• Home »
  • BERITA »
  • Bangun Industri Desa Selamatkan Bangsa, Resensi Buku Hermen Malik

Bangun Industri Desa Selamatkan Bangsa, Resensi Buku Hermen Malik

Hermen Malik, Ph.D.

bangun-industri-desa

 

RESENSI BUKU

Judul Buku                          : Bangun Industri Desa Selamatkan Bangsa

Penulis                                 : Hermen Malik, Ph.D.

Penerbit                               : IPB Press

Cetakan Pertama               : Maret 2015

Tebal Buku                          : 408 halaman + xxvi halaman

Pengantar                           :

  • Andrinof Chaniago  (Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas)
  • Marwan Jafar (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi)

 

PADA buku Bangun Industri Selamatkan Bangsa, penulisnya, Hermen Malik PhD, Bupati Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, periode 2010 – 2015, menyoroti diskursus pembangunan perdesaan. Herman berpendapat strategi pembangunan dengan pendekatan ekonomi selama ini, secara sepihak hanya melahirkan mesin produksi ekonomi. Akibatnya, eksistensi manusia kerap hanya dieksploitasi sebagai ‘mesin produksi.’ Platform pertumbuhan (growth-mania) dan model pembangunan-kapitalistik yang dibawa serta oleh modernisasi, justru menyebabkan ketimpangan dan ketidakadilan bagi masyarakat lapisan bawah.

Paradigma pembangunan yang terjadi selama ini cenderung berkembang dengan cara jalan pintas (by-pass approach) yaitu kapitalisasi sector produksi tanpa ada tinjauan aspek social budaya masyarakat sehingga dengan adanya perubahan paradigm tersebut menciptakan missing link dalam pelaksanaan pembangunan dari satu periode ke periode lain.

Realitas kebijakan pembangunan di bidang ekonomi cenderung memanjakan kaum konglomerat dan tidak memihak atau memprioritaskan kepada kelompok usaha kecil-menengah-koperasi, keunggulan-keunggulan daerah, serta ekonomi perdesaan.

Strategi ISI (Industrialisasi Subsitusi Impor) yang diterapkan Pemerintah Orde Baru sangat tersentralisasi. Hal ini dapat dilihat dari sebaran industri manufaktur, dimana lebih dari 80 persen industri manufaktur Indonesia berlokasi di Pulau Jawa. Sekitar 12-13 persen di Sumatera dan sisasnya (antara 7 hingga 8 persen) berada di wilayah lainnya. Strategi industrialisasi substitusi impor ini diterapkan Indonesia hingga pertengahan dekade 1980.

Dari jumlah 29 juta penduduk miskin Indonesia tahun 2013, sebanyak 18 juta adalah penduduk miskin yang tinggal di perdesaan. Penurunan laju penduduk miskin di perdesaan lebih lambat dari pada di perkotaan, dimana persentase penduduk miskin di perkotaan hanya ada 9,23 persen. Sedangkan di perdesaan ada sebesar 15,72 persen penduduk miskin.

Di sisi lain, ada perubahan dalam solidaritas masyarakat desa yang menjadi lebih organis dan formalistik. Nilai-nilai kemanusiaan dan social seperti gotong royong, persaudaraan, suka berbagi, saling peduli, saling akrab, dan sebagainya menjadi hilang dan tergantikan menjadi sistem mesin. Masyarakat desa yang dulunya bekerja di sawah, kini bekerja di pabrikan. Mereka yang awalnya hidup di desa, kini berbondong-bondong pergi ke kota. Bahkan, pembangunan kota menjadi standar kesuksesan.

Sumber daya alam di Indonesia yang sangat besar selama ini dikelola dengan kurang bijak yang merupakan bukti keserakahan eknomi kapitalis yang hanya bermanfaat bagi segelintir orang, sementara dampak negatifnya merugikan masyarakat dan lingkungan. Pembangunan kawasan industri seringkali mengurangi luas areal pertanian produktif dan juga mencemari tanah dan badan air. Sampai saat ini, areal yang berpotensi untuk pertanian yang sudah dibudidayakan sebesar 47 juta hektar, sehingga masih tersisa 54 juta hektar yang berpotensi untuk perluasan areal pertanian.

