihat bagaimana sebenarnya yang dikatakan desa dan mengapa kita tidak boleh melupakan hakekat desa itu. Ini adalah titik dasar pemahaman untuk membawa kita nantinya pada kesimpulan umum bahwa di desa itulah sumber pengetahuan yang sebenarnya. Pengetahuan tentang alam semesta, pengetahuan tentang ikatan sosial kemasyarakatan, pengetahuan tentang lingkungan hidup, serta pengetahuan tentang makna manusia itu sendiri.

Secara konseptual, istilah desa bisa kita acu pada pandangan Kartohadikoesoemo (1984;49) sebagai kesatuan masyarakat hukum yang telah ada jauh sebelum negara ini ada, berhak mengatur rumah tangga sendiri, memilih pemimpin sendiri, dan mengatur pemerintahannya sendiri. Sedikit banyak ini identik juga dengan model-model sistem pemerintahan tradisional yang dikenal oleh berbagai masyarakat di Indonesia. Pemerintahan Marga di Sumsel, Nagari di Sumbar, Kampong di Aceh, adalah bentuk-bentuk riil dari desa yang sebenarnya. Desa yang kemudian menjadi akar terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia ini.

Titik awal negara ini ada pada desa. Itu realitas yang tidak bisa dipungkiri. Bahwa kemudian terjadi perubahan, pergeseran, dinamika, sehingga kemudian konsep desa yang asli, sebagaimana pandangan di atas sudah sangat jarang kita temukan, itu adalah fakta lain. Modernisasi, pembangunan, perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat, termasuk berbagai kebijakan pemerintahan, menjadi hal yang kemudian menggerus keaslian desa tersebut. Pada wilayah ini, kita juga harus mengakui bahwa komunitas desa bukanlah komunitas yang statis, tertutup dan tidak menerima perubahan. Desa-desa pada berbagai hal memang sudah mengalami perubahan penting. Dalam bahasa ahli-ahli Sosiologi, telah terjadi proses industrialisasi besar-besaran di wilayah pedesaan ini.

Mengenai ini, seorang pakar lingkungan, Otto Soemarwoto pernah berkata bahwa realitas perubahan itu, justru disebabkan oleh dominasi komunitas perkotaan, yang pada banyak hal melakukan dominasi berbagai pengetahuan ke wilayah desa. Atas nama pengetahuan dan kemajuan, desa kemudian didorong agar berubah. Dorongan terbesar adalah menjadikan desa sebagai objek “buangan” dari berbagai temuan baru di masyarakat kota. Maka berkembanglah asumsi besar bahwa jika desa ingin maju, jadilah seperti masyarakat kota. Ini yang kemudian dikenal dengan istilah modernisasi.

Pola-pola untuk merubah desa ini masuk dalam berbagai sektor. Mulai dari teknologi pertanian, pendidikan, media massa, kebijakan pemerintah, sampai pada mekanisme pemerintahan di desa itu sendiri. Desa kemudian menjadi objek pembangunan, yang pada beberapa segi justru tidak disadari oleh orang desa itu sendiri. Tahu-tahu mereka sudah berubah. Hanya dalam jangka waktu singkat, misal lima tahun, seorang warga desa sudah bisa berkata, “dulu, lima tahun yang lalu, daerah ini tidak seperti ini…sekarang sudah jauh berbeda.”

Realitas perubahan sosial memang menempatkan desa sebagai objek perubahan. Pendekatan difusi inovasi, yang mendominasi pendekatan pembangunan di tahun 1980-an, menjadi salah satu motor utama penggerak perubahan. Sayangnya pula, perubahan itu hanya berkutat di sektor hilir, yaitu apa yang bisa dirubah dan apa yang bakal di dapat. Tidak pernah ada upaya untuk mempersiapkan masyarakat dari awal, bahwa seandainya ada perubahan besar, apa yang mesti diperhatikan. Hampir tidak ada upaya untuk menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan. Maka jadilah realitas seperti sekarang, dan berkembang pesat pula di generasi muda, kalau ingin dikatakan maju, jadilah seperti orang kota, jangan jadi wong dusun. Desa semakin termarginalkan, bahkan oleh orang desa itu sendiri.

Akan tetapi, apabila kita mau menelisik lebih jauh, tetap akan ditemukan bahwa di desa itulah sebenarnya sumber pengetahuan terbesar, terutama pengetahuan yang berkaitan dengan alam semesta, termasuk bagaimana menempatkan lingkungan pada posisi sejajar dengan kepentingan manusia. Orang desa sering mengatakan istilah, ajaran puyang, sebenarnya ini berkaitan dengan aspek pengetahuan dasar masyarakat desa, yang tentu saja tidak akan mudah dipahami oleh orang yang jarang, apalagi tidak pernah masuk ke desa.

