Puasa Dan Budaya Malu

Tabloid-DESA.com – Puasa adalah ibadah rahasia, dan hanya kita pribadi yang mengetahui antara kita dengan Allah. Mungkin kita bisa berpura-pura puasa di hadapan anak-anak atau isteri dirumah, dengan cara mengeringkan bibir dan seakan-akan lapar. Tetapi hati nurani pasti memberontak dan menghina pribadi kita. 

Ada yang berpendapat, ibadah hanya dapat dilakukan oleh mereka yang berkecukupan? Boro-boro puasa ramadan, setiap hari saja makan cuma sekali lantaran tidak sanggup untuk membeli makanan yang baik untuk disantap bersama keluarga. Apakah tidak sebaiknya kita sekeluarga berpuasa saja, karena toh makannya juga sehari sekali?

Bagaimana kita yang sehari-hari menjadi petani? Mencangkul tanah disawah, memanjat pohon aren, berpanas diterik matahari menanam berbagai sayur dan kebutuhan pokok lainnya? Atau bagi masyarakat buruh di perkotaan yang setiap hari bekerja membanting tulang dengan mengharapkan upah? Ah, Tuhan juga tahu kalau kita tidak sanggup puasa karena kita juga tidak kuasa menahan haus dan lapar. Itu bukan alasan untuk tidak berpuasa, bukankah setiap apapun bentuk kegiatan yang kita lakukan merupakan ibadah?

Tidakkah kita malu pada anak-anak kita yang secara serius kita paksakan untuk berpuasa. Tidakkah sering kita lontarkan nasihat, “ayo nak, cukuplah bapak yang jadi begini, harusnya ananda lebih baik hidupnya. Ayolah nak berpuasa, semoga nantinya ananda bisa menjadi penyelamat bapak diakhirat, kalau engkau jadi anak sholeh”.

Sebagai orang tua, tentu nasihat ini sering kali terdengar. Tapi apa jadinya jika contoh dan tauladan itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Menyuruh anak sholat, sementara orang tua sendiri tidak pernah terlihat sholat. Menyuruh anak puasa, tetapi kita sendiri tidak pernah berpuasa. Tidakkah malu harusnya membuat sadar, ada tugas dan kewajiban kita yang berbanding searah antara kehidupan dunia dan tugas kita untuk menjalankan perintah Tuhan.

Diwarung kopi yang dipenuhi warga, sering kali terdengar pembicaraan. “Ah, biarlah sekarang saya belum sholat,mengaji, atau berpuasa. Karena itukan tugas mereka yang sudah bau tanah, kalau usia saya sudah 60 tahun baru akan mengerjakannya”. Tidakkah kita kemudian merasa menjadi orang aneh, karena tiba-tiba saja rajin ke mesjid untuk melaksanakan sholat 5 waktu. Godaan juga akan datang dari teman-teman yang bilang, “eh, sadar nih. Kayaknya sudah masuk 40 hari dari kematian,”ujar seorang teman sambil mengejek.

Puasa, sholat, mengerjakan perbuatan baik, menolak segala perbuatan yang munkar, merupakan tindakan diri pribadi. Tidak ada alasan kita sholat untuk disaksikan oleh teman-teman, mertua, orang tua atau anak-anak kita. Mereka hanya menjadi motivasi untuk berbuat baik, namun intinya segala bentuk ibadah tersebut untuk mencapai ridho Tuhan.

Tidakkah kita mengetahui bahwa, saat berpuasa segala pekerjaan yang kita lakukan akan sepenuhnya mendapat perhitungan pahala dari Allah? Setiap cangkul yang mengelupaskan tanah  akan memperoleh pahala, setiap kayuhan pedal becak juga mendapatkan pahala, bahkan tidurnya orang berpuasa pun mendapatkan pahala. Jadi tidakkah kita malu pada diri sendiri kalau kita tidak berpuasa? Marhaban Ya Ramadan.

Comments

comments