Padahal, masyarakat Indonesia sejatinya kaya dengan tradisi, budaya, dan local wisdom, seperti kesederhanaan, ketulusan, kejujuran, tidak serakah, asketis, kreativitas, produktivitas, kesungguhan, keuletan, menjunjung tinggi tradisi dan sejenisnya.

Secara historis, Indonesia adalah Negara agraris mengingat sebagian besar masyarakatnya hidup dari sector pertanian.Sejarah mencatat, sector pertanian pernah menjadi primadona (leading sector) perekonomian Indonesia yang menyumbang lebih dari 70 persen PDB (Pendapatan Domestik Bruto) dan penciptaan lapangan kerja yang luas. Tak adanya visi pembangunan jangka panjang menyebabkan sector ini meredup. Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, pemerintah melakukan proteksi berlebihan terhadap sector industry, akibanynya kontribusi sector pertanian terhadap PDB merosot tajam.

Sementara, beberapa tahun belakangan, dunia mengalami krisis pangan dimana krisis pangan kali ini menjadi krisis global terbesar abad 21, yang menimpa 36 negara di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia sebagai Negara agraris mengalami masalah krisis pangan terkait dengan masalah pembangunan perdesaan dan sector pertanian.

Mempertimbangkan ragam dan besarnya ancaman yang menghadang, Indonesia jelas memerlukan upaya sistematis, integrative dan lintas jalur untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Pembangunan pertanian ke depan harus diarahkan pada upaya peningkatan kemandirian pangan sebagai langkah transisi menuju tercapainya kedaulatan pangan. Membangun kedaulatan pangan dapat dilakukan melalui peningkatan produksi pangan dan diversifikasi konsumsi, disertai pembangunan perdesaan terpadu.

Industrialiasi Perdesaan

Makna praktis industrialisasi di perdesaan adalah memajukan tenaga yang rendah produktivitasnya di perdesaan agar menjadi lebih produktif sesuai dengan permintaan efisiensi modernisasi, dapat diakses secara massal karena berlimpahnya tenaga kerja di perdesaan, dan upaya meningkatkan kualitas dan daya saing produk industri desa.

Menggerakkan industri desa merupakan salah satu factor penting dalam mekanisme perkembangan dan pertumbuhan ekonomi perdesaan. Kaitan pengembangan perdesaan dengan kegiatan industry merupakan proses yang simultan. Kebijakan pembangunan dengan menggerakkan industry desa dipandang tepat dan strategis dalam rangka pembangunan potensi perdesaan.

Pengembangan ekonomi perdesaan adalah suatu proses yang mencoba merumuskan kelembagaan-kelembagaan pembangunan di perdesaan, peningkatan kemampuan sumber daya manusia untuk menciptakan produk-produk unggulan yang lebih baik, pencarian pasar, alih pengetahuan dan teknologi, serta pembinaan industry kecil dan kegiatan usaha pada skala lokal.

Seiring dengan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, preferensi konsumen terhadap produk industrialisasi perdesaan mengalami perubahan mendasar. Atribut produk industri perdesaan ke depan harus mengikuti pasar humanistic dimana suatu produk industri perdesaan akan dievaluasi baik dari segi atribut yang dikandungnya (produk akhir), dari proses serta material pembuatannya, maupun dari segi penanganannya sejak dari hulu (petani) hingga ke hilir (agroindustri).

Industrialisasi di perdesaan harus sejalan dengan spiritualitas dan religiusitas, sebagai pilar tumbuh berkembangnya etika, estetika, etos kerja, dan kreatifitas masyarakat. Strategi agro-industri, bio-industri, industri kreatif, klaster industri desa, yang ditopang oleh Techno Park dan Science Park akan meningkatkan produktifitas, menciptakan kreatifitas, memperluas lapangan kerja, dan dapat memanfaarkan sumber daya alam secara lestari.