Saya pernah ke beberapa desa di Semende Darat Ulu dan Tengah, Kabupaten Muara Enim. Wilayah ini berada di dataran tinggi Bukit Barisan Kelaziman warga disini memanfaatkan daerahnya untuk ditanami padi sawah dan kopi. Sebagai tanaman sela ada ragam sayur-sayuran, yang cukup untuk konsumsi rumah tangga. Walaupun kopi dan padi cukup dominan, tapi ini bukan pertanian monokultur. Tanaman utama yang termasuk warisan dari puyang sebenarnya adalah padi, kopi justru adalah tanaman yang dikenalkan oleh kaum pendatang terutama kolonial Belanda.

Hal menarik bagi saya adalah padi yang ditanam adalah jenis jambat teghas, jenis padi lokal yang sudah berusia ratusan tahun. Ciri khasnya berbatang tinggi dan berusia panjang (8 bulan panen). Akibatnya, pola persawahan di Semende Darat hanya satu kali setahun, beda dengan daerah lain yang sekarang sudah mengenal panen hingga 3 kali setahun. Mengapa jeme Semende ini tetap bertahan sekali setahun? Jawaban singkat mereka, ya inilah ajaran puyang. Tidak ada yang berani melanggar karena hasilnya tidak akan bagus.

Benarkah itu semata-mata ajaran puyang ? Saya coba telusuri melalui penjelasan ilmiah, terutama sisi ilmu pertanian. Fakta kemudian menunjukkan, bahwa daerah Semende Darat Ulu dan Tengah, berada di ketinggian mencapai 1.400 m dpl. Untuk daerah seperti ini, sinar matahari menjadi minim, kelembapan udara cukup tinggi dan curah hujan cenderung banyak. Padi lokal yang berbatang tinggi dan daunnya banyak, akan sangat baik tumbuh disini, karena memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan sinar matahari dalam jumlah banyak. Sebaliknya, padi jenis unggul yang berbatang pendek, sulit tumbuh baik karena minim dalam penyerapan sinar matahari. Sementara tanaman padi butuh sinar matahari. Oleh karena itu, jika mencoba mencanangkan program padi 3 kali setahun di daerah ini, dipastikan tidak akan berhasil. Inilah kiranya makna ajaran puyang versi warga Semende tadi.

Selain itu, jawaban ringkas dari warga juga bisa dijadikan acuan bahwa, “jika kami bersawah tiga kali setahun, kapan lagi nak ngurusi kopi, habis oleh padi saja waktu.” Ini punya makna dalam, yaitu sistem pertanian multikultur dan ketahanan pangan. Sejalan pula dengan filosofis padi bagi warga Semende yaitu sebagai tanaman simbol kesejahteraan dan kekuasaan dalam sebuah keluarga. Padi bukanlah komoditas dagang, tapi lambang ketahanan pangan sebuah keluarga. Sebaliknya, kopi justru adalah tanaman komoditas ekonomis, untuk diperjualbelikan. Orang Semende sering berseloroh, “kalau nak beli TV atau motor, buatlah kebun kawe (kopi), jangan jual padi.”

Dua hal pokok di atas, hanya akan ditemukan di desa. Saya yakin desa-desa lain punya gagasan dan kebiasaan yang hampir sama, yaitu punya mekasnisme tersendiri untuk bertahan hidup, dalam kondisi apapun. Tumpuannya adalah pada alam semesta, lingkungan hidup disekitar mereka. Karenanya, memperlakukan alam dengan baik, adalah kunci bertahan hidup bagi orang desa. Disinilah menjadi jelas makna komunikasi lingkungan bagi orang desa, yaitu memahami realitas lingkungan sebagai satu kesatuan dengan masyarakat dan itu senantiasa diwariskan ke generasi berikutnya.

Sekali lagi, semua itu hanya bisa ditemukan di desa, tempat asal mula manusia di negara ini. Kita tentu menjadi sangat prihatin jika banyak di antara generasi muda saat ini, yang enggan dan bahkan alergi untuk masuk ke desa. Sebagaimana contoh di awal tulisan ini, mahasiswa yang enggan ke desa, pada akhirnya akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan menara gading, tidak paham dengan realitas sosial, sibuk dengan ilmunya sendiri. Ilmuwan yang melawan pesan dari nenek moyangnya sendiri bahwa ‘Alam Terkembang Jadikan Guru.”

Oleh  Dr. Yenrizal, M.Si.
Akademisi Komunikasi Lingkungan, UIN Raden Fatah

Comments

comments