Dengan memfokuskan paradigma pembangunan yang berbasis transendentalisme, humanism, keadilan, harmonisasi alam, kearifan lokal, dan keseimbangan ekonomi desa-kota inilah yang diyakini bisa menyelamatkan bangsa dari gempuran industrialisasi kapitalis-liberalis.

Strategi Pembangunan Desa di Kaur

Hermen Malik berpandangan bahwa pembangunan di Kabupaten Kaur, Bengkulu harus diarahkan pada pembangunan perdesaan yang komprehensif berbasis pada pertanian berkelanjutan sesuai dengan budaya dan kearifan lokal Kaur. Pembangunan pertanian yang dilaksanakan selama ini lebih banyak dikonsentrasikan pada kegiatan produksi atau budidaya, melalui pemanfaatan kekayaan sumber daya alam (on-farm) khususnya tanaman pangan.

Sementara pembangunan pertanian pada sisi off-farm (seperti pengembangan industri hulu pertanian, industri hilir pertanian, kegiatan pemasaran, serta jasa-jasa pendukungnya) masih kurang mendapat perhatian yang memadai.

Pengembangan agroindustri di perdesaan Kabupaten Kaur harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar, yaitu memacu keunggulan kompetitof produk serta komparatif wilayah Kaur, memacu peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan menumbuhkan agroindustri yang sesuai dan mampu dilakukan di wilayah yang dikembangkan, memperluas wilayah sentra-sentra agribisnis komoditas unggulan yang nantinya akan berfungsi sebagai penyandang bahan baku yang berkelanjutan, memacu pertumbuhan agribisnis wilayah dengan menghadirkan subsistem-subsistem agribisnis, dan menghadirkan sarana pendukung berkembangnya industri perdesaan di Kabupaten Kaur.

Berdasarkan berbagai penelitian dan tinjauan kebijakan pengembangan sektor pertanian, revitalisasi pertanian melalui pengembangan agroindustri di kawasan perdesaan merupakan pilihan yang strategis untuk menggerakan roda perekonomian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan. Ini dimungkinkan karena agroindustri dpat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, mengingat sifat industri perdesaan yang padat karya. Namun, pengembangan agro industri di kawasan perdesaan di Kabupaten Kaur menghadapi beragam kendala, terutama kendala sumber daya manusia.

Pada buku ini, Hermen Malik, menuangkan pemikirannya bahwa sebenarnya masyarakat desa memiliki kesadaran kritis, kreativitas, inovasi, dan etos kerja. Dan desa menjadi ruang spasial dimana industry sejalan dengan kearifan-kearifan budaya. Masing-masing desa punya potensi dan itulah yang akan digali. Dan orang-orang desa akan dilatih, dididik, hingga betul-betul mandiri. Menguasai mesin-mesin dan segala macam teknologi. Orang-orang tidak akan dicerabut dari akar-akar kulturalnya, tetapi pada saat itu juga akan dibangkitkan agar mampu mengejar Negara-negara maju yang sudah berlari.

Biarpun mereka tinggal di lereng-lereng bukit, pedalaman hutan, pinggir-pinggir pesisir, tetapi tingkat penghasilan ekonominya setara dengan penghasilan kota yang tinggi. Melalui strategi industrialisasi perdesaan, semua itu adalah keniscayaan, bukan sekedar mimpi-mimpi.

Agro-industri, bio- industry, klaster industry, science park, techno park, dan semua konsep hanya bertujuan satu hal saja, memberdayakan desa dan orang-orangnya, meningkatkan kesejahteraan mereka setara orang-orang kota, supaya pembangunan nasional tak buta sebelah mata. Inilah inti gagasan yang ditulis oleh Hermen Malik di dalam buku ini. (ICN)

 

Comments

